Rabu, 24 Juni 2026 | 23:33
OPINI

Keindahan Keburuk-rupaan

Keindahan Keburuk-rupaan
Umberto Eco seorang filosof Italia yang juga menulis non-fiksi “History of Beauty’’ dan padanan sebaliknya “On Ugliness” (Dok X-com)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Banyak orang kenal mahakarya novel Umberto Eco berjudul “The Name of Rose” diangkat ke layar lebar dengan pemeran utama tidak kurang dari  Sean Connery yang sebelumnya sudah tersohor sebagai pemeran James Bond. Namun tidak banyak yang tahu bahwa Umberto Eco seorang filosof Italia yang juga menulis non-fiksi semisal “History of Beauty’’ dan padanan sebaliknya “On Ugliness”.  Mahakarya Umberto Eco, "On Ugliness" (dalam Bahasa Indonesia: "Tentang Keburuk-rupaan dalam bahasa aslinya yaitu Italia : ”Storia della bruttezza”), adalah sebuah buku yang membahas tentang konsep keburuk-rupaan dan bagaimana masyarakat memandang keburuk-rupaan. Beberapa pemikiran Umberto Eco yang tertuang dalam buku ini antara lain adalah:

1. Keburuk-rupaan adalah lawan kata dari keindahan, dan bahwa keindahan hanya dapat didefinisikan dalam konteks keburukan.

2. Keburuk-rupaan adalah sebuah konstruksi sosial yang berbeda-beda dalam setiap budaya dan waktu. Miss Universe 1960 belum tentu menang di tahun 2026.

3. Keburuk-rupaan dapat menjadi sumber inspirasi bagi seniman dan penulis, karena dapat lebih potensial memicu emosi dan refleksi ketimbang kecantikan.

4. Keburuk-rupaan dapat digunakan sebagai kritik sosial, dengan menunjukkan kekurangan dan kelemahan dalam masyarakat.

5.  Keburuk-rupaan adalah bagian hakiki kehidupan, maka kita harus menerima dan menghadapi keburukan sebagai bagian dari pengalaman manusia.

6. Keburuk-rupaan lebih nisbi dan subjektif maka lebih fleksibel ditafsirkan ketimbang keburukan etika, moral dan hukum.

Pada hakikatnya “Storia della brutteza” adalah sebuah eksplorasi estetikal yang mendalam tentang konsep keburukan-rupaan, dan bagaimana masyarakat memandang keburuk-rupaaan. Buku ini adalah sebuah karya yang penting dalam memahami bagaimana kita memandang keindahan dan keburukan.

- Immanuel Kant: Filsuf Jerman yang membahas tentang keburukan dalam karyanya "Kritik der Urteilskraft", di mana ia menjelaskan bahwa keburukan adalah lawan keindahan.

- Friedrich Nietzsche: Filsuf Jerman yang membahas tentang keburukan dalam karyanya "Jenseits Gut und Boese", di mana ia menjelaskan bahwa keburukan adalah bagian dari kehidupan dan harus diterima sebagai bagian dari pengalaman manusia.

- Jean-Paul Sartre: Filsuf Perancis yang membahas tentang keburukan dalam karyanya ""L'Être et le Néant".", di mana ia menjelaskan keburukan adalah bagian dari eksistensi manusia dan harus diterima sebagai bagian dari kebebasan manusia.

- Simone de Beauvoir: Filsuf Prancis sohib Sartre yang membahas tentang keburukan dalam karyanya "Pour une morale de l'ambiguïté)", di mana ia menjelaskan bahwa keburukan adalah bagian dari kehidupan dan harus diterima sebagai bagian dari kebebasan manusia.

Di dalam karya Victor Hugo “ Si Bongkok dari Notre Dame” tokoh lebih utama adalah Quasimodo yang buruk rupa ketimbang Esmeralda yang cantik-jelita. Di dalam wayang purwa, Sukrasana sebagai adik Bambang Sumantri merupakan personifikasi keburuk-rupaan sekaligus kesakti-mandragunaan dan kesetiaan dalam makna terluhur.

Namun,  Umberto Eco memiliki pendekatan yang unik dan eksplisit fokus dalam membahas keburuk-rupaan, melalui jalur semiotika dan analisis kebudayaan. Maka jika ingin mempelajari lebih mendalam tentang apa yang disebut sebagai filsafat estetika keburuk-rupaan, Umberto Eco adalah satu di antara sekian banyak narasumber terbaik sepanjang masa.

 

 

Komentar