Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:24
NEWS

Ziarah ke Makam Gus Dur Jadi Titik Balik Politik Pramono Anung: "Saya Yakin Pasti Menang"

Ziarah ke Makam Gus Dur Jadi Titik Balik Politik Pramono Anung:
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama Yenny Wahid pada acara Harlah ke-79 Muslimat NU di Masjid Istiqlal Jakarta, Sabtu (26/7/2025). (Dok. Diskominfotik)

ASKARA - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membagikan kisah spiritual yang menggetarkan hati di hadapan ribuan jemaah Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) saat peringatan Hari Lahir ke-79 Muslimat NU di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (26/7/2025).

Dalam sambutannya, Pramono menceritakan pengalaman religius yang menjadi titik balik perjuangannya saat mencalonkan diri di Pilkada Jakarta 2024. Kala itu, elektabilitasnya disebut nyaris nol persen. Di tengah ketidakpastian itu, ia mendapat saran dari Yenny Wahid, putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, untuk berziarah ke makam ayahandanya di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

"Dulu saya maju sebagai calon Gubernur Jakarta, surveinya 0 persen. Lalu saya datang ke Mbak Yenny, dan beliau bilang, ‘Mas, harus ke Tebuireng’,” tutur Pramono.

Pramono pun menuruti saran tersebut dan melakukan ziarah ke makam Gus Dur bersama sejumlah kerabat. Ia mengaku mengalami perubahan besar dalam dirinya usai memanjatkan doa di pusara tokoh besar NU tersebut.

"Begitu saya mendoakan Gus Dur, dan keluar dari sana, saya langsung yakin saya pasti menang,” ujarnya disambut tepuk tangan jemaah.

Tak hanya sebagai pengalaman politik, Pramono menyebut momen itu sangat berarti secara spiritual. Ia menegaskan kedekatannya dengan keluarga Gus Dur, termasuk Sinta Nuriyah dan Yenny Wahid, bukan sekadar simbolik, melainkan emosional.

Bahkan, Pramono menyebut hanya ada tiga perempuan yang pernah ia cium tangannya sebagai bentuk penghormatan mendalam: istrinya, Endang Nugrahani; Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri; dan istri Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid.

"Setiap kali bertemu Ibu Sinta, saya selalu mencium tangan beliau. Tangan depan, tangan belakang saya cium bolak-balik, karena saya tahu di situ letak doa dan keberkahan,” ungkapnya.

Gubernur Pramono juga menyampaikan komitmennya untuk mendukung penuh kiprah NU dan Muslimat NU di Jakarta. Salah satu bentuk dukungan nyata adalah pembangunan Perpustakaan Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, yang diinisiasi oleh Sinta Nuriyah.

"Ibu Sinta datang ke Balai Kota dua pekan lalu. Begitu beliau menyampaikan keinginan membangun perpustakaan Gus Dur, saya langsung minta seluruh jajaran mendukung penuh,” tegas Pramono.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga harmoni antara umara (pemimpin) dan ulama, serta peran strategis Muslimat NU dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan nasionalisme.

"Kalau Muslimat NU terjaga, NU juga terjaga. Kalau NU terjaga, republik ini aman,” tutupnya.

 

 

Komentar