Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:49
COMMUNITY

Conggo Meliala: Alumni Karo Bandung EMAKA BAN Siap Berkolaborasi Demi Kemajuan Karo

Conggo Meliala: Alumni Karo Bandung EMAKA BAN Siap Berkolaborasi Demi Kemajuan Karo
Alumni Karo Bandung EMAKA BAN siap berkolaborasi (Dok Melva)

ASKARA - Ketua Umum Komunitas EMAKA BAN (Eks Mahasiswa Karo Bandung) Vespa Conggo Sembiring Meliala mengatakan harapan para alumni Karo Bandung untuk kemajuan orang Karo khususnya di Tanah Karo adalah adanya perubahan secara radikal dalam bidang pendidikan, memerangi “penyakit masyarakat”, serta mengembangkan pariwisata dan pertanian modern. Untuk mewujudkan harapan tersebut penting peran aktif masyarakat, termasuk EMAKA BAN, mulai dari meningkatkan kesadaran, memberikan gagasan, hingga berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendorong kemajuan signifikan masyarakat Karo.

Keterpanggilan EMAKA BAN untuk Karo, kata Conggo Meliala, pada acara Reuni & Curpik (Curah Pikiran) EMAKA BAN di Hotel Mercure Ancol Jakarta (24/10) sebenarnya sudah diwujudkan dengan beberapa kali pertemuan dan telah memberi konsep atau pemikiran kepada Bupati Karo Antonius Ginting dan staf Kabupaten Karo. Bahkan sudah ada tokoh EMAKA BAN yang langsung turut menjadi konsultan demi  merealisasikan apa yang disarankan, yaitu Drs. Joseph Ginting Munthe, M.S., Ak (Akuntan Publik) dan Ir. Alimin Ginting (pakar geologi).

Dalam acara Curpik yang dihadiri sekