Senin, 15 Juni 2026 | 09:34
NEWS

Moeldoko: Pemerintah Tak Lepas Tanggung Jawab Soal Virus Corona

Moeldoko: Pemerintah Tak Lepas Tanggung Jawab Soal Virus Corona
Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko

ASKARA - Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko mengatakan, penanganan virus corona (Covid-19) harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan saling menyalahkan ataupun menunggu pemerintah bereaksi. 

Hal ini disampaikannya usai mengunjungi RS Lapangan untuk penanganan virus corona yang didirikan Artha Graha Peduli (AGP) di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Minggu (8/3).

"Sebenarnya lebih kepada panggilan. Semua orang harus ikut terpanggil menangani persoalan ini. Jangan sampai seolah-olah ini adalah persoalan pemerintah. Yang pada akhirnya semua menunggu. Saya pikir enggak bagus lah. Dengan situasi negara seperti ini, semua harus terpanggil, ikut terlibat di dalamnya," ujar Moeldoko.

Namun demikian, kata dia, bukan berarti pemerintah lepas tanggung jawab terhadap rakyatnya dalam menghadapi virus asal Wuhan, Tiongkok ini.

"Bukan berarti pemerintah melepaskan diri dari tanggung jawabnya, tidak. Tetapi pemerintah tetap berusaha menyediakan yang terbaik. Tapi partisipasi publik sebagai tanggung jawab sosial juga sangat diperlukan," kata dia.

Moeldoko menyebut, pemerintah juga tidak menolak segala komentar ataupun kritik, hanya saja dukungan dari masyarakat merupakan bagian dari penanganan yang efektif.

"Ya, sebenarnya kita dalam situasi seperti ini, bukannya kita anti kritik, tidak. Tapi yang lebih dikedepankan adalah bagaimana berkolaborasi. Tidak ada yang sempurna. Tetapi kalau semua ditangani bersama-sama, kita akan lebih baik," tuturnya.

Langkah Indonesia dalam mencegah virus corona, disebut Moeldoko dilakukan sesuai dengan perkembangan. Pun demikian menurutnya tidak ada hal yang ditutup-tutupi terkait virus ini di Indonesia.

"Semuanya itu betul-betul disesuaikan dengan perkembangan. Bukan berarti di negara lain sudah seperti itu, kita juga sama kondisinya, tidak. Kan kita lihat perkembangan di dunia, ada tahapan-tahapan. Seperti pertama di China, kemudian berikutnya di negara mana, di situ. Kondisi terakhir itulah yang bisa kita dapatkan, bukan kita ngarang, bukan kita menutupi," tandasnya.

Komentar