Kamis, 18 Juni 2026 | 00:22
COMMUNITY

Gerbang Gaib Gunung Arjuno (3)

Gerbang Gaib Gunung Arjuno (3)
Dok. Wahyu Pujiningsih

ASKARA - "He saudara jero awakku reget i enek opone ya?"
(He saudara di dalam tubuhku kotor itu ada apanya ya?) tanyaku.
"Enek sampah belukar paling."
(Ada sampah belukarnya mungkin) jawab Mamad sambil tertawa.
"Mata you." jawabku.
"Wes gak usah dipikir, pak'e iku paling cuma mengada-ada tok, gak enek opo-opo."
(Udah gak usah dipikir, bapaknya itu mungkin cuma mengada-ada saja, gak ada apa-apa) ujar Ozie
"Ho.oh a?" tanyaku.
"Iyo, iyo wes gak usah dipikir nek awakmu mikir gek terus ngelamun malah iso kesurupan engko."
(Iya, iya udah gak usah dipikir kalau kamu mikirin terus ngelamun malah bisa kesurupan nanti) ujar Ozie.

Kami pun terus jalan mengikuti Pak Andik yang jalan begitu cepat. Jalanan kembali menanjak tajam dengan kemiringan yang curam. 30-45 menit perjalanan yang harus ditempuh hingga pendaki tiba di sebuah pelataran luas dengan sebuah punden berundak yang berada tepat di tengah-tengah. Kibaran bendera berwarna hijau nampak menghiasi punden ini. Sesaji dan dupa pun berderet mengelilingi punden yang nampak sangat keramat ini. Konon di punden inilah dahulu Dewa Wisnu sering melakukan pertapaan.

Di tempat ini juga tempat turunnya Wahyu Mahkuto Romo dan tempatnya Raden Arjuno bertempur dengan Adipati Karna dan para Kurawa memperebutkan Wahyu Mahkuto Romo yang dimenangkan oleh Raden Arjuno. Wahyu Mahkuto Romo sendiri adalah wahyu yang akan diturunkan dari langit untuk bekal raja untuk mengatasi kondisi negara yang sedang mengalami bencana dan malapetaka, segala tatanan negara sedang semrawut untuk menciptakan perdamaian. Karena di tempat inilah konon Wahyu Mahkuto Romo turun tempat ini dinamakan Mahkuto Romo.

Saya masih penasaran dengan ucapan Pak Andik yang mengatakan badan saya kotor. Kata-kata ini benar-benar mengganggu pikiran saya, saya pun menanyakan hal itu lagi pada Pak Andik untuk lebih jelasnya.

"Pak seng dimaksud awak kulo reget niku pripun?
(Pak yang dimaksud badan saya kotor itu bagaimana?) tanyaku
"Yo neng jero awakmu iku enek isine, mboh iku diiseni soko mbahmu, mboh iku soko moyangmu mbiyen. Goro-goro iku, neng kene enek seng arep melu koe mergo nyenengi koe."
(Ya di dalam badanmu itu ada isinya, entah itu diisi dari mbahmu, entah itu dari moyangmu dulu. Gara-gara itu, di sini ada yang mau ikut sama kamu karena menyukai kamu.) ujar Pak Andik.

Mendengar jawaban Pak Andik seketika saya teringat dengan kakek saya yang meninggal beberapa waktu yang lalu. Dulu beliau waktu muda pernah mempelajari ilmu Kejawen. Kakek saya pernah mengalami mati suri, ketika itu beliau sakit kemudian meninggal. Ketika sedang menunggu waktu mau dimandikan kakek saya tiba-tiba menggaruk-garuk pantat kemudian bangun lalu jalan ke kamar mandi pipis kemudian bertanya ada apa kok rame-rame, hmm auto bingung orang-orang yang pada nyelawat.

Setelah mengalami mati suri kakek saya jadi sedikit aneh. Pernah suatu ketika beliau mengajak saya main ke alun-alun.
"Arep neng ndi mbah wes sore ayo mlebu omah!"
(Mau ke mana mbah udah sore ayo masuk rumah!) ujarku.
"Ayo dolan neng alun-alun,"
(Ayo pergi ke alun-alun!) kata kakekku.
"Lho nyapo neng alun-alun to mbah?"
(Lho ngapain ke alun-alun to mbah?) tanyaku
"Arep golek cewek seng bokonge gedi."
(Mau nyari cewek yang pantatnya besar.) jawab kakekku.

