Adu Kekuatan Angkatan Laut China Vs Amerika Serikat di Laut China Selatan
ASKARA - Situasi di Laut China Selatan (LCS) makin memanas. Mesin perang dua kekuatan raksasa, China dan Amerika Serikat sudah saling berhadapan.
Moncong meriam kapal perusak sudah mulai berasap. Sebab, kedua kekuatan sudah mulai berlatih untuk bersiap dengan keadaan terburuk.
Para analis militer memprediksi, jika Amerika Serikat yang telah menjadi kekuatan utama di laut selama puluhan tahun bakal mendapat tantangan berat dari China.
Setidaknya, kehadiran 3 kapal induk nuklir Amerika untuk latihan perang di LCS dipercaya menjawab sejumlah klaim sepihak yang dibuat China di laut itu.
Pensiunan kapten Angkatan Laut Amerika yang pernah memimpin kepala intelijen di Armada Perang Pasifik, James Fanell mengatakan, kalau modernisasi angkatan laut China pantas diperhitungkan.
Sebab, tak ada yang memungkiri sejak 1990-an, China sudah membuat armada perangnya kian berkembang pesat.
Setidaknya, tahun lalu Kementerian Pertahanan AS menyatakan rivalnya itu telah memiliki 335 kapal perang, kapal selam, kapal amfibi, kapal patroli, dan kapal peruntukan khusus lain per tahun lalu.
Nick Childs dari International Institute for Strategic Studies yang berbasis di London membandingkan produksi angkatan perang China di laut selama 14 tahun itu setara dengan seluruh kekuatan angkatan laut yang dimiliki Inggris dan Jepang digabung menjadi satu.
Spesialis Angkatan Laut, Ronald O’Rourke, mengatakan kapal perang dan persenjataan China kini sebanding dengan yang dimiliki negara Barat.
Namun, untuk kapal induk, Amerika Serikat masih dominan karena China saat ini hanya memiliki dua kapal pengangkut pesawat tempur itu.
Keduanya adalah Liaoning yang dioperasikan sejak 2012 dan Shandong yang merupakan produk 100 persen China pada akhir tahun lalu.
"Sebagai perbandingan, 11 kapal induk Angkatan Laut Amerika seluruhnya bertenaga nuklir, yang memberinya daya lebih besar daripada kapal konvensional," kata O'Rourke.
Kapasitas angkutnya juga bisa lebih dari 60 pesawat, sementara kapal induk Shandong hanya mampu membawa 40-an pesawat.
Sedangkan Angkatan Laut AS saat ini tercatat berkekuatan 293 kapal. Itu hanya bertambah dua dari yang dimilikinya 15 tahun lalu.
Memang ada ambisi Amerika Serikat untuk meningkatkannya menjadi 355 kapal tapi dianggap sejumlah analis tak linear dengan anggaran yang ada.
Armada kapal selam China, kebanyakan bertenaga diesel atau listrik, hal ini bisa menjadi ancaman bagi kapal-kapal perang maupun induk Amerika.
Badan Intelijen Pertahanan AS memperkirakan kalau Beijing memiliki hingga sekitar 70 kapal selam hingga tahun ini. Termasuk di antaranya adalah yang berkemampuan serang nuklir dan rudal balistik.
"Kapal selam China dipersenjatai rudal antikapal perang, torpedo, dan ranjau," kata O'Rourke menambahkan.
Untuk armada kapal selam, Amerika Serikat kini memiliki 69 kapal. Tak termasuk kontrak pembelian yang baru diteken untuk sembilan kapal selam kelas Virginia-class dengan kemampuan serang nuklir dan kapasitas rudal Tomahawk yang lebih besar.
Di permukaan laut, laporan Pentagon tentang China menyebut Beijing masih menjalankan program konstruksi kapal perang yang memproduksi armada baru antiserangan udara (guided-missile cruisers), antiserangan kapal perang (guided-missile destroyers) dan antikapal selam (guided-missile frigates).
"Banyak pengamat percaya China membangun kapal-kapal itu untuk mengawal dan mempertahankan klaim-klaim di Laut Cina Selatan," kata O’Rourke. (genpi)

Komentar