Gerbang Gaib Gunung Arjuno (4)
ASKARA - "Lah kan timbangane ribet, menowo bar diadusi awakmu sakti saudara,"
(Lah kan daripada ribet, kali aja habis dimandiin kamu sakti saudara) ujar Mamad sambil ketawa.
"Omong maneh tak sobek-sobek mulutmu loh."
(Ngomong lagi aku sobek-sobek mulutmu loh) kataku.
Mamad pun tertawa sambil pergi ninggalin kami, dia mulai asyik berfoto dan bikin vidio alay.
"Heh mas iku enek wong wedok gae klambi pink sopo lo? Neng alas kok gae gaun gak salah kostum a iku? Mosok iku ukhtie tapi kok gak hijab."
(Heh mas itu ada perempuan pakai baju pink siapa? Di hutan kok pakai gaun gak salah kostum? Masak itu ukhtie tapi kok gak hijab?) ujarku yang tiba-tiba ngelihat seorang perempuan sedang jalan-jalan.
"Uduk iku nek ukhtie Buh. Mbak'e iku paling pendaki seng isek newbie."
(Bukan itu kalau ukhtie Buh. Mbaknya itu mungkin pendaki yang masih newbie.) jawab Ozie.
Kami lihatin terus perempuan itu, dia jalan ke arah dua pohon cemara yang berjejer di sebelah timur gak jauh dari arca. Dia pun jalan ke arah situ dan pandangan kami terhalang pohon cemara, kami lihatin terus perempuan itu tapi gak muncul lagi yang muncul malah orang, semakin lama semakin banyak.
"Buh kok akeh wong mondar mandir neng kono eroh awakmu?"
(Buh kok banyak orang mondar mandir di sana lihat kamu?) ujar Ozi.
"Ho.oh, lha mbake mau endi lho kok gak metu-metu?"
(Ho.oh, mbaknya tadi ke mana kok gak keluar-keluar?) tanyaku.
"Gak eroh."
(Gak tahu.) jawab Ozie.
Temannya Pak Andik (maaf saya lupa namanya ) ikut kita duduk di tangga sepilar setelah keluar dari semak-semak. Sedangkan Mamad masih asik bikin vidio alay.
"Pak niku kayune mpon ditaleni,"
(Pak itu kayunya udah diikat) ujar Ozie
"Iyo le sek engko ae digowo neng shelter."
(Iya le nanti dibawa ke shelter) jawab temannya Pak Andik.
"Pak teng mriki kok katah tiang mondar mandir pak."
(Pak di sini kok banyak orang mondar mandir pak) kata Ozie .
"Awakmu ketok to le?"
(Kamu kelihatan to le?) tanya temannya Pak Andik.
"Enggeh pak."
(Iya pak.) jawab Ozie.
"Lha emange nopo lo pak niku kan emang katah tiang?"
(Emangnya kenapa pak? Itu kan memang banyak orang?) tanyaku.
"Neng kene iki mben banget jarene gon kene iki enek desone terus ajur mergo kenek musibah. Lha cemoro seng jejer dua iku gerbange. Jadi yo gak heran nek awakmu nyawang akeh wong neng kene."
(Di sini itu dulu katanya tempat ini ada desanya terus hancur karena musibah. Pohon cemara dua yang berdampingan itu gerbangnya. Jadi ya gak heran kalau kamu melihat banyak orang di sini.) ujar temannya Pak Andik.
"Oalah ngoten to pak. Jenengan nek pas teng mriki kiambaan enak no pak katah tonggone."
(Oalah gitu ya pak. Bapak kalau pas di sini sendirian enak dong pak banyak tetangganya) kata Ozie sambil ketawa.
"Iyo akeh tonggone, akeh koncone tapi yo raiso dijak omong."
(Iya banyak tetangganya, banyak temannya tapi gak bisa diajak ngomong.) jawab temannya Pak Andik.
Kami pun menceritakan kepada temannya Pak Andik kalau kemarin malam kami bertemu seseorang yang seluruh badannya dipenuhi bulu dan wajahnya sedikit mirip kera. Kata temannya Pak Andik gunung ini memang ditunggu oleh keturunannya Hanuman dan Bambang Wisanggeni yang merupakan anak dari Arjuna dengan Bathari Dresanala.
"Podo ngomongne opo to iki?"
(Pada ngomongin apa sih ini?) tanya Mamad
"Kepo loe." jawabku.
"Wes ayo mbalek, wes sore."
(Sudah ayo balik, sudah sore) ujar temannya Pak Andik.
Kami pun kembali ke shelter, Mamad dan Ozie membawakan kayu bakar milik temannya Pak Andik. Pas sampai di shelter saya dipanggil sama Pak Andik.
"Nduk ayo tak ruwat. Wes sore gek ndang siap-siap awakmu. Engko klambi seng bar dinggo adus diguak ae wes ojo digae maneh. Tak tunggu neng padusan."
(Nduk ayo saya ruwat. Udah sore buruan siap-siap kamu. Nanti baju yang habis dipakai mandi dibuang aja udah jangan dipakai lagi. Saya tunggu di pemandian) ujar Pak Andik
"Aduh matih we tulungungono aku to saudara. Aku emoh diruwat... mas, mas Ozie omong no hayo aku emoh diruwat."
(Aduh mati, tolongin aku dong saudara. Aku gak mau diruwat... mas, mas Ozie tolong bilang ke bapaknya dong aku gak mau diruwat) ujarku sambil memelas.
"Lah yo gak iso wong awakmu mau wes kadung gelem og makane talah nek diomongi wong ki ojo ya yo - ya yo ae."
