Mampukah Kita Diam dan Hening Sejenak?
Tidak bisa dipungkiri pada saat pademi corona sedang merajalela ini, bukannya kita menjadi hening – diam, bahkan semakin gaduh bunyi hingar bingar manusia di kolong langit ini. Misalnya demo di USA atau dimana pun juga, belum lagi kegaduhan diantara sesama pejabat di Indonesia yang merasa dirinya paling pintar dan paling so bener untuk mengatur lockdown (isolasi).
Aneh bin nyata, banyak sekali orang yang mencari ketenangan hidup. Padahal untuk mendapatkan ini; kita tidak membutuhkan agama, pendidikan, pengetahuan, pengalaman, kepintaran, pencerahan maupun harta, tetapi kenyataannya sulit sekali untuk bisa mendapatkan "waktu maupun tempat"; dimana kita bisa merasakan saat- saat teduh, tenang maupun hening.
Hening itu adalah saat paling indah dimana semua orang pernah merasakan maupun mengalaminya sendiri ialah pada saat seorang ibu menyusui bayi kesayangannya. Kata hening dalam bahasa Jerman stille yang diserap dari kata stillen = menyusui, ialah pada saat sang ibu memberikan ASI terhadap bayi kesayangannya.
Dalam keheningan itulah akan terasakan hubungan ikatan kasih yang sangat besar sekali antara Ibu dan sang bayi. Keheningan ini pulalah yabg pada saat ini didambakan oleh Mang Ucup agar bisa terjalin hubungan yang lebih erat antara Tuhan dengan saya ialah pada saat kita berdoa.
Rumah ibadah entah di manapun juga pada saat sekarang ini saling berlomba untuk memperbesar - memperkeras bunyi speaker nya; entah itu di Gereja ataupun di Masjid seakan-akan Tuhan itu tuli! Beda dengan kaum quaker, mereka pergi ke rumah ibadah hanya sekedar untuk duduk tenang dan diam, tanpa ada khotbah, nyanyi apalagi musik.
Bukan air maupun bahan pangan saja yang akan menjadi barang langka di kolong langit ini, tetapi "Keheningan" pun sudah sukar sekali untuk bisa didapatkan. Lihat saja disekitar Anda, entah itu di rumah, di kantor maupun di jalan; adakah tempat hening ?
Kita baru akan bisa mendapatkan ketenangan sejenak, pada saat kita tidur, tetapi selain daripada itu; dari pagi sampai malam, tidak pernah bisa merasakan ataupun menemukan tempat yang tenang. Di kantor kita dikejar target maupun kesibukan kantor, berangkat dan pulang kantor selalu macet di jalan belum bunyi gaduh dari bunyi klakson.
Tiba di rumah langsung stel TV sedangkan pada saat weekend sekalipun kita tetap saja mencari tempat yang penuh dengan hingar-bingar, entah itu ke Mall ataupun jalan-jalan ke tempat wisata. Bahkan pada saat tidur sekalipun, HP tidak pernah mau di Off, seakan-akan kita ini membutuhkan bunyi dering HP.
Pada Jaman Now "Diam, Tenang dan Hening" itu sudah merupakan satu komoditi yang mahal dan langka. Maka tidaklah heran apabila ada lagu "Silence is Golden". Tanyalah sama diri sendiri, kapan terakhir kalinya anda bisa mendengar suara burung berkicau ataupun bunyi ayam berkokok di alam terbuka ?
Pernahkan kita bisa dan juga mampu untuk meluangkan waktu sejenak saja sambil duduk diam; misalnya untuk menikmati keindahan alam, ataupun keheningan pada saat mata hari terbit ataupun terbenam. Kapan kita bisa menikmati jernihnya air sungai atau mendengar bunyi gemericik air mengalir, ataupun mendengar desiran angin sambil melihat dedaunan maupun bunga-bunga yang bergoyang ditiup angin ?
Bagaimana menikmati hal-hal tersebut diatas, duduk tenang dengan relaks 10 menit saja sudah susah sekali dan tidak bisa lagi. Maka tidaklah heran agar bisa hening satu menit saja harus ada perintahnya dahulu misalnya pada saat kita diwajibkan untuk mengheningkan cipta sejenak.
Diam kadang-kadang bisa dirasakan juga sebagai satu siksaan atau hukuman misalnya pada saat kita didiamkan alias tidak diajak ngomong lagi oleh orang yang kita kasihi ataupun sahabat kita. Pengucilan atau siksaan seperti ini lazim juga disebut sebagai cara penyiksaan halus/bersih/putih (torture propre). Banyak sekali para tokoh spiritual menemukan pencerahan ketika mereka berada di dalam keheningan misalnya Sang Buddha Gautama ketika duduk di bawah pohon Bodi, Yesus ketika puasa di padang gurun, Muhammad S.A.W ketika di Gua Hira.
Hening bisa juga diartikan untuk melupakan sang ego atau sang aku sejenak oleh sebab itulah juga meditasi bisa digambarkan secara sederhana; meditasi itu adalah hening dan hening itu meditasi. Melalui keheningan otak maupun pikiran kita bisa istirahat dan dapat memulihkan kembali kondisi badan maupun kesehatan kita lihat saja pada saat kita tidur nyenyak.
Pada saat hening kita bisa charge pikiran maupun hati nurani kita sambil memberikan kesempatan kepada Tuhan untuk berbicara dengan kita. Pernahkan anda berdoa tanpa menjamah tasbih ataupun rosario ataupun Alkitab; hanya sekedar duduk hening diam saja; tanpa minta ini dan itu dari Tuhan? – Just try it!
Namun jawablah sendiri apakah anda butuh keheningan ataupun butuh rumah ibadah yang gaduh sambil nge-rock – ria? Please mohon saran dan kesannya !Maturnuwun sanget berkah dalem.
Mang Ucup
Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar