Kamis, 18 Juni 2026 | 03:46
COMMUNITY

Gerbang Gaib Gunung Arjuno (2)

Gerbang Gaib Gunung Arjuno (2)
Dok. Wahyu Pujiningsih

ASKARA - Setelah kami berpamitan kami pun melanjutkan perjalanan ke Pos 3. Dua puluh menit menit kita jalan sampailah kita di Pos 3 Petilasan Eyang Sakri. Pos yang mempunyai sebuah halaman luas dengan sebuah bangunan rumah yang terkunci rapat. Dapat saya perkirakan jika di dalamnya mungkin sebuah makam atau arca dari Eyang Sakri itu sendiri. Kami break beberapa menit di sini dan kembali melanjutkan perjalanan. 

Dari eyang Sakri ini track mulai menanjak cukup bikin ngos-ngosan. Pepohonan di sini mulai rapat, cahaya matahari pun tidak bisa masuk terhalang dedauan. Kami pun tiba di Pos Bayangan Pondok Rahayu. Tempat ini begitu asri sejuk dan enak, kami break lagi di tempat ini. Pondok Rahayu ini seperti bangunan kuno sedikit menyeramkan, udah kayak rumah hantu aja gitu. Ditambah lagi letaknya di tengah hutan. Saya gak tahu apa fungsi bangunan ini. Kata teman saya, dia pernah bercerita tentang Pondok Rahayu ini katanya dulu tahun 2000-an maaf saya lupa tepatnya 2000 berapa, ada temannya yang hilang di lokasi ini dan sampai sekarang belum ditemukan jasadnya. 

Teman saya Ozie masuk ke dalam pondok itu, karena saya juga penasaran dengan apa yang ada di dalam pondok itu saya pun juga ikut masuk. Di dalam pondok ini sangat bersih bahkan hampir tidak ada kotoran sama sekali. Awal masuk pondok ini dingin gitu tapi lama-lama atmosfernya itu jadi gak enak. Kalau dilihat sekilas gak ada apa-apa di sini cuma bangunan kosong aja. Kira-kira 10 menitan kami berada di dalam pondok ini kami pun keluar.

"Hawane gak uwenak ya neng jero kono mas, ikino bangunan digae opo ya?"
(Hawanya gak enak ya di dalam sana mas, ini bangunan buat apa ya?) tanyaku.
"Iyo Buh (teman saya Ozie ini memang lebih sering manggil saya Subuh dari pada manggil Wahyu) nek menurutku sih gon iki iku mbien digae padepokan belajar silat ngono kae lo Buh koyoke sih," 
(Iya Buh kalau menurutku sih tempat ini itu dulu dibuat padepokan belajar silat kayak gitu lho Buh kayaknya sih) jawab Ozie
"Jare koncoku mas bien iku neng kene koncone wonge enek seng mlebu pondok iki to terus ilang sampek saiki gong ketemu wis bertahun-tahun jasad e yo gak ketemu ilang musnah ngono ae."
(Kata temanku mas dulu itu di sini temannya dia ada yang masuk pondok ini terus hilang sampai sekarang belum ketemu udah bertahun-tahun jasadnya ya gak ketemu hilang musnah gitu aja.) ujarku.
"Ancen nang jero kono iku nek didelok sekilas ngono koyok biasa wae gak onok seng aneh tapi asline nang jero kono iku kae lo Buh sebelah selatan mentok pojok seng enek koyok rak-rak'an iku lo neng ngisor kono iku enek sesuatu koyok gon gae muja enek dupo-dupone. Nek seng gak eroh ngono iso diidek mergo ra ketok."
(Emang di dalam sana itu kalau dilihat sekilas gitu seperti biasa aja gak ada yang aneh tapi sebenarnya di dalam situ itu lo Buh sebelah selatan mentok pojok yang ada kayak rak-rakan itu lo di bawah sana itu ada sesuatu seperti tempat buat muja ada dupa-dupanya. Kalau yang gak tau gitu bisa diinjak karena gak kelihatan.) jawab Ozie. (Teman saya Ozie ini dia memang sensitif pada hal-hal yang tak kasat mata)

Kami pun menyempatkan mengambil foto di depan Pondok Rahayu ini. Pas giliran saya yang difoto sama Ozie pertama itu pondoknya kelihatan tapi saya yang berdiri di depan pondok gak kelihatan kayak gak ada orang gitu.

