Senin, 08 Juni 2026 | 12:56
NEWS

Pameran Seni Rupa Virtue, Semangat dan pemikiran Gus Dur

Pameran Seni Rupa Virtue, Semangat dan pemikiran Gus Dur
(AWCPH UI)

ASKARA - Memperingati satu windu usia Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH UI) diselenggarakan pameran seni rupa virtual berjudul virtue atau Kebajikan.

Selain untuk perayaan ulang tahun lembaga, pameran sekaligus sebagai respons terhadap wabah Covid-19 yang mengubah kehidupan masyarakat secara fundamental. 

Istri Almarhum Gus Dur Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menyampaikan pandangannya bahwa seni dapat mengasah kepekaan hati serta meningkatkan kualitas kemanusiaan dan kreativitas. 

"Amat dibutuhkan di tengah krisis akibat wabah atau pandemi," katanya dalam sambutan pembukaan pameran, Kamis (23/7).

Pameran melibatkan lebih 40 seniman dari berbagai generasi, kota dan negara seperti India, Jepang dan Australia. Beberapa di antaranya merupakan seniman terkemuka seperti Heri Dono, Nasirun, Tommy F Awuy, Jumaldi Alfi, Jumaadi, Erica Hestu Wahyuni, Putu Sutawijaya, dan banyak lagi. 

"Masing-masing seniman memiliki karakteristik tersendiri. Sehingga pameran ini menawarkan keragaman secara visual dan konseptual," ujar Hj Shinta Nuriyah.

Duduk sebagai kurator adalah peneliti di AWCPH UI yaitu Faisal Kamandobat dengan Nabilla F Fiandhini sebagai co-kurator. Mereka memilih tema virtue berdasarkan beberapa pertimbangan. 

"Pertama, tema ini merupakan konsep penting dalam pemikiran etika sejak zaman klasik hingga era kontemporer sekarang ini," jelas Hj Shinta Nuriyah. 

Di tengah situasi krisis akibat wabah, virtue berkaitan dengan kemampuan seseorang. Terutama para pemangku kebijakan mengambil sikap dan tindakan yang dianggap tepat sebagai bentuk tanggung jawab sosial.

Kedua, tema virtue memiliki kedekatan semangat dan pemikiran Gus Dur kerap mengambil risiko demi memperjuangkan etika dan moralitas diyakini kebenarannya dalam bidang spiritual keagamaan, politik ekonomi maupun seni budaya. 

"Tujuannya untuk mencipta tatanan kehidupan yang lebih baik dan manusiawi dengan terbitnya demokrasi dan keadilan, terutama pada masa setelah Orde Baru," terang Hj Shinta Nuriyah. 

Dalam pameran, para seniman mengetengahkan virtues (dalam arti plural bukan tunggal), sesuai latar belakang sosio kultural masing-masing. Sehingga memberi dimensi kosmopolitan dari tema.

Secara umum, para seniman berusaha mentransformasikan kearifan lokal masing-masing ke dalam format seni masa kini baik modern maupun kontemporer. Sehingga terasa aktual dan relevan dengan perkembangan zaman.

Berbeda dengan konsep virtue dan filsafat yang sering terkesan abstrak, virtue dalam seni tampil lebih konkret, segar dan menyenangkan. 

Komentar