Beda Demam Akibat Gejala Corona dengan Flu Biasa
ASKARA - Wabah virus corona (Covid-19) telah menyerang sekitar 40 ribu orang di seluruh dunia, lebih dari 1.000 orang meninggal dunia.
Rata-rata orang terinfeksi virus yang berasal dari Kota Wuhan itu mengalami gejala demam.
Perbedaan gejala demam corona dengan demam biasa
Orang yang terinfeksi corona biasanya mengalami demam, batuk dan sesak napas. Khusus untuk demam, biasanya muncul dalam 2-14 hari setelah terpapar virus. Jumlah hari dihitung berdasarkan masa inkubasi virus. Karena itu, ada kemungkinan orang sudah terinfeksi baru mengalami gejala demam setelah beberapa hari dan lolos thermal scanner di bandara seperti yang terjadi di Paris, Prancis.
Namun begitu, demam akibat virus corona bisa berbeda dengan yang diakibatkan dari flu biasa.
Dr. Sita Laksmi Andarini Ph.D, Sp.P(K), dokter spesialis paru di MRCCC Siloam Semanggi mengatakan, perbedaan demam pada corona dan flu biasa terletak pada riwayat perjalanan. Apakah Anda pernah mengunjungi daerah yang positif menjadi tempat penularan virus atau tidak.
Jika tidak memiliki riwayat bepergian ke tempat yang terinfeksi corona tetapi mengalami demam tinggi dan pernah menjalin kontak langsung dengan orang yang terinfeksi kemungkinan gejala itu dipicu oleh virus corona.
Gejala demam akibat corona biasanya diikuti dengan suhu tinggi di atas sekitar 38 derajat Celcius sedangkan suhu tubuh ketika demam biasa terjadi sekitar 37,2 38 derajat Celcius.
"Selain itu, infeksi corona virus atau jenis virus berat lainnya membuat penderitanya kesulitan melakukan aktivitas tertentu. Artinya, infeksi virus tidak sekadar flu biasa sehingga gejala demam novel corona virus tidak dapat disamakan dengan flu pada umumnya," papar dr. Sita.
Gejala corona tidak hanya ditandai dengan demam biasa melainkan juga badan terasa lemas dan sakit. Selain itu, biasanya suhu demam tidak mudah turun hingga beberapa hari.
Dengan begitu, bisa dibedakan mana yang termasuk tanda-tanda gejala virus corona dengan gejala flu biasa.
Banyak yang menganggap gejala demam akibat virus corona dapat disembuhkan dengan obat penurun panas. Namun faktanya tidak demikian.
Di sisi lain, obat khusus yang efektif untuk mengobati gejala corona masih belum ada yang disetujui oleh pemerintah. Oleh karena itu, tenaga kesehatan melakukan perawatan dengan mencoba mengurangi gejala seperti demam, batuk, muntah, diare, dan rasa lelah. Tindakan medis itu bertujuan agar pasien tetap merasa nyaman saat tubuh melawan infeksi virus.
Metode perawatan ini termasuk obat untuk mengurangi demam. Tetapi dokter biasanya meresepkan obat antireptik, seperti ibuprofen, dan acetaminophen. Obat-obat itu mungkin dapat menurunkan gejala demam akibat corona, namun diperlukan metode tambahan agar suhu tubuh menurun eperti mandi air dingin dan memenuhi kebutuhan cairan.
Umumnya, orang yang pernah terkena infeksi novel coronavirus mengalami gejala yang cukup ringan dan kemungkinan sembuhnya cukup besar. Selain itu, hampir sebagian besar pasien yang mendapatkan perawatan ini dapat menghindari risiko komplikasi dan sembuh.
Gejala corona, terutama demam, mungkin terdengar tidak begitu parah. Namun, ketika mengalaminya dan memiliki riwayat bepergian dari Tiongkok atau berkontak langsung dengan pasien yang terinfeksi sebaiknya segera periksa ke dokter.
Perawatan yang dilakukan untuk meringankan gejala corona terutama demam, batuk hingga mengganggu saluran pernapasan cukup membantu. Hal ini dikarenakan belum ada obat antiviral yang benar-benar dikhususkan untuk melawan infeksi virus corona.
Gejala demam akibat virus corona maupun flu biasa memang hampir mirip, namun yang membedakan adalah suhu tubuh dan riwayat bepergian.
Disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter ketika mengalami gejala flu sebagai upaya mengurangi risiko komplikasi infeksi. (dbs/why)

Komentar