"Kok aneh ya Buh awakmu gak enek neng foto mung ketok pondoke tok." 
(Kok aneh ya Buh kamu gak ada di foto hanya kelihatan pondoknya aja) ujar Ozie sambil memperlihatkan hasil jepretannya
"Hi ho.oh ... kok aneh ya," ujarku.
"Sek jajal baleni maneh paling mau mergo sek memproses terus HP-ne tak geser jadi awakmu maleh ilang,"
(Sebentar coba diulang lagi mungkin ini karena masih memproses terus HP-nya aku geser jadi kamu jadi hilang) jawab Ozie

Kami pun mengulangi mengambil foto di depan pondok, dua kali  masih tetap sama dan yang ketiga kali akhirnya gambarku ada. Setelah itu kami bergegas melanjutkan perjalanan, track-nya nanjak terus bikin dengkul lemes. 

Dan sampailah kami di Pos 4 Petilasan Eyang Semar. Konon katanya merupakan tempat "Moksa" atau menghilangnya Eyang Semar yang merupakan penasehat kepercayaan Raden Arjuno.

Ada sebuah arca berselimut kain putih yang menghadap timur yang dipercaya sebagai perwujudan Eyang Semar itu sendiri. Kami pun break lagi di sini melepas lelah, kami melihat-lihat Arca Eyang Semar ini.

"He saudara arcane iki batuke koyok mrepul bar ketatap ngono ya hehe,"
(He saudara arcanya ini jidatnya kayak benjol habis kebentur gitu ya hehe) ujarku.
"Iyo,"
(Iya) jawab Mamad sambil ketawa

Di depan Arca Eyang Semar ini ada dupa yang udah mati namun masih bau wangi dan sesajen. Di sebelah kiri arca ini ada bunga sedap malam yang udah mulai layu. 

"Iki nyapo kok dibuntel kain putih koyok ngene patunge?"
(Ini kenapa kok dibungkus kain putih kayak gini patungnya?) tanyaku.
"Ben ra kademen Buh."
(Biar gak kedinginan Buh) jawab Ozie.
"Enek titite paling,"
(Ada tititnya mungkin) jawab Mamad sambil ketawa.

Kami pun mengambil foto juga di sini. Lalu pergi mengambil air. Di dalam salah satu shelter ini ada keran air. Selesai mengisi botol air kami pun duduk di depan teras shelter ini sambil makan roti untuk mengisi perut kami. Kemudian datanglah orang berpakaian serba hitam, orang yang kami temui di Pos 2 tadi pagi tapi kami belum sempat ngobrol dengannya. Ozie ngobrol sama bapak itu, dia bilang dia sedang nyepi di tempat ini. Dia di sini empat tahun kalau saya gak salah dengar soalnya saya gak begitu memperhatikan obrolan mereka.

"Ajeng teng pundi pak?"
(Mau ke mana pak?) tanya Ozie 
"Arep munggah neng Mahkuto Romo, arep nyepi neng kono aku. Tapi sek arep soan sek neng Eyang Semar,"
"Mau naik ke Mahkuto Romo, mau nyepi di sana saya. Tapi soan dulu sebentar di Eyang Semar) jawab Pak Andik.
"Pak kulo angsal tumut pak pingin delok."
(Pak saya boleh ikut pak ingin lihat) ujarku
"Yo ra popo nek pengen melok yo ayo pisan dungo ben dilancarno pendakiane budal muleh selamet".
(Ya gak papa kalau ingin ikut ya ayo sekalian berdoa biar dilancarkan pendakiannya berangkat pulang selamat) ujar pak Andik.
"Pie?"
(Gimana?) tanyaku.
"Yowes ayo gak popo"
(Yaudah ayo gak papa) jawab Ozie.

