Kamis, 04 Juni 2026 | 09:59
NEWS

Curhat Pasien Diduga ODP Tidak Dapat Pelayanan Cuci Darah, Ini Jawaban Pemerintah

Curhat Pasien Diduga ODP Tidak Dapat Pelayanan Cuci Darah, Ini Jawaban Pemerintah
Tangkapan layar surat terbuka Nurasiah di jejaring Facebook.

ASKARA - Kabar memprihatinkan datang dari dunia maya, seorang perempuan bernama Nurasiah meminta pertolongan Presiden Joko Widodo karena saat ini suaminya yang bernama Suhantono tidak kunjung mendapatkan perawatan cuci darah. 

Suhantono belum juga mendapatkan perawatan dari Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta lantaran terduga berstatus orang dalam pemantauan (ODP) virus corona. 

Pasangan suami istri tersebut merupakan warga Jalan Kampung Pager Haur, Provinsi Banten.

"Pak Presiden, nama saya Nurasiah rakyat Indonesia, tinggal di Kampung Pager Haur RT001/RW002. Saya istri dari SUHANTONO yang hari ini Senin,30 maret 2020 sedang berjuang antara hidup dan mati di RS. Fatmawati. Suami saya sedang dibiarkan mati pelan-pelan karena harus mengikuti prosedur pemerintah mengenai penangan virus korona ini, yang belum tentu suami saya positif," tulis Nurasiah melalui akun Facebook, Senin (30/3).

Nurasiah mengatakan, suaminya merupakan pasien cuci darah di RS Medika BSD yang harus menjalani cuci darah dua kali seminggu. Namun pada Kamis (26/3) suaminya ditolak cuci darah lantaran saat scaning suhu tubuhnya mencapai 37,7 derajat.

"Suami saya langung dirujuk ke RS Fatmawati sebagai terduga ODP. Saya kaget. Sebagai orang kampung suami saya tak pernah memiliki riwayat bertemu orang positif Covid-19. Apalagi sehari-hari suami saya menganggur di rumah," paparnya.

"Perlu pak Presiden tahu. Pasien cuci darah memang mudah demam. Tapi itu bukan berarti terinveksi virus corona," sambung Nurasiah. 

Hingga akhirnya Nurasiah memutuskan untuk membawa sang suami ke RS Fatmawati pada Sabtu (28/3). Sayangnya, saat tiba di RS Fatmawati, kenyataan tidak sesuai yang diharapkan.

"Sampai di IGD fatmawati dengan berbekal surat rujukan dari Medika. Dengan besar harapan suami saya bisa cuci darah, tapi harapan itu nihil. Suami saya langsung di masukan ke ruang isolasi. Pak presiden apakah suhu tubuh tinggi itu karena corona? Mungkin tidak," ujar Nurasiah.

Menurutnya, bisa jadi suhu tubuh sang suami 37,7 derajat disebabkan cuci darah (Hemodialisis/HD) yang tertunda sejak Kamis lalu.

"Mungkin karena HD suami saya yang terunda sejak hari KAMIS. Ia bukan hanya panas tapi juga sesak karena cairan yang menumpuk di tubuhnya. Itu problem sehari-hari pasien HD," kata Nurasiah.

Saat diisolasi ternyata suami tidak mendapatkan tindakan apapun, apalagi cuci darah.

"Sekarang, suami saya diisolasi di ruang Isolasi Matahari RS.Fatmawati, tanpa mendapat tindakan cuci darah. Ya Allah, saya tidak dapat membayangkan beratnya penderitaan suami saya tanpa cuci darah. Padahal Ia belum tentu terpapar corona," tuturnya.

Disebut Nurasiah, suaminya tersebut diputuskan RS Fatmawati untuk tetap diisolasi hingga hasil swab yang akan keluar pada tujuh hari mendatang. 

"Ya Tuhan, suami saya sedang dibunuh pelan2. Ia tak akan sanggup menjalani ini. Pak Presiden, jangan sampai suami saya mati sia-sia karena kesalahan penangan RS. Jangan sampai suami saya mati sia-sia hanya karena dicurigai terpapar covid-19," ujarnya.

"Saya mohon kepada bapak Presiden, agar suami saya mendapat tindakan cuci darah hari ini.  Hari ini pak, Senin 30 maret 2020. Suami saya sudah tidak sanggup bertahan. Saya mohon pak Presiden  demi kedua anak saya yg masih kecil-kecil," lanjutnya 

Nurasiah pun meminta agar pesannya tersebut bisa disebar warganet hingga diterima oleh Presiden Jokowi. 

"Sekali lagi Pak Presiden. Keluarkan suami saya dari neraka dunia di ruang Isolasi Matahari Fatmawati dan berikan tindakan cuci darah segera. Kepada saudaraku sebangsa se tanah air. Saya mohon pretolongan, sampaikan surat terbuka saya ini kepada Pak Presiden, atau siapa pun yg dapat mengambil kebijakan, demi nyawa suami saya yang sedang terancam. Tolonglah saya. Semoga Allah SWT memberikan jalan," tutupnya. 

Menindaklanjuti unggahan Nurasiah, redaksi Askara mencoba untuk menghubungi Humas RS Fatmawati namun belum berhasil. Nomor kontak yang dihubungi tidak aktif termasuk melalui pesan teks WhatsApp yang tidak memberikan respons.

Juru Bicara Pemerintah unutk Penanganan Wabah Corona Achmad Yurianto mengaku akan menelusuri kondisi pasien tersebut.

"Tanyakan langsung ke Fatmawati. Saya tidak tahu kondisi klinisnya," kata Yurianto saat dikonfirmasi Askara.

Kemudian redaksi menjelaskan bahwa nomor kontak Humas RS Fatmawati tidak aktif, dia pun merespon akan menindaklanjutinya. 

"Saya coba tanyakan," kata Yurianto.

Komentar