Pemerintah Libatkan Milenial untuk Kembangkan EBT
ASKARA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral membuka peluang bagi generasi milenial untuk terlibat aktif dalam menjawab tantangan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).
Partisipasi ini diharapkan dapat membantu misi pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca, bauran EBT hingga peningkatan rasio elektrifikasi.
"Kami harapkan kegiatan semacam ini dapat melibatkan anak-anak muda yang kreatif untuk mengembangkan model bisnis EBT yang dapat diimplementasikan," kata Direktur Konservasi Energi Hariyanto mewakili Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dalam launching Hackathon by New Energy Nexus.
Menurutnya, akselerasi pencapaian target tersebut terutama pembangkit EBT offgrid di wilayah terpencil tidak cukup hanya dibebankan kepada pemerintah baik pusat maupun daerah secara mandiri.
"Di samping keterbatasan pendanaan adalah masalah keberlanjutannya," ujar Hariyanto.
Untuk itu, peran swasta dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) pun dinilai pemerintah cukup krusial. Terobosan ini patut dilakukan mengingat masih tingginya biaya investasi awal untuk proyek berbasis ramah lingkungan tersebut.
"Keterlibatan BUMD dan BUMDes sebagai perusahaan lokal juga penting," kata Hariyanto.
Hariyanto berharap peran pemuda dalam menyebarkan informasi dan pengetahuan EBT melalui media sosial, mengubah kultur atau kebiasaan hemat energi pada peralatan elektronik sehari-hari guna mendukung program konservasi energi, memberikan dukungan atas progam pemerintah dalam pengembangan EBTKE hingga menggali pengetahuan tentang teknologi pengembangan EBTKE di masa depan.
Indonesia punya potensi besar dalam pengembangan EBT. Beberapa sumber energi yang bisa dioptimalkan, antara lain surya (207,8 Giga Watt atau GW), air (75 GW), bayu/angin (60,6 GW), bioenergi (32,6 GW), panas bumi (23,9 GW), dan samudera (17,9 GW).
Pada kesempatan yang sama, Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Surya Darma menggarisbawahi pentingnya EBT sebagai kultur global baru sebagai sumber energi.
"Tren dunia sekarang mengalihkan penggunaan energi fosil ke energi terbarukan. Ini akan mengubah pola sikap, pola hidup, pola manajemen," kata Surya.
Dia mengungkapkan, penggunaan EBT di dunia akan mengalami lonjakan hingga 50 persen pada 2025 dan meningkat ke 80 persen di tahun 2050.
"Ini bukan hanya sebagai tantangan, tapi juga peluang karena Indonesia memiliki (sumber) EBT yang komplit dibandingkan negara lain," jelas Surya.
Hackathon New Energy Nexus merupakan hackathon pertama Nexus yang diselenggarakan di Indonesia. Dengan mengusung tema energi pintar dan terbarukan, [RE]energize Indonesia, Nexus membuka kesempatan bagi tiap individu maupun tim mencari solusi berbasis EBT dalam menyelesaikan permasalahan di bidang kesehatan dan produktivitas masyarakat.
Pendaftaran secara daring program hackathon ini dibuka mulai 24 September hingga 10 Oktober 2020. Sepuluh tim yang terseleksi akan mempresentasikan solusinya pada demo day dan mendapatkan bimbingan dari enam ahli di bidangnya untuk menajamkan inovasi yang mereka usung. Pemenang hackathon akan meraih total hadiah sebesar Rp 100 juta dan mendapatkan akses ke program Smart Energy Incubation and Acceleration. (industry)

Komentar