Kami pun ikut Pak Andik pergi ke arcanya Eyang Semar. Pak Andik pun duduk bersila di depan Arca Eyang Semar sedangkan kami duduk dibelakangnya Pak Andik. Pak Andik pun mulai menyalakan dupa dan mulai membaca rapalan-rapalan doa sedangkan kami hanya duduk diam sambil memperhatikan apa yang dilakukan Pak Andik. Ketika Pak Andik berdoa kami pun hanya mengamini dan tiba-tiba suaranya Pak Andik berubah jadi agak berat. Dia tiba-tiba mengulurkan tangannya ke belakang tanpa balik badan sambil mengerang hem...hem... dengan suara berat.
"Lho mas nyapo?" 
(Lho mas kenapa?) tanyaku sedikit kebingungan. Tapi Ozhie menjawab pertanyaanku dia langsung memegang tangannya Pak Andik.
"Jenengmu sopo le?"
(Namanu siapa le?) tanya Pak Andik.
"Kulo Ozie" 
(Saya Ozie) jawab Ozie
"Kenalno aku Eyang Semar seng nunggu papan panggonan kene. La iki Andik seng tak percoyo ngurus gon kene iki".
(Kenalkan aku Eyang Semar penunggu tempat ini. Ini Andik yang saya percaya mengurus tempat ini) ujar Pak Andik, eh Eyang semar atau siapa sih bingung saya.
"Enggeh mbah."
(Iya mbah) jawab Ozie
Kemudian pak Andik melepaskan tangannya dari Ozie dan diarahkan kepadaku.
"Mas piye mas?"
(Mas gimana mas?) tanyaku.
"Salaman Buh!" jawab Ozie .
Saya pun mengulurkan tangan saya dan memegang tangannya Pak Andik dengan rasa takut. Pas saya menyalami dia tangan saya langsung dipegang, digenggam erat terasa sedikit sakit.
"Jenengmu sopo ngger?"
(Namamu siapa ngger?) tanya Pak Andik.
"Wahyu mbah," jawabku.
"Ngertio nduk kowe ki wes ngganggu papan panggonan kene."
(Kamu tau nduk kamu itu sudah mengganggu tempat ini) kata Pak Andik sambil melepaskan genggaman tangannya.
"Sepuntene mbah kulo ngganggu pripun?" 
(Maaf mbah saya mengganggu bagaimana) tanyaku dengan sedikit takut deg-degan.
"Kowe enek neng kene iki wes gawe perkoro, enek penghuni kene iki seng seneng karo koe njur arep melu awakmu. Kowe ki asline ayu nduk nanging awakmu iku reget, duduk reget sandangane nanging reget jiwane. Koe kudu diruwat neng Sendang Madrim. Engko meluo bocahku Andik ben diruwat, diresiki awakmu neng Mahkuto Romo."
(Kamu ada di sini itu sudah buat masalah, ada penghuni sini yang suka sama kamu lalu mau ikut sama kamu. Kamu itu sebenarnya cantik nduk tapi badanmu itu kotor, bukan kotor pakaiannya tapi kotor jiwanya. Kamu harus diruwat di Sendang Madrim. Nanti ikutlah sama Andik biar diruwat badanmu dibersihkan di Mahkuto Romo) ujar Pak Andik. 
"Enggeh mbah,"
(Iya Mbah) jawabku.
"Yowes nek ngono aku tak pamit. Kowe engko melu'o Andik"
(Ya udah kalau begitu saya pamit. Kamu nanti ikut sama Andik) ujar Pak Andik sambil mengulurkan tangannya. 

Ozie pun mencium tangan Pak Andik dan kami juga melakukan hal yang dilakukan Ozie. Kemudian Pak Andik pun melakukan gerakan terus seperti menarik nafas dalam-dalam kemudian memukul-mukul dadanya, dan dia pun berbicara seperti semula. 

"Dek mau Eyang Semar ngomong opo?"
(Tadi Eyang Semar ngomong apa?) tanya Pak Andik
"Ngomong tirose rencang kulo Wahyu niki kudu diruwat teng Mahkuto Romo mergine enten seng tumut."
(Ngomong katanya teman saya Wahyu ini harus diruwat di Mahkuto Romo karena ada yang ikut) jawab Ozie.
"Enggeh pak tirose awak kulo niku reget maksute pripun pak?"
(Iya pak katanya badan saya itu kotor maksudnya gimana pak?) tanyaku.
"Yo neng jero awakmu iku enek isine".
(Ya di dalam tubuhmu itu ada isinya) jawab Pak Andik.

Mendengar jawaban Pak Andik langsung galau saya. Jadi kepikiran yang di dalam badan saya itu apa gitu. Bersambung.

Wahyu Pujiningsih
(Pendaki gunung, tinggal di Madiun)

Sebelumnya:
Gerbang Gaib Gunung Arjuno (1)

Komentar