Pemerintah Siapkan Protokol Normal Baru Wisata di Pulau Pieh
ASKARA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Loka Kawasan Konservasi Perairan Nasional (LKKPN) Pekanbaru tengah menyiapkan protokol new normal ekowisata di Taman Wisata Perairan (TWP) Pulau Pieh.
Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL), Aryo Hanggono mengatakan, 5K yakni yaitu kebersihan, kesehatan, keselamatan, kenyamanan, dan kepuasan akan menjadi dasar penerapan normal baru untuk kawasan yang dikelola oleh LKKPN Pekanbaru ini.
"Sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 47 Tahun 2016 tentang Pemanfaatan Kawasan Konservasi Perairan, selain melindungi ekosistem dan jenis ikan di dalamnya, kawasan konservasi juga dapat dimanfaatkan untuk ekowisata sesuai dengan daya tampung dan daya dukung serta pemanfaatan ekowisata secara berkelanjutan," terang Aryo, Kamis (18/6).
Sementara itu, Kepala LKKPN Pekanbaru, Fajar Kurniawan mengatakan, selain menjadi habitat bagi ekosistem terumbu karang dan jenis ikan yang kaya, juga menjadi rumah bagi tiga spesies penyu, lima spesies lumba-lumba, dan tiga spesies paus.
"Sampai saat ini TWP Pulau Pieh telah dikunjungi oleh wisatawan dari 12 negara yang didominasi oleh wisatawan mancanegara seperti Malaysia. Atraksi wisata yang dilakukan meliputi diving, snorkeling, dolphin watching, turtle watching, survival dan island hopping," jelas Fajar.
Untuk memulihkan pariwisata di TWP Pulau Pieh akibat pandemi ini, Fajar menuturkan pihaknya akan menerapkan protokol normal baru secara terpadu sesuai dengan kebijakan yang sudah dikeluarkan oleh WHO, Pemerintah Pusat, dan Pemerintah Daerah.
"Konsep protokol yang disusun ini tidak hanya untuk mengatur wisatawan dan operator wisata saja tapi juga untuk seluruh pihak yang terlibat, termasuk kami selaku pengelola kawasan," katanya.
Diharapkan, seluruh pihak mendukung mempromosikan pariwisata TWP Pulau Pieh di masa normal baru sebagai cara menghidupkan kembali sektor pariwisata di Sumatera Barat, khususnya di TWP Pulau Pieh yang memiliki brand ‘to Conserve Minang Marine and Culture’ ini.

Komentar