Rabu, 17 Juni 2026 | 18:01
NEWS

Stigma Negatif Hingga Ketidakjujuran Pasien Terhadap Tenaga Perawat Corona

Stigma Negatif Hingga Ketidakjujuran Pasien Terhadap Tenaga Perawat Corona
Nurdiansyah, Perawat RSPI Sulianti Saroso (Dok BNPB)

ASKARA - Stigma negatif masyarakat terhadap perawat yang telah berjuang di garda terdepan penanganan pasien corona rupanya masih kurang dihargai di sebagian kalangan masyarakat. Bahkan, ada perawat yang diusir dari tempat tinggalnya. 

Hal itu menimbulkan kesan mendalam dan kesedihan di kalangan perawat yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan keahliannya menangani pasien yang terpapar corona. 

"Ada teman saya yang diusir dari kontrakan, ada teman saya yang dia anaknya diasingkan dengan anak tetangganya," ujar Nurmasyah, perawat di Rumah Sakit Penyakit Inspesksi (RSPI) Sulianto Saroro, melalui live streaming di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Minggu (19/4).

Selain stigma negatif di masyarakat, tenaga medis juga harus bertaruh nyawa lantaran ada yang terjangkit virus corona bahkan meninggal dunia. 

"Sekarang sudah mulai banyak teman-teman yang terinfeksi. Kasus-kasus yang terjadi dengan kita atau teman-teman perawat, ada yang sudah mulai positif, ada yang dirawat. Artinya di bulan ini sangat sedih sekali, beberapa teman ada yang dirawat bahkan berita-berita teman-teman yang tertular dari pasien, itu ada yang meninggal," tuturnya.

Perawat yang meninggal dunia, kata Nurmasyah, disebabkan adanya pasien yang tidak jujur dengan kesehatannya, sehingga perawat beranggapan pasien tersebut tidak memiliki indikasi positif virus corona.

"Ada yang teman-teman merawat pasien Covid-19 itu meninggal, ada yang tertular karena mungkin ketidakjujuran kemudian ada yang mungkin tertular di luar. Jadi memang di bulan-bulan ini kita penuh dengan duka, angka temen-temen yang positif sudah makin banyak terus angka yang meninggal banyak," katanya.

Para perawat banyak yang mengenakan pita hitam saat bekerja sebagai bentuk duka atas meninggalnya teman-teman sesama perawat. 

Nurdiansyah pun meminta agar pemerintah, serta masyarakat khususnya, untuk sama-sama melakukan pencegahan karena satu-satunya untuk melawan Covid-19 ini adalah pencegahan. 

"Pencegahan itu, yang berada di garda terdepan adalah masyarakat. Kita semua perawat, tenaga kesehatan ada di lini paling belakang ketika sudah terpaksa teinfeksi karena memang kita sudah melakukan pencegahan dengan ketat tapi masih terinfeksi. Jadi masyarakat mari kita sama-sama," imbuhnya. 

Di sisi lain, Nurmansyah berharap pemerintah memaksimalkan ketersediaan APD, serta mengatur jam kerja para tenaga medis dengan wajar. 

"Jangan sampai teman-teman mencari sendiri (APD). Mungkin pemerintah lebih tahu bagaimana APD itu yang betul, terus kemudian lindungi kami dari jam kerja ataupun rotasi. Mungkin sekarang, teman-teman bekerja seperti biasa waktunya itu dari pagi sampai malam, terus kemudian shiftnya juga biasa," harapnya.

Nurmasyah mengaku, sudah sebulan tidak berjumpa dengan orangtuanya. Terlebih, orangtuanya memiliki penyakit Komorbid. 

Komentar