Senin, 08 Juni 2026 | 15:31
NEWS

Anggaran Penanganan Corona Tidak Akan Pernah Cukup, Ini Kuncinya Menurut Mas Ganjar Pranowo

Anggaran Penanganan Corona Tidak Akan Pernah Cukup, Ini Kuncinya Menurut Mas Ganjar Pranowo
Gubernur Provinsi Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (Dok Kompas.com)

ASKARA - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengalokasikan anggaran untuk penanganan Corona (Covid-19) sebesar Rp 2,09 triliun. Namun, jumlah yang relatif besar tersebut dinilai Gubernur Provinsi Jawa Tengah, Ganjar Pronowo tidaklah cukup.

Ganjar mengatakan, pihaknya mengalokasikan anggaran Rp 2,09 triliun untuk penanganan corona terdiri atas Rp 1,32 triliun untuk program jaring pengaman sosial, Rp 183,5 miliar untuk jaring pengaman ekonomi.

Lalu, Rp 68,5 miliar untuk bantuan keuangan desa, agar desa kuat dan percaya diri, kemudian Rp 425,14 miliar untuk fasilitas kesehatan, Rp 16,09 miliar untuk pengembalian pekerja migran atau PMI Jateng, dan Rp 1,65 miliar untuk operasional. 

"Saya menyadari itu semua tidak akan cukup. Anggaran sebesar apapun yang kita siapkan tidak akan mampu tuntaskan Covid-19," ungkap Ganjar, Selasa (12/5).

Ganjar menyebut, solusinya adalah menggandeng masyarakat, serta peran swasta, perguruan tinggi dan semua yang peduli secara pentahelix. Pihaknya, kata Ganjar, telah menggerakkan sebuah program yang dinamai Joga Tonggo, yakni gerakan saling menjaga antar tetangga. Dalam gerakan ini, masyarakat akan saling menjaga kesehatan tetangga dengan tidak keluar rumah, mengenakan masker, dan menjaga jarak, termasuk perekonomian.

"Kita jaga perekonomian tetangga dengan membeli produk-produk mereka. Kita jaga perekonomian tetangga dengan saling berbagi atau bahkan barter, saya punya beras ia punya ikan, mereka punya sayuran. Ini kita putar agar perekonomian terus tetap berjalan, saling menjaga agar tetangga kita tetap selamat, bisa makan, bisa merasa aman, dan tentu saja nyaman," tuturnya. 

Jogo Tonggo sendiri mengonsolidasikan dan menyinergikan seluruh kegiatan-kegiatan organisasi, kelompok sosial. Gerakan tersebut saat ini beranggotakan 1.337.767 kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), 506.815 Dasa Wisma, dan 230.782 satuan perlindungan masyarakat.

Sedangkan sumber daya manusia (SDM) lainnya adalah 228.142 kader Posyandu dan55.057 kelompok tani.

"Sebuah kekuatan yang nanti bisa mengkonsolidasikan on farm-nya. Ada 39.045 kader pemberdayaan masyarakat desa, ini khas dari Jawa Tengah yang kita, diajari provinsi untuk bisa membantu desa," katanya.

Selain itu, ada juga 7.527 bidan desa yang diharapkan dapat membantu mengonsolidasikan kekuatan kesehatan masyarakat, serta 3.370 pendamping desa dan 8.229 gabungan kelompok tani. Kemudian Tagana yang berjumlah 1.123. 

"Juga ada 5.413 penyuluh swadaya bisa bergerak dan membantu kawan-kawan di dunia pertanian. 140 tenaga kesejahteraan sosial di level kecamatan ini bisa membantu mendata dan kemudian bisa mencatat semuanya," ujar Ganjar.

Tak hanya itu, Ganjar menyebutkan gerakannya juga didukung karang taruna, TNI-Polri, perangkat desa semuanya termasuk para ulama dan tokoh agama. Diharapkan, potensi yang dimiliki Jawa Tengah mampu melawan pandemic Covid-19. Pihaknya juga berupaya agar masyarakat tidak merasa bosan atau khawatir untuk tetap di rumah.

"Masyarakat harus kita ajak bergerak agar kesadaran pencegahan penularan Covid-19 tumbuh di mana-mana meluas lebih jauh lagi, agar pandemi ini membentuk mental kemandirian di sanubari kita," imbuhnya.

Jogo Tonggo sendiri menyampaikan pesan pentingnya mendata masyarakat yang terdampak Covid-19. Khususnya kepada kelompok rentan, ibu menyusui, ibu melahirkan, bayi balita yang membutuhkan susu, korban PHK atau yang mereka di rumahkan, termasuk petani yang gagal panen, pedagang yang tidak laku, hingga yang nekat mudik, 

"Cateti semuanya! itulah kekuatan yang paling kita tahu. Lalu pastikan bantuan-bantuan sosial tidak dipakai rebutan. Jangan, memalukan. Kita punya kekuatan kok. Yang mampu bantulah yang lemah, yang tidak mampu mari kita perhatikan bersama-sama," imbaunya.

"Anda perlu membuat lumbung pangan di level RW. Pastikan itu. kalau tidak mampu kita bisa bantu kok benihnya, kita bantu kok teknologinya, agar kita nanti bisa memenuhi kebutuhan sendiri, memenuhi kebutuhan sendiri," lanjut Ganjar.

Terakhir, Ganjar berharap Jogo Tonggo menjadi kekuatan dari masyarakat di level RW yang menekankan nilai-nilai gotong royong, tepo seliro, dan tenggang rasa, 

"Ini semuanya perlu kita jaga. inilah kekuatan kemandirian bangsa," tandasnya.

Komentar