Rupiah Melemah, Ukuran Tahu Tempe Makin Kecil
ASKARA - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat kekhawatiran pengusaha tahu dan tempe di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Sebab, harga kedelai sebagai bahan baku utama tahu dan tempe bergantung pada nilai tukar rupiah.
Ketua Koperasi Tahu Tempe (Kopti) Kabupaten Cianjur Hugo mengatakan, melemahnya rupiah ke angka Rp 16 ribu membuat harga kedelai naik dari yang semula Rp 7.000 menjadi Rp 8.200 per kilogram.
"Bahan baku kedelai kita masih bergantung pada impor, jadi harga kedelai bergantung pada nilai tukar rupiah terhadap dollar. Kenaikannya cukup signifikan, selisihnya sampai Rp 1000 per kilogram," jelasnya, Rabu (25/3).
Menurut Hugo, kenaikan dengan selisih Rp 1.000 per kilogram dari harga normal merupakan yang tertinggi sejak beberapa tahun terakhir. Biasanya jika ada kenaikan hanya berkisar di Rp 200 atau maksimal Rp 300 per kilogram.
"Ini hanya dalam waktu sepekan kenaikannya signifikan. Dan kemungkinan bisa terus naik dengan situasi merebaknya Covid-19 di Indonesia," katanya.
Kenaikan harga bahan baku membuat 300 pengusaha tahu dan tempe di Cianjur kebingungan. Sebab pengeluaran produksi turut meningkat.
Rencananya sementara pengusaha menyesuaikan ukuran menjadi lebih kecil dibandingkan harus menaikkan harga tempe dan tahu.
"Sementara ukuran disesuaikan sambil menunggu hasil komunikasi dengan pengurus di tingkat provinsi. Kalau terus naik kemungkinan tidak hanya ukuran tapi juga harga," tutur Hugo.
Dia berharap pemerintah bisa mengambil langkah agar rupiah kembali menguat dan harga kedelai bisa turun.
Di sisi lain, Abdul (36) salah seorang pedagang tempe di Pasar Induk Pasirhayam, Cianjur mengaku imbas melemahnya rupiah dan naiknya harga bahan baku kedelai membuat dia kesulitan serta merugi. Sebab beberapa hari terakhir masih tetap menjual tempe dengan harga dan ukuran normal.
Rencananya pedagang libur beberapa hari dan kembali berjualan dengan ukuran dan harga yang baru, disesuaikan dengan kondisi naiknya bahan baku.
"Beberapa hari ini kami jual rugi, antara pengeluaran produksi dan harga jual tidak seimbang. Makanya akan tutup dulu sampai Jumat kemudian jualan lagi dengan ukuran dan harga baru," jelasnya. (kesatu/why)

Komentar