Kamis, 23 Juli 2026 | 15:02
COMMUNITY

Pedagang Baju Banting Stir Jadi Perajin Masker

Pedagang Baju Banting Stir Jadi Perajin Masker
UKM binaan Bank BRI. (Industry)

ASKARA - Herwadi salah seorang pedagang baju yang merupakan nasabah Bank BRI banting stir akibat penurunan omset selama wabah Covid-19 terjadi di Indonesia.

Ia menjadi perajin masker kain di Desa Selage, perbatasan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Herwadi (39) memulai usahanya sebagai pembuat dan penjual masker sejak Maret lalu.

Sebelumnya, sejak 2005, Herwadi merupakan pedagang baju di Pasar Jelojo, Janapria Lombok Tengah dan Pasar Rarang Lombok Timur. Sejak adanya penyebaran Covid-19, omset penjualan usahanya menurun drastis sehingga memutar otak untuk bertahan.

"Saya sudah tidak melakoni usaha jual pakaian jadi lagi semenjak wabah Covid-19, pasar tempat saya berdagang ditutup sementara oleh pemerintah. Saya melihat peluang bisnis baru agar saya dan delapan orang pekerja saya tetap bisa hidup, kami membuat dan menjual masker untuk masyarakat di wilayah Lombok," jelasnya, Senin (20/4).

Herwadi saat ini mendapat pesanan pembuatan masker dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur sebanyak 10 ribu lembar yang nantinya akan disalurkan kepada warga.

Herwadi mengaku, ia menjual masker kepada pemerintah seharga Rp 3.500 per lembar.

"Dalam sehari saya membuat masker kurang lebih seribu lembar dengan tipe satu lapisan. Kami jual kepada pemerintah sebesar Rp 3.500 per lembar. Sebelumnya, kalau langsung dijual kepada broker atau tengkulak masker biasanya saya memberikan harga Rp 5.000 per lembar," paparnya.

Dalam tiga minggu belakangan, Herwadi berhasil meraup puluhan juta rupiah dari penjualan masker kepada broker besar di wilayah Lombok. Para broker biasa mengambil dalam jumlah banyak, kisaran 1.000 lembar masker untuk sekali ambil. Pengambilan biasanya satu atau dua hari sekali. 

Herwadi menambahkan bahwa maskernya tidak hanya dipasarkan di Lombok Timur namun juga dikirim ke berbagai kota seperti Lombok Barat dan Lombok Tengah.

Untuk mendukung kelangsungan usaha, Herwadi memperkuat permodalan dengan KUR dari BRI. Herwadi meminjam KUR BRI sebesar Rp 25 juta untuk membeli bahan baku kain dan karet yang saat ini mulai langka dan mahal. Bantuan KUR ini sangat membantunya dalam menyediakan stok barang dan membayarkan upah mingguan para pekerjanya.

Sudah tiga tahun lamanya Herwadi menjadi nasabah BRI, baik pinjaman dan simpanan. Dia mengaku merasa nyaman dengan layanan yang diberikan BRI.

"Proses pengajuan dan pencairan kreditnya mudah dan cepat, ini yang saya suka dari BRI. Hanya butuh waktu dua sampai tiga hari pengajuan pinjaman langsung disetujui dan ditransfer ke rekening saya," jelas Herwadi.

Corporate Secretary Bank BRI Amam Sukriyanto mengatakan bahwa BRI banyak memberikan kemudahan bagi para nasabahnya, terlebih dalam masa-masa sulit seperti sekarang ini.

Proses pengajuan, analisis kredit, dan pencairan yang cepat serta terdigitalisasi adalah salah satu kemudahan yang ditawarkan oleh BRI.

Amam menyebutkan penyaluran kredit mikro Bank BRI secara nasional hingga Desember 2019 sebesar Rp 307,7 triliun.

Sementara untuk wilayah Denpasar sendiri mencapai Rp 21,4 triliun hingga akhir Maret 2020.

"Kami berharap semakin banyak nasabah Bank BRI yang ikut terlibat dalam memerangi wabah Covid-19 ini. BRI terus berkomitmen untuk mendukung dan memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM di situasi seperti sekarang ini," demikian Amam. (industry)

Komentar