ASKARA - Paus Leo XIV mengajak umat Katolik untuk tidak puas dengan kehidupan yang sekadar baik atau menjalankan iman sebatas rutinitas. Setiap orang dipanggil untuk menjadi kudus dengan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Kristus.
Pesan kuat tersebut disampaikan Paus Leo XIV dalam acara doa vigil di Montevideo, Uruguay, Sabtu malam, dalam rangkaian hari kedua perjalanan apostoliknya ke negara tersebut.
“Biarlah Kristus sungguh hadir dalam apa yang kalian lakukan, apa yang kalian cintai, dan setiap keputusan yang kalian ambil, bahkan dalam bagian kehidupan yang tidak dilihat siapa pun. Jadilah orang kudus! Jangan puas dengan kehidupan yang sekadar baik atau iman yang hanya menjadi kebiasaan. Jangan memberikan kepada Tuhan hanya sebagian dari diri kalian, tetapi serahkanlah diri kalian sepenuhnya,” pesan Paus Leo XIV, Minggu (8/11/2026).
Bapa Suci menegaskan, kekudusan bukan sesuatu yang hanya diperuntukkan bagi segelintir orang. Para kudus adalah laki-laki dan perempuan yang hidupnya dipenuhi kelimpahan kasih Kristus. Mereka menjadi pribadi yang merdeka, autentik, serta menghadirkan daya tarik untuk memilih cinta kasih, kebenaran, dan kebahagiaan.
“Jangan takut bercita-cita menjadi kudus. Kristus tidak memanggil kita untuk hidup biasa-biasa saja. Dia memanggil kita menuju kehidupan baru yang penuh, seperti kehidupan-Nya sendiri,” tegasnya.
Paus juga menyoroti tantangan sekularisasi dan sikap acuh tak acuh terhadap agama yang semakin meluas di tengah masyarakat. Namun, ia memberikan penghargaan kepada mereka yang tetap setia menjaga iman, seperti orang tua yang berdoa bersama anak-anak, guru yang memberikan kesaksian iman, kaum muda yang mengikuti Kristus, serta para imam yang menempuh perjalanan jauh untuk melayani umat.
Menurut Paus, membangun dunia tanpa Tuhan berisiko membuat manusia kehilangan tempat dan makna dalam kehidupannya. Karena itu, Kristus harus tetap menjadi pusat kehidupan setiap orang beriman.
Ia mengingatkan umat agar menyediakan ruang bagi Kristus melalui doa, Misa Kudus, Sakramen Pengakuan Dosa, serta membaca dan merenungkan Injil.
“Kita semua harus terus-menerus menjadi murid Kristus. Jika ingin orang lain menemukan Kristus, terlebih dahulu kita sendiri harus mengetahui jalan menuju Betlehem,” ungkapnya.
Paus Leo XIV juga mengajak umat berani mengambil keputusan besar dalam kehidupan. Kaum muda didorong untuk tidak takut menikah dan membangun keluarga. Pasangan suami istri diajak terbuka terhadap kehidupan, sementara mereka yang terpanggil menjadi imam atau hidup bakti diminta tidak mengabaikan panggilan Tuhan karena ketakutan kehilangan kesempatan lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, Bapa Suci mengingatkan pentingnya kejujuran, keadilan, pengampunan, dan pengorbanan bagi sesama.
“Ketika berlaku adil dan jujur harus dibayar mahal, bayarlah. Ketika mengampuni terasa seperti kekalahan, ampunilah. Ketika semua orang menyuruh kalian mengutamakan diri sendiri, jangan takut mengambil tempat terakhir,” pesannya.
Ia menegaskan, kesaksian hidup umat Kristiani dapat membangkitkan kerinduan orang lain untuk mengenal Tuhan. Tidak diperlukan jumlah besar untuk menghadirkan terang, melainkan kesediaan memantulkan cahaya Kristus.
“Kabar Gembira membutuhkan saksi, sebab kita telah menerima kabar yang layak diwartakan kepada seluruh dunia: Yesus Kristus!” serunya.
Paus juga mengingatkan bahwa tidak ada lembaga atau nilai duniawi yang dapat menggantikan pewartaan tentang kasih Allah yang lebih kuat daripada kematian, kebencian, kekerasan, perang, dan dosa.
Menutup pesannya, Paus Leo XIV mengajak umat kembali menjalani kehidupan dengan semangat baru setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus. Ia mengingatkan bahwa Yesus yang lahir di Betlehem, wafat dan bangkit, tetap hidup dan hadir secara nyata dalam Ekaristi.
Umat diajak mengunjungi Sakramen Mahakudus, beradorasi, dan berbicara kepada Yesus seperti kepada seorang sahabat.
“Berbicaralah kepada-Nya seperti kalian berbicara kepada seorang sahabat. Biarkan Dia memandang kalian,” pesannya.
Paus kemudian mengajak umat menyerahkan hidup kepada perlindungan Bunda Maria dari Tiga Puluh Tiga (Our Lady of the Thirty-Three), pelindung Uruguay, agar senantiasa mampu mengenali dan mengikuti Putranya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa iman Katolik bukan sekadar identitas atau rutinitas keagamaan. Iman harus diwujudkan melalui kehidupan yang penuh kasih, keberanian, pengampunan, kesetiaan, dan pengabdian.
Sebab, menjadi kudus bukan berarti hidup tanpa kekurangan, melainkan membiarkan Kristus hadir dan bekerja dalam seluruh aspek kehidupan manusia.