Njir, seketika saya dan orang tua saya ngakak mendengar jawaban kakek saya. Ibu saya pun membujuk kakek saya untuk masuk ke dalam rumah. Kakek saya selalu bicara yang aneh-aneh, ketika sedang bersama saya beliau meminta saya untuk menjaga temannya. Beliau selalu saja bicara hal itu pada saya, kadang saya itu risih dengan kehaluan kakek saya. Mungkin karena merasa khawatir dengan kakek saya, bapak saya pun mencarikan kyai dan orang-orang yang paham dengan dunia supranatural sedangkan saya tinggal di kosan. 

Enam bulan kemudian saya mendapat kabar dari adik saya kalau kakek saya meninggal, saya pun tidak buru-buru pulang, saya menunggu 30 menit karena jujur saya takut kakek saya hidup lagi. Saya pun kembali menelepon adik saya lagi, kata adik saya kakek saya sudah benar-benar meninggal. Selama saya di kosan kakek saya diajari solat sama bapak saya karena sebelumnya kakek saya adalah seorang Hindu. Saya terharu karena kakek saya meninggal selesai Solat Subuh. Saya pun menceritakan hal itu pada Pak Andik. 

"Yo berarti mbahmu kui seng ngiseni. Aku iki ngesakne karo koe jan, mbahmu ki gek pie cah isek urung wayahe barang wes diiseni sak mene mbane weki sek terlalu nom nanggung semene mbane. Nek tak delo koe ki wes diiseni pas isek neng jero kandungan saiki ditambahi maneh untung kok kuat lha nek ora, iso monting awamu iso edan. Saiki ayo moro neng arca kono. Engko sore arep Maghrib tak ruwat." 
(Ya berarti mbahmu itu yang mengisi. Saya ini kasihan sama kamu, mbahmu itu bagaimana anak masih belum waktunya sudah diisi segini banyaknya kamu itu masih terlalu muda menanggung segini banyak. Kalau saya lihat kamu itu sudah diisi sejak ada di dalam kandungan sekarang ditambahi lagi, untung kok kuat kalau gak kuat bisa gila kamu. Sekarag ayo pergi ke arca sana. Nanti mau Maghrib kamu saya ruwat di arca itu.)
"Enggeh nek iso jenengan guak kabeh mawon pak, gak enek gunane yoan gae opo."
(Iya kalau bisa dibuang semua aja pak, gak ada gunanya juga buat apa.) ujarku.
"Yo iso gae nambani wong nek mbok pelajari." 
(Ya bisa buat nyembuhin orang kalau kamu pelajari.) jawab Pak Andik.
"Mboten."
(Gak mau.) jawabku.

Kami pun pergi ke arca yang dimaksud oleh Pak Andik. Di arca ini ada dua buah batu yang saling berhadapan dan membentuk seperti mahkota. Pak Andik dan saya duduk di atas batu sedangkan Ozie diminta Pak Andik berdiri di belakangku untuk berjaga-jaga kalau saya jatuh ke belakang. Saya duduk bersila di depan Pak Andik sementara Pak Andik mulai menyalakan dupa dan membaca doa lalu memegang kening saya kemudian mengeluarkan keris dan menempelkan di perut saya, saya langsung batuk-batuk. Ozie memegangi pundak saya, setelah kira-kira 15 menitan lah kemudian selesai dan kami pun kembali ke shelter.

Sambil nunggu waktu Maghrib saya dan teman saya pun berkeliling melihat-lihat arca-arca yang ada di Mahkuto Romo. Di shelter ini ada dua orang lagi, satu ibu-ibu dari Jakarta yang katanya mau nyepi di sana tirakat untuk anak-anaknya bersama dengan temannya Pak Andik yang sedang menemani ibu itu menyepi. Ibu itu bilang di sini sudah dua minggu kalau yang bapak temannya Pak Andik beliau itu asli orang sini, sering nyepi di sini. Kebetulan ini bulan Suro, dia berada di sini sampai habis bulan Suro. Kami pun membantu temannya Pak Andik mencari kayu bakar di dekatnya Candi Sepilar yang tidak jauh dari Mahkuto Romo. Dibutuhkan waktu 15 menit maka sudah sampai di sini. Ada tiga buah arca dengan wajah yang menyeramkan.

