Cerbung
Rumah Kos Bekas Pesugihan (2)
ASKARA - Malam kedua aku terbangun dari tidurku. Terdengar suara seperti seseorang sedang menyapu halaman. "srek... srek... srek..." jam menunjukkan pukul 00.00 WIB.
"Siapa tengah malem kayak gini nyapu halaman?" ujarku dalam hati. Karena rasa penasaranku, aku bangun baranjak dari tempat tidurku lalu keluar kamar dan jalan menuju ke pintu depan. Aku mengintip dari balik jendela, kusibakkan selambu agar aku bisa melihat ke luar dengan jelas. Namun gak ada siapa-siapa di sana. Mataku menerawang mencari-cari suara seseorang yang menyapu halaman tetap saja tak kutemukan siapa-siapa di sana.
Aku tersentak kaget jantungku mau copot berasa loncat sampai tenggorokan. Ketika tiba-tiba ada jari tangan memegang bahuku. Sontak aku langsung menoleh ke belakang. Kulihat wajah putih dengan rambut panjang acak-acakan dan sebagian ke depan menutupi wajah. "Aaa...." aku berteriak sekencang-kencangnya "huaaaa..." orang yang ada di depanku juga teriak. Tiba-tiba lampu menyala.
"Ada apa sih berisik sekali," ujar Muh sambil berdiri melihatku.
"Ada apa?" sahut Ani. Sigit pun keluar. "Gak tau itu mereka berdua ngapain teriak-teriakan woy udah malam kau kira ini di hutan?" ujar Muh dengan nada marah.
Aku melihat orang yang ada di depanku. "Ini si Ifa nih ah ngagetin orang aja, tiba-tiba muncul di belakangku udah mukanya putih rambut acak-acakan kayak kuntilanak aja." jawabku kesal.
"Lah lagian kamu ngapain malam-malam ngintip-ngintip ke luar? Aku kan cuma mau nanya baik-baik malah teriak," ujar Ifa.
"Terus kamu ngapain teriak Fa?" tanya Ani.
"Subuh teriak, ya aku ikutan teriak lah."
"Kaget aku, liat mukanya kayak gitu," jawabku sambil mencolek muka Ifa.
"Udah balik ke kamar kalian masing-masing. Ganggu orang tidur aja," sahut Sigit.
"Tau tu Subuh tu, ah bikin maskerku pecah aja," gerutu Ifa sambil jalan menuju kamarnya. Di susul sama teman-teman yang lain. Sedangkan aku masih berdiri tertegun di pojok pintu. Sekali lagi kusibak selambu dan kulihat ke luar namun gak ada siapa-siapa. "Ah mungkin aku cuma berhalusinasi,' gumamku sambil jalan dan mematikan lampu ruang tamu, aku kembali ke kamarku.
Hari ini pulang kerja Ani dan Ifa mau pulang kampung besok tanggal merah bulan Suro.
"Buh kamu gak mudik ? "
"Enggak, males aku pasti bisnya rame ogah banget kalau harus berdiri gak dapet tempat duduk."
"Oh yaudah aku pulang dulu ya."
"Oke hati-hati."
Ifa keluar dari kamarnya." An ayo barengan ke terminalnya." Ani menganggukkan kepala. "Duluan ya Wahyu," ujar Ifa.
Aku mencecap minuman di tanganku. "hmm" ujarku sambil menganggukkan kepala." Hati-hati di jalan kalian."
"Yok...," jawab mereka bersamaan sambil melenggang meninggalkanku.
Sekarang tinggal aku di rumah sendirian, sementara Sigit dan Muh belum pulang gak tau mereka pergi ke mana. Aku duduk di teras rumah sambil baca buku dan dengerin lagu dari ponselku. Sekitar 20 menit kemudian Muh dan Sigit datang. Sigit memarkirkan motornya.
"Tumben sepi rumah?" tanya Sigit.
"Iya Ani sama Ifa pulang kampung."
"Heh di sana itu nampan apaan?" ujar Muh. Aku dan Sigit menoleh ke arah yang ditunjuk Muh.
"Enggak tau," jawabku.
Muh jalan ke arah sumur . Dia penasaran dengan nampan yang diletakkan di bibir sumur. Aku dan Sigit mengikuti Muh jalan di belakangnya.
"Ini sesajen," ujar Sigit.
"Sesajen buat apa?" tanyaku.
"Ya mana aku tau."
"Nanya sama pemilik rumah yuk!" ujar Sigit.
"Yaudah ayo," jawab Muh.
Kami pun pergi ke rumah pemilik rumah yang jaraknya lumayan jauh dari rumah yang kami tinggali. Rumah si pemilik rumah kos yang kami tempati ini masih satu wilayah namun beda blok. Butuh waktu 20 menit jalan kaki untuk sampai ke rumah si pemilik rumah kos. Kebetulan kami ketemu beliau di jalan belum terlalu jauh dari rumah kos kami.
"Pak Ahmad!" Muh berteriak memanggil pemilik rumah yang kebetulan melintas di depan kami dengan motor maticnya. Si pemilik rumah itu berhenti dan putar balik ke arah kami.
"Ada apa dek?" tanyanya.
"Maaf pak kami mau tanya. Kok di sumur ada sesajen, itu sesajen buat apa ya pak?" tanya Muh.