(Ya gak bisa kan kamu tadi udah terlanjur mau makanya kalau dibilangin orang itu jangan iya-iya aja) jawab Ozi
"Mad!" Kataku sambil memelas ke Mamad.
"Maap ya saudara aku gak iso membantumu. Asline aku ngesakne tapi pie maneh ya duh wes gelemo ae lo dang bar urusan gak dikongkoni ae."
(Maap ya saudara aku gak bisa membantumu. Sebenarnya aku kasihan tapi gimana lagi ya duh udah kamu mau aja biar cepet selesai urusannya gak disuruh-suruh terus.) jawab Mamad.
"Yu..." terdengar suara Pak Andik memanggilku.
"Duh pie iki?"
(Duh gimana ini?) tanyaku. Sedikit takut.
"Wes ayo gak popo tak kancani, nasi wes jadi bubur arep pie maneh . Tak tunggoni engko awakmu, nek wonge kurang ajar karo awakmu tak antemane."
(Wes ayo gak papa aku temenin, nasi udah jadi bubur mau gimana lagi. Aku tungguin nanti kamu, kalau orangnya kurang ajar sama kamu aku hajar dia) kata Ozi.
"Iyo saudara tenang ae kita jogo."
(Iya saudara tenang aja kita jagain) ujar Mamad.
Saya pun menghampiri Pak Andik ditemani Ozie dan Mamad. Sesampainya di pemandian, Pak Andik baca doa lalu saya dimandiin air kembang sama Pak Andik. Masya Allah hmm langsung otak saya berasa beku. Maghrib-maghrib di diatas gunung gak mandi aja udah dingin ini malah dimandiin, airnya kayak es lagi. Udah gitu dikeramasin lagi. Langsung kaku semua rasanya badan saya.
"Iyuh aduh pak sampon pak!"
(Iyuh aduh pak udah pak!) ujarku baru aja satu guyuran.
"Sek to wes piye to? ben resik ugong dikramasi barang."
(Sebentar, udah gimana? biar bersih, belum dikeramasin juga) jawab Pak Andik.
"Astaghfirulloh adem pak balungku rasane klotekan."
(Astaghfirulloh dingin pak tulangku rasanya gemeteran) kataku.
"Semangat saudara yoh aku ra tego."
(Semangat saudara aku gak tega) ujar Mamad.
"Sabar ya sediluk engkas bar."
(Sabar ya sebentar lagi selesai) kata Pak Andik sambil terus menyiram badan saya.
"Iyuh pak sampon to pak. Nangis lo aku engko pak!"
(Iyuh pak udah dong pak. Nangis lo aku nanti pak!) ujarku sambil gemetaran.
Akhirnya penderitaan pun selesai sudah, Ozie memberiku pakaian ganti dan handuk. Setelah ganti pakaian, pakaian saya yang basah dibuang ke jurang yang gak terlalu dalam di dekat pemandian. Setelah itu kami kembali ke shelter. Aku jalan sambil gemetaran, njir udah kayak robot aja. Sampai di shelter saya pun langsung diajak Ozie duduk di depan api. Sama temannya Pak Andik saya dibuatin teh hangat dicampur dengan Tolak Angin biar gak hypo.
Singkat cerita. Paginya saya teringat kalau di saku celana saya ada uang 100 ribu kalau gak salah.
"He Mad deingi nang sak celonoku lo enek duite 100k lali gak tak jupok celonone dibuang. "
(He Mad kemarin di saku celanaku ada uang 100k lupa gak aku ambil celananya dibuang.) ujarku.
"Jupok yo! Lumayan 100k engko mudun iso gae tuku sate."
(Ambil Yuk! Lumayan 100k nanti turun bisa buat beli sate) kata Mamad.
"Ya ayo lo" jawabku.
Kami pun pergi ke tempat kemarin kami membuang pakaianku. Pas menuju ke sana Mamad ngeliat ada burung, dia pun jalan sambil meleng ngeliatin burung. "Bruak" dia jatuh tersungkur kesandung akar pohon. Saya pun langsung ketawa.
"Aduh cuk loro."
(Aduh sakit) ujar Mamad.
"Sokor salahe mlaku meleng ae rasakno."
(Sukurin salah sendiri jalan meleng) kataku sambil ketawa.
"Hi... iki opo?"
(Hi... ini apa) ujar Mamad sambil ngelihatin tangannya yang kotor.
"He ndeng, gendeng tai iku Mad hi yeyek!" Kataku.
"Mosok se tai ?"
(Masa sih tai) tanya Mamad sambil mencium tangannya.
"Hoeeekkk! Ha... iyo tai cuk deh." kata Mamad sambil diusapkan tangannya ke tanganku.
"Kurang ajar nyapo mok serne aku ndeng."
(Kurang ajar ngapain kamu usapin ke aku ndeng) ujarku sambil menjambak rambutnya.
"Aduh loro goblok, ben podo ngerasakne ambune hehehe joh gilani taine sopo iki?"
(Aduh sakit goblok, biar sama-sama ngerasain baunya hehehe menjijikkan tainya siapa sih ini?) tanya Mamad.
Lha mboh Mad.
(Gak tahu Mad.) jawabku sambil jalan ninggalin dia pergi ke pemandian cuci tangan. Mamad pun mengikutiku jalan di belakangku.
"He saudara lha clonone ndi lo kok gak enek kok karek klambine tok."
(He saudara celananya mana kok gak ada tinggal bajunya aja.) ujarku.
"Paling digondol bedes ayo mbalek."
(Mungkin dibawa monyet ayo balik) kata Mamad.
Bersambung.
Wahyu Pujiningsih
(Pencinta alam, tinggal di Madiun)
Sebelumnya:
Gerbang Gaib Gunung Arjuno (3)

Komentar