Senin, 15 Juni 2026 | 01:03
NEWS

Ini yang Akan Terjadi Jika PSBB Dilonggarkan

Ini yang Akan Terjadi Jika PSBB Dilonggarkan
Ilustrasi. (Okezone)

ASKARA - Wacana pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar oleh pemerintah seakan memperkuat penerapan kebijakan herd immunity dalam menghadapi wabah virus corona (Covid-19).

Seperti diketahui, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya tidak merekomendasikan herd immunity menjadi strategi dalam menghadapi virus corona. Dalam epidemiologi, herd immunity menggambarkan bahwa seseorang bisa mencegah infeksi jika sejumlah penduduk telah dinyatakan memiliki kekebalan akan penyakit.

Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Syahrizal Syarief menjelaskan, herd immunity atau kekebalan gembala merupakan istilah untuk suatu keadaan di mana 80 persen populasi yang punya kekebalan terhadap suatu penyakit dapat melindungi sub populasi yang rentan dari kelompok yang sakit.

Namun, menurutnya, tidaklah tepat jika Indonesia saat ini menerapkan herd immunity. Bahkan jika diterapkan akan menjadi sebuah kebijakan yang fatal, sebab peningkatan wabah Covid-19 di Indonesia masih jauh pergerakan tingkat kurva menurun.
 
"Tentu pelonggaran PSBB hanya bisa dilakukan seharusnya jika kurva kasus harian sudah turun minimal tujuh hari. Saat ini Indonesia masih belum mencapai puncak kasus yang dilaporkan hari ini kasus tertinggi. Saat ini di situasi kapasitas pemeriksaan spesimen kita masih terbatas," jelas Syahrizal saat dihubungi Askara, Rabu (20/5).

Dia menyampaikan bahwa wacana pelonggaran PSBB yang kuat menuju kebijakan herd immunity tidak tepat diterapkan untuk virus berjenis Covid-19.

"Jika kita mampu memeriksa 10 ribu spesimen sehari seperti apa yang diminta Pak Jokowi maka jumlah kasus harian akan sekitar 1300-1400 kasus," kata Syahrizal.

"Covid-19 tidak relevan dihubungkan dengan herd immunity. Keadaan ini bisa dicapai dengan program vaksinasi terhadap 80 persen populasi sehingga mempunyai kekebalan yang memang penyakitnya sendiri memberi kekebalan alamiah. Saat ini herd immunity tidak relevan dihubungkan dengan Covid-19," jelasnya.

Syahrizal menambahkan, herd immunity tidak cocok diterapkan untuk wabah Covid-19 sebab corona tidak sama dengan virus measles atau campak.

"Covid-19 bukan seperti virus measles atau campak yang memberikan kekebalan alamiah," katanya.

Bahkan, hingga saat ini belum ada satu pun negara yang sudah menggunakan vaksin khusus atau yang telah digunakan 80 persen penduduk dunia. Jika herd immunity diterapkan maka pemerintah harus lebih bersiap lagi menghadapi sejumlah gelombang wabah yang tidak pernah terhenti.

"Jadi membiarkan populasi tanpa ada upaya pencegahan dan penanggulangan Covid-19 akan menghabiskan umat manusia dengan beberapa kali gelombang wabah, sampai vaksin tersedia di masyarakat," demikian Syahrizal.

Komentar