ASKARA - Berlian Banjarmasin atau dikenal masyarakat Banjar sebagai Intan Sultan Adam akhirnya akan kembali ke Indonesia setelah lebih dari 160 tahun berada di Belanda. Selain memiliki nilai sejarah tinggi, berlian berusia lebih dari satu abad itu diperkirakan bernilai hingga Rp50 miliar.
Pengembalian berlian tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian penyerahan (transfer agreement) oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda Rianne Letschert di Indonesia House Amsterdam, Jumat (9/10/2026).
Intan Sultan Adam merupakan bagian dari regalia atau pusaka Kesultanan Banjar. Berlian tersebut dahulu dikenakan sebagai kalung oleh Sultan. Setelah Sultan Adam Al-Watsiq Billah wafat pada 1857, pusaka kesultanan itu akhirnya disita Belanda pada 1859 di tengah konflik suksesi dan tekanan militer kolonial.
Dalam dokumen penyitaan berjudul Proces Verbaal van Afpakking, berlian tersebut tercatat sebagai barang sitaan. Rijksmuseum bahkan secara terbuka menyebutnya sebagai war booty atau jarahan perang. Berlian kemudian dibawa ke Batavia dan dikirim ke Belanda pada 1861 sebelum menjadi bagian koleksi Rijksmuseum pada 1902.
Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, L. Amrih Jinangkung, mengatakan nilai berlian tersebut sangat tinggi, bukan semata karena ukuran dan kualitas fisiknya, melainkan juga karena nilai sejarah dan kedudukannya sebagai pusaka Kesultanan Banjar.
“Harganya pasti sangat-sangat tinggi. Tidak hanya soal fisik bendanya, tetapi juga nilai yang terkandung di dalam berlian itu sebagai pusaka Kesultanan Banjar. Nilai sejarahnya tentu membuat berlian ini jauh lebih berharga,” ujar Amrih, Minggu (11/10/2026).
Berlian yang semula memiliki berat sekitar 70 karat itu telah dipotong dan dipoles hingga menjadi 38,24 karat. Ukurannya sekitar 2,2 x 1,7 x 1,4 sentimeter dengan berat 7,65 gram.
Berdasarkan spesifikasi yang tercatat, berlian ini memiliki kategori warna E (colorless), yakni tingkat kedua tertinggi dalam skala warna GIA, serta kejernihan SI2 (Slightly Included 2), yang menunjukkan adanya inklusi atau ketidaksempurnaan yang dapat terlihat melalui pembesaran.
Ditaksir Rp30-Rp50 Miliar
Dari sisi komersial, berlian alami dengan berat dan karakteristik tersebut diperkirakan memiliki nilai grosir sekitar 1,72 juta hingga 2,86 juta dolar AS.
Dengan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS, nilainya setara sekitar Rp30,1 miliar hingga Rp50,05 miliar. Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan perbandingan pasar, bukan hasil penilaian resmi atau harga lelang berlian tersebut.
Ukuran di atas 30 karat tergolong langka. Namun, nilai akhir juga ditentukan oleh kualitas potongan, kejernihan, kondisi fisik, serta faktor historis dan asal-usul berlian.
Bukan Sekadar Berlian
Bagi Indonesia, kepulangan Intan Sultan Adam bukan sekadar pengembalian benda berharga, melainkan pemulihan warisan sejarah dan identitas budaya masyarakat Banjar.
Selain berlian tersebut, Belanda juga menyepakati pengembalian 19 benda budaya lainnya. Di antaranya Al-Qur'an milik keluarga Teuku Umar, gulungan Wayang Beber Jawa abad ke-17, pedang Sikin Panjang dari Aceh, manuskrip Kesultanan Aceh, panel arsitektur, dan batu nisan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan, repatriasi harus menjadi landasan pemulihan dan rekonsiliasi sejarah, bukan untuk membuka kembali luka masa lalu.
Menurutnya, Indonesia berkomitmen menjalankan tiga prinsip, yakni care, research, dan educate: pelestarian yang bertanggung jawab, kerja sama penelitian, serta perluasan akses masyarakat terhadap warisan budaya.
Dalam kesempatan yang sama, kedua negara juga menandatangani perjanjian pengembalian sisa Koleksi Dubois, yang terdiri atas sekitar 29.763 benda dan 427 sisa jasad manusia yang dikumpulkan Eugène Dubois di wilayah Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Koleksi tersebut memiliki nilai ilmiah penting, termasuk dalam penelitian evolusi manusia dan Homo erectus.
Amrih Jinangkung menilai proses repatriasi ini mencerminkan dialog dan kerja sama konstruktif antara Indonesia dan Belanda sekaligus memperkuat hubungan kedua negara.
Pada akhirnya, nilai Intan Sultan Adam tidak dapat diukur hanya dengan rupiah. Di balik kilau berlian 38,24 karat itu tersimpan sejarah Kesultanan Banjar, jejak kolonialisme, dan identitas budaya yang kini kembali menjadi bagian dari warisan bangsa Indonesia.