Rabu, 17 Juni 2026 | 22:34
NEWS

Uji Coba Vaksin Covid-19 Masih Tunggu Izin

Uji Coba Vaksin Covid-19 Masih Tunggu Izin
Ilustrasi. (Industry)

ASKARA - Uji coba vaksin Covid-19 dari Tiongkok belum bisa dilakukan karena menunggu perizinan.

Ketua Tim Riset Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Kusnandi Rusmil mengatakan, perlu kehati-hatian dalam uji coba vaksin. Apalagi, uji coba dilakukan pada manusia.

"Ada beberapa tambahan pemeriksaan lagi yang diminta. Kenapa itu diminta karena ini penyakit baru, perlu hati-hati dan jangan sampai ada apa-apa. Prinsipnya agar penguji vaksin aman," ujarnya.

Uji vaksin merupakan pengujian fase tiga yakni pada manusia. Pengujian menjadi hal penting dalam pengendalian Covid-19 untuk memastikan vaksin aman. Pengujian fase pertama dan kedua sudah dilakukan di Tiongkok.

Rencananya, 1620 warga Kota Bandung akan dilibatkan untuk dalam uji vaksin. Pengujian dilakukan Fakultas Kedokteran Unpad bersama Bio Farma dan Sinovach Biotech.

Menurut Kusnandi, sejauh ini pengujian produsen vaksin pada manusia terdapat efek samping. Di antaranya mengalami diare, demam atau pnemunoia. Namun setelah ditelusuri, gejala tersebut tidak berkaitan dengan pemberian vaksin.

Manajer Lapangan Uji Klinis Vaksin Covid-19 Eddy Fadlyana mengatakan, pengujian dilakukan terhadap 1620 warga Bandung Raya.

"Sesuai dengan protokol jumlah subjek adalah 1620 orang yang berusia antara 18 sampai 59 tahun. Ini usia produktif. Dengan subjek sebanyak 1620 orang, penelitian ini akan dilakukan di Kota Bandung," kata Eddy.

Rumah Sakit Pendidikan Unpad Sukajadi, Balai Kesehatan Unpad kemudian empat puskesmas di Puskesmas Garuda, Puskesmas Dago, Puskesmas Sukapakir, dan Puskesmas Ciumbuleuit menjadi tempat pengujian vaksin.

"Setelah ada izin dari komite etik kami akan memulai merekrut subyek untuk pengujian. Vaksin ini terbuat dari virus yang sudah dimatikan tetapi virus yang dimatikan itu masih mempunyai daya untuk membuat antibodi. Sehingga kalau diberikan kepada orang-orang yang sakit berat ini tidak akan berbahaya. Berbeda Kalau vaksinnya yang hidup dilemahkan. Kalau kondisi seseorang itu sedang menurun maka virus yang lemah itu bisa menjadi aktif," papar Eddy.

Pada tahap awal, pengujian akan dilakukan terhadap 540 orang selama tiga bulan. Selain diperiksa keamanannya, juga untuk diperiksa tingkat imunogenisitas atau kekebalannya. Setelah tiga sampai enam bulan hanya akan dipantau keamanannya atau efikasi.

"Nanti ada kelompok yang mendapatkan plasebo dan kelompok yang mendapat imunisasi vaksin. Pada akhir penelitian, mereka yang mendapatkan plasebo akan mendapatkan vaksin Covid-19. Tentunya setelah diregistrasi di Badan POM," demikian Eddy. (kesatu) 

Komentar