Senin, 08 Juni 2026 | 08:57
NEWS

Psikososial Anak dan Remaja Juga Terganggu Dampak Covid-19

Psikososial Anak dan Remaja Juga Terganggu Dampak Covid-19
(Dok. BNPB)

ASKARA - Pandemi Covid-19 telah berdampak pada sebagian besar aktivitas masyarakat termasuk kelompok terkecil yaitu keluarga. 

Perubahan aktivitas sehari-hari bagi anak dan remaja tidak hanya berdampak pada aspek fisik mereka namun juga kesehatan jiwa karena perubahan-perubahan terjadi dalam waktu cukup cepat.

Pemerhati Kesehatan Jiwa Anak UNICEF Ali Aulia Ramly mengatakan, salah satu dampak pandemi pada anak dan remaja adanya pembatasan sosial yang diterapkan pemerintah untuk mencegah potensi penularan virus. 

Pembatasan sosial juga membuat anak dan remaja merasa bosan karena harus berdiam diri di rumah dan tidak bisa berinteraksi dengan teman-temannya.

"Tentu saja kebosanan terjadi ketika mereka harus berada di rumah dengan waktu yang sangat lama, tidak bisa bertemu teman-temannya. Ini sejumlah dampak yang wajar dan banyak terjadi pada anak," katanya dalam diskusi bertajuk Status Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja di Masa Pandemi di Graha BNPB, Jakarta, Senin (20/7). 

Bahkan pembatasan sosial menimbulkan rasa takut berlebihan pada anak dan remaja karena banyaknya informasi yang diterima tentang pandemi.

"Kita harap begitu banyak anak akan bisa pulih dan melihat kembali bagaimana mereka tidak terganggu situasinya dalam keadaan ini," tutur Ali Aulia. 

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan dr. Fidiansjah menjelaskan data dari Wahana Visi Indonesia tentang Studi Penilaian Cepat Dampak Covid-19 dan Pengaruhnya Terhadap Anak. 

Data menunjukkan bahwa terjadi ketidakmerataan akses terhadap fasilitas pendukung untuk pembelajaran daring maupun luring dialami anak yang sudah masuk usia sekolah. Sebanyak 68 persen anak dapat mengakses fasilitas pendukung selama masa pembelajaran namun terdapat 32 persen yang tidak mendapatkan program belajar dalam bentuk apapun.

"Dampaknya, anak harus mempunyai sistem belajar sendiri dan dampaknya 37 persen anak tidak bisa mengatur waktu belajar," beber Dokter Fidiansjah. 

"Ada 30 persen anak kesulitan memahami pelajaran. Bahkan 21 persen anak tidak memahami instruksi guru," tambahnya. 

Komentar