Senin, 08 Juni 2026 | 14:21
NEWS

Empat Strategi Pemerintah untuk Atasi Covid-19

Empat Strategi Pemerintah untuk Atasi Covid-19
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19, Ahmad Yurianto (Dok: BNPB)

ASKARA - Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 membuat empat strategi yang akan secara konsisten dilakukan untuk menguatkan kebijakan physical distancing sebagai strategi dasar demi mengatasi pandemi virus corona (Covid-19).

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19, Ahmad Yurianto mengungkapkan, strategi pertama gerakan masker untuk semua yang mengampanyekan kewajiban memakai masker saat berada di ruang publik atau di luar rumah.

"Karena kita tidak tahu apa orang di sekitar kita menderita Covid-19 tanpa gejala atau biasa disebut tanpa gangguan. Karenanya dengan pakai masker, kita yakini kita nggak rentan pada penularan Covid-19 ini," ujarnya di kantor BNPB, Jakarta Timur, Kamis (9/4).

Kedua, penelusuran kontak (tracing) dari kasus positif yang dirawat dengan menggunakan rapid test atau tes cepat. Di antaranya pada orang terdekat, tenaga kesehatan yang merawat pasien Covid-19.

"Inilah gunanya pemerintah tentukan kebijakan untuk lakukan screening atau pemeriksaan penapisan dengan rapid test," ucap Yurianto. 

Dikatakannya, alat rapid test sudah didistribusikan lebih dari 450 ribu kit ke seluruh Indonesia. Tujuannya penjaringan kasus penelusuran kontak pada tenaga kesehatan dan komunitas di wilayah yang banyak sekali kasus positif. 

"Ini strategi awal yang dilakukan terkait tes," imbuh Yurianto.

Strategi ketiga, edukasi dan penyiapan isolasi secara mandiri pada sebagian hasil tracing, yang menunjukkan hasil tes positif dari rapid tes atau negatif dengan gejala untuk melakukan isolasi mandiri.

"Isolasi ini bisa dilakukan mandiri atau berkelompok seperti diinisiasi beberapa kelompok masyarakat. Ini positif patut diapresiasi. Sehingga saudara kita bisa lakukan dengan baik tanpa ada stigmatisasi dan upaya mengucilkan," cetusnya. 

Strategi keempat, isolasi di rumah sakit yang dilakukan kala isolasi mandiri tidak mungkin dilakukan, seperti karena ada tanda klinis yang butuh layanan definitif di rumah sakit.

Termasuk dilakukan isolasi di RS Darurat baik di Wisma Atlet ataupun di Pulau Galang yang akan diikuti beberapa daerah melakukan isolasi kasus positif, dengan gejala klinis ringan hingga sedang yang tidak mungkin laksanakan isolasi mandiri.

"Puncaknya adalah RS rujukan, untuk penanganan kasus dengan keluhan sedang hingga berat yang butuh peralatan bantu yang spesifik termasuk ventilator," tandasnya.  

Komentar