Konflik Rasisme Kembali Melanda AS Akibat Tewasnya George Floyd
ASKARA - Dunia geram atas kematian George Floyd dan memicu terulangnya konflik rasisme di Amerika Serikat.
Floyd tewas setelah lehernya ditekan oleh anggota polisi Minneapolis yang menangkapnya pada Senin (24/5).
Kejadian berawal ketika Floyd yang berusia 46 tahun ditangkap akibat dugaan berbelanja di toko swalayan menggunakan uang palsu.
Dalam video yang beredar, Floyd ditangkap dan diborgol hingga tengkurap di jalanan. Kemudian lehernya ditekan dengan lutut oleh petugas kepolisian hingga akhirnya tubuh Floyd tidak bergerak kembali. Setelah dibawa ke rumah sakit nyawanya tidak tertolong.
Kejadian itu memicu kemarahan dunia. Bahkan dari video yang diunggah Reuters memperlihatkan aksi protes. Massa tidak terima dengan pembunuhan warga kulit hitam oleh aparat kepolisian.
Nampak mobil-mobil dibakar hingga asap mengepul ke langit dan api yang masih menyala memantul dari dinding-dinding bangunan. Kondisinya nampak kacau.
Melansir AFP, Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet angkat bicara atas kejadian itu. Dia menyayangkan kondisi pembunuhan orang Afrika masih terjadi.
Pihaknya mendesak agar pemerintah AS segera bertindak tegas dan menghentikan pembunuhan orang-orang kulit hitam.
"Ini kejadian baru dari rangkaian panjang pembunuhan Afrika-Amerika dengan tidak bersenjata oleh kepolisian AS serta masyarakat," katanya, Jumat (29/5).
Bachelet juga prihatin bahwa akhirnya ada nama baru dalam pembunuhan Afrika-Amerika yang sebelumnya juga menimpa Breonna Taylor, Eric Garner, Michael Brown. Termasuk yang dibunuh dengan senjata api yakni Ahmaud Arbery dan Trayvon Martin.
"AS harus ambil langkah serius guna menghentikan pembunuhan seperti ini, dan pastikan keadilan segera ditegakkan," tegasnya.

Komentar