Salat Jumat di Singapura Daftar Dulu Lewat Online
ASKARA - Sebagai salah satu negara terdampak Covid-19 Singapura menerapkan protokol kesehatan yang ketat saat melaksakan Salat Jumat berjamaah di masjid.
Wakil Kepala Perwakilan RI untuk Singapura Didik Eko Pujianto mengatakan, Salat Jumat sempat ditiadakan sejak Maret akibat pandemi Covid-19. Akhirnya diperbolehkan kembali pertengahan Juni ini.
"Baru dibuka setelah circuit breaker di Singapura berakhir yaitu dimulai pada tanggal 15 Juni. Salat Jumat yang pertama kalinya dengan standar yang cukup ketat," katanya dalam telekonferensi BNPB, Sabtu (27/6).
Setiap jemaah wajib membawa sajadah masing-masing. Jika tidak membawa sajadah disiapkan oleh pengurus masjid sajadah dalam bentuk plastik yang bisa dibawa pulang.
Bahkan Salat Jumat digelar dua gelombang dengan setiap gelombang hanya 50 orang. Jemaah juga harus mendaftar terlebih dahulu melalui internet jika ingin Salat Jumat di masjid.
"Sebelum memasuki masjid itu daftar dulu online. Kemudian jumlahnya berapa, ditentukan. Kalau memang jumlahnya 100 berarti dua kali Salat Jumat," ujar Didik.
"Kalau jumlahnya tujuh puluh misalnya. Lima puluh boleh salat Jumat yang dua puluh salat Lohor biasa," tambahnya.
Pendaftaran Salat Jumat secara online berfungsi untuk mempermudah melakukan pelacakan jemaah.
"Setiap orang kemudian melakukan pendaftaran online, ada namanya shift entry, jadi pakai kode QR. Memasukkan nomor telepon, nama dan juga nomor IC. Itu ada tracking. Jika terjadi sesuatu bisa di-track di masjid itu ada berapa orang, siapa saja. Kemudian pada kloter ke berapa kalau melakukan Salat Jumat," jelas Didik.
Selain itu, pengawasan protokol kesehatan sangat ketat karena diawasi langsung oleh polisi. Bagi jemaah yang tidak menaati protokol kesehatan akan didenda.
"Polisi berhak memberikan denda bagi yang tidak pakai masker sebesar 250 dolar. Kalau jaraknya kurang dari satu meter diingatkan tapi kalau masih kedua kali langsung 250 dolar juga," tandas Didik.

Komentar