Rabu, 24 Juni 2026 | 23:34
OPINI

Filsafat KAUSALITAS

Filsafat KAUSALITAS
Ilustrasi filsafat kausalitas (Dok Askara)

Oleh: Jaya Suprana

ASKARA - Filsafat Kausalitas adalah cabang pemikiran yang menelaah hubungan antara satu peristiwa (sebab) yang memicu munculnya peristiwa lain (akibat). Secara sederhana, ini adalah prinsip bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi secara ujug-ujug  tanpa ada alasan atau pemicu di belakangnya. Mengenai apakah semua benda di alam semesta niscaya memiliki sifat sebab-akibat, ada dua sudut pandang yang saling frontal berhadapan:

1. Pandangan Klasik & Determinisme (Semua Pasti/ Terikat)

Para filsuf seperti Aristoteles dan Spinoza percaya bahwa alam semesta bekerja seperti jam mekanik yang sangat presisi.

  1. Hukum Alam: Setiap benda fisik tunduk pada hukum fisika. Jika Anda melempar batu, ia jatuh (sebagai akibat) karena gravitasi (sebagai sebab). Namun masalah menjadi “agak laen” jika batu dilempar di angkasa luar di mana tidak ada gravitasi.
  2. Rasionalitas: Sesuatu tidak mungkin muncul dari ketiadaan (Ex nihilo nihil fit).

Jadi keberadaan sebuah benda itu sendiri adalah "akibat" dari proses sebelumnya (seperti atom yang menyatu).

2. Pandangan Skeptisisme & Fisika Kuantum (Belum Tentu/Ragu)

Di sisi lain, ada kritik tajam terhadap keniscayaan kausalitas:

  1. David Hume: Ia berpendapat bahwa "sebab-akibat" hanyalah kebiasaan mental manusia. Kita melihat api lalu merasakan panas berkali-kali, sehingga otak kita menyimpulkan ada hubungan sebab-akibat. Padahal secara logika, kita tidak bisa membuktikan secara absolut bahwa besok api pasti akan panas.
  2. Fisika Kuantum: Di level subatomik, beberapa kejadian (seperti peluruhan radioaktif atau perilaku elektron) tampak bersifat acak (probabilistik), bukan deterministik. Artinya, ada peristiwa yang seolah terjadi tanpa "sebab" yang pasti dalam pengertian tradisional.

Kesimpulannya: Secara makro (benda yang kita lihat sehari-hari), prinsip sebab-akibat tampak absolut dan tak terelakkan. Namun, di level filosofis mendalam dan fisika partikel, konsep "keniscayaan" ini masih menjadi perdebatan hebat karena adanya unsur ketidakpastian.  Jika kita sepakat bahwa setiap benda dan peristiwa di alam semesta memiliki sebab-akibat yang pasti (determinisme), maka konsep kehendak bebas (free will) menjadi sangat terancam.  Berikut adalah benturan logikanya:

1. Dilema Determinisme (Tidak Ada Pilihan)

Jika setiap tindakan Anda hari ini adalah akibat dari serangkaian sebab di masa lalu (genetik, lingkungan, pola asuh, hingga reaksi kimia di otak), maka sebenarnya Anda tidak punya pilihan.

Analogi: Anda memilih minum kopi pagi ini bukan karena "ingin", tapi karena otak Anda dipicu oleh kafein, kebiasaan, dan kondisi fisik saat itu yang sudah diatur oleh rantai sebab-akibat sebelumnya. Implikasi: Jika semua sudah "teratur" oleh sebab-akibat, maka takdir adalah garis lurus yang tidak bisa dibelokkan. Maka muncul paradoks: saya tidak percaya takdir adalah takdir saya untuk tidak percaya takdir.

2. Kompatibilisme (Jalan Tengah)

Beberapa filsuf mencoba menyelamatkan kehendak bebas dengan argumen ini: Anda tetap bebas selama Anda bertindak sesuai dengan keinginan Anda, meskipun keinginan itu sendiri punya "sebab".  Jadi, meski pilihan Anda dipicu oleh masa lalu, saat Anda melakukannya tanpa paksaan dari luar, itu tetap dianggap sebagai kebebasan.

3. Masalah Moral dan Tanggung Jawab

Ini adalah bagian yang paling berat. Jika sebab-akibat itu mutlak (niscaya): Apakah seorang penjahat bersalah jika tindakannya hanyalah "akibat" dari trauma masa kecil atau kerusakan saraf (sebab)? Tanpa kehendak bebas, konsep pahala, dosa, hukuman, dan penghargaan menjadi bias karena semua orang hanya menjalankan "skenario" sebab-akibat yang sudah ada.

4. Jawaban dari Indeterminisme

Seperti yang disebutkan sebelumnya, adanya ketidakpastian di level kuantum memberi celah bagi sebagian pemikir untuk berargumen bahwa alam semesta tidak sepenuhnya kaku. Jika ada elemen "acak" di dasar realitas, maka rantai sebab-akibat yang kaku itu patah, dan ada ruang bagi kebebasan atau peluang baru yang tidak terprediksi.

Jadi, jika Anda percaya sebab-akibat itu niscaya seratus persen pasti, maka logikanya Anda harus menerima bahwa hidup ini adalah takdir yang sudah tertulis sejak awal alam semesta ada. Manusia wajib ikhlas menerima benar-benar murni dari diri sendiri atau hanya reaksi dari kejadian-kejadian sebelumnya.

Hubungan antara yang disebut sebagai Karma dengan filsafat kausalitas adalah bahwa karma merupakan bentuk kausalitas moral. Jika kausalitas dalam sains menjelaskan mengapa benda jatuh atau api panas, maka karma menjelaskan mengapa manusia mengalami kebahagiaan atau penderitaan berdasarkan tindakan mereka. Di kebudayaan Jawa, karma bersifat negatif disebut sebagai Kualat.

 

Komentar