Pak Ahmad tersenyum pada kami "Oh sesajen itu cuma sesajen simbolis aja untuk keselamatan. Di keluarga saya memiliki kepercayaan setiap malam Satu Suro rumah harus dikasih sesajen biar terhindar dari hal-hal buruk, kalau kakek saya dulu bilangnya biar terhindar dari pagebluk begitu dek."
"Oh begitu ya pak, kirain apaan," ujar Sigit.
"Ya sudah pak kami permisi maaf mengganggu perjalanan bapak. Pak Ahmad mau ke mana ini?"
"Saya mau pulang habis muter-muter. Maaf lo ya dek bapak gak minta ijin dulu sama kalian karena tadi di rumah gak ada orang ya bapak pikir kalian belum pada pulang kerja."
"Oh iya pak," jawab Muh sambil tersenyum. "Mari pak kami pulang dulu udah sore."
"Iya silahkan, bapak juga mau pulang."
Oke kami berpisah di sini. Kami bertiga kembali ke rumah kos sedangkan Pak Ahmad puter balik dan memacu motornya. Sampai di rumah, Muh kembali mendekati sesajen itu.
"Ngapain bang?" tanyaku. Moh menoleh ke arahku.
"Mau mengambil jajan pasarnya, laper aku. Lumayan kan buat ganjel perut."
"Ha? Emang boleh di ambil?"
"Emang siapa yang ngelarang?"
"Lah itu kan buat setan."
"Setan gak doyan jajan pasar, dia cuma doyan bunganya."
"Daripada basi di sini mending kan aku yang makan."
"Yaudah lah terserah," kataku sambil jalan masuk ke dalam rumah.
Sigit dan Muh masuk ke dalam rumah sambil membawa jajan pasar yang mereka ambil dari sesajen. Pas aku keluar kamar mereka lagi enak-enak makan jajanan pasar.
"Heh mau ke mana kamu?" tanya Muh.
Aku berhenti di depan mereka. "Mau keluar cari makan."
"Halah ntar aja nyari bareng kita, udah makan aja dulu ini jajan pasarnya. Habis solat Maghrib kita keluar nyari nasi goreng," ujar Muh sambil menyodorkan jajanan padaku.
"Gak papa ini dimakan?"
"Ya gak papa lah," jawab Sigit sedikit acuh, mulutnya masih penuh dengan makanan.
Aku duduk di samping Muh sambil memakan jajanan yang dia kasih. Beberapa menit kemudian terdengar suara adzan Maghrib berkumandang. Kami bubar, aku masuk ke kamarku untuk laporan sedangkan Sigit dan Muh mereka bilang mau mandi. Setelah Maghriban kami keluar untuk mencari nasi goreng yang perempatan yang tak jauh dari tempat tinggal kami. Muh naik motor sendiri sementara aku dibonceng sama Sigit. Muh jalan di depan kami. Sesampainya di penjual nasi goreng aku dan Sigit belok sedangkan Muh jalan lurus.
"Loh mau ke mana tu anak?" tanyaku. Sigit memarkirkan motornya. "Halah paling mau cari rokok atau apa."
Kami memesan nasi goreng tiga bungkus. Udah 10 menit Muh belum juga kembali. "Moh mana bang?" tanyaku.
"Gak tau telfon gih!" jawab Sigit.
Kukeluarkan ponselku, aku mencoba menghubungi Muh namun gak diangkat berkali-kali aku mencoba namun tetap saja gak ada jawaban.
"Gak dijawab," kataku.
"Mungkin HP-nya gak dibawa," ujar sigit. "Nah itu dia tu," sambil menujuk ke arah Muh.
Muh memarkirkan motornya lalu duduk di samping kami.
"Dari mana bang?" tanyaku. Namun Muh gak jawab raut wajahnya seperti sedang kebingungan.
"Udah kita pesenin tadi nasi gorengnya dibungkus," ujar Sigit.
Muh menoleh ke arah kami. "Berapaan?" tanyanya.
"Tujuh ribuan," jawab Sigit.
Muh mengeluarkan dompetnya lalu menghitung uang yang ada di dalam dompetnya. Dia nyodorin uang ke Sigit. Sigit pun menerima uang dari Muh dan menghitungnya. "Ini itu berapa? Banyak sekali?" ujar Sigit.
Moh terdiam sejenak, sedangkan aku hanya bisa melongo sambil bingung melihat tingkahnya yang aneh.
"Emang berapa tadi?" tanya Muh.
Sigit menarik nafas. "Tujuh ribuan Ganteng, kau ngasih kebanyakan lihat ini! Uang 10 ribuan tujuh lembar. Jadi kamu ngasih aku 70 ribu, bukan tujuh ribu gembel," Sigit kesal dan memukul pipinya Muh.
Muh menyeringai sambil garuk-garuk kepala. "Duh bingung aku heheh."
"Mbak, udah jadi nasi gorengnya," ujar si penjual.
Aku beranjak mengambil bungkusan nasi goreng. "Terima kasih pak," kataku sambil tersenyum.
Kami pun kembali ke rumah kos. Sambil makan kami ngobrol.
Wahyu Pujiningsih
(Pekerja swasta, pencinta alam, tinggal di Madiun)
Sebelumnya:
Rumah Kos Bekas Pesugihan

Komentar