Tepat di tengahnya terdapat sebuah jalur menanjak dengan bebatuan yang tertata rapi. Konon arca berjumlah sembilan ini merupakan sosok yang menjaga daerah Sepilar ini, dan tepat di batas jalur bebatuan ini terdapat sebuah deretan patung yang melambangkan Pandawa Lima "Yudhistira, Bima dan Arjuna" sedangkan "Nakula dan Sadewa" telah hilang diambil para pencuri. Saya dan Ozie pun duduk di tangga yang ada di arca ini. 

"He Buh awakmu yakin a arep ruwatan?
(He Buh kamu yakin mau ruwatan?) tanya Ozie
"Lha mboh aku kok wedi to mas."
(Gak tau aku kok takut to mas.) jawabku.

"Nek menurutku ora usah ae Buh! Koyoke kok gk bener nek tak delok-delok. Saikimu pikiren mosok wonge kesurupan Eyang Semar tenan aku kok gak yakin mboh nyapo kok aku ngroso aneh ae, wonge kok iso eroh nek awakmu ki diiseni mbahmu kaet nang jero kandungan iku teko ndi ketemu kita ae lagi pisan. Yo mungkin bener mbahmu bien pernah mempelajari ilmu Kejawen tapi kan karo bapakmu wes digolekne kyai sopo ngerti ae wes dirukyah terus ilmune mbahmu diguak hayo. Mboh nyapo aku ki nyawang carane wonge ngomong i gak yakin Buh. Koyok enek seng janggal ae ngono. Saikimu lo jam tiga ae neng kene wes adem yakin a awakmu arep diruwat terus diadusi engko Maghrib. Aku khawatir awakmu kenek hypo. Saikimu pikiren nek menurut hati nuranimu dewe piye?"
(Kalau menurutku gak usah aja Buh! Kayaknya kok gak benar kalau aku lihat-lihat. Sekarang coba pikir masak iya dia kesurupan Eyang Semar beneran aku kok gak yakin, gak tau kenapa aku ngerasa aneh aja, orangnya kok bisa tahu kamu diisiin sama mbahmu sejak dari dalam kandungan itu dari mana, ketemu kita aja baru sekali. Ya mungkin benar mbahmu dulu pernah mempelajari ilmu Kejawen tapi kan sama bapakmu sudah dicarikan kyai siapa tahu aja udah dirukyah, ilmunya mbahmu sudah dibuang. Gak tahu kenapa aku itu lihat cara dia ngomong itu gak yakin Buh. Seperti ada yang janggal aja gitu. Sekarang di sini jam tiga aja udah dingin kamu yakin nanti mau diruwat terus dimandiin nanti Maghrib. Aku khawatir kamu kena hypo. Sekarang coba pikir kalau menurut hati nuranimu gimana?) tanya Ozie

"Jujur ae yo mas aku yo gak yakin wonge kesurupan Eyang semar opo gak, aku yo ngeroso enek seng aneh sih, aku pernah nyawang wong kesurupan gk koyok Pak Andik iku. Tapi yo mboh maneh nek kesurupan iku akeh modele. Tapi enek satu omongan seng tak pikir bener sih yo tentang mbahku iku mau lho mas, aku wedi nek ternyata diiseni tenan aku wegah nek koyok mbahku arep meninggal ae susah. Ih aku yo gak yakin kuwat adus sore-sore nang gunung po gak. Ah bingung aku."
(Jujur aja ya mas aku juga gak yakin orangnya kesurupan Eyang Semar beneran atau enggak, aku juga ngerasa ada yang aneh sih, aku pernah lihat orang kesurupan gak seperti Pak Andik itu. Tapi gak tau juga kalau kesurupan itu banyak modelnya. Tapi ada satu omongan yang aku pikir benar ya tentang mbahku itu tadi lho mas, aku takut kalau ternyata diisi beneran aku gak mau kalau seperti mbahku mau meninggal saja susah. Ih aku juga gak yakin kuat mandi sore-sore di gunung apa enggak. Ah bingung aku.) jawabku.

"Wes talah dang dilakoni ae ndang wes ndang bar timbang ribet mboh kui bener mboh gak. Doaku selalu menyertaimu wahai saudaraku."
(Udah lakuin aja biar cepat selesai daripada ribet entah itu bener atau enggak. Doaku selalu menyertaimu saudaraku.) ujar Mamad sambil menepuk-nepuk pundakku. 
"Mata you Mad," jawabku
Bersambung.

Wahyu Pujiningsih
(Pencinta alam, tinggal di Madiun)

Sebelumnya:
Gerbang Gaib Gunung Arjuno (2)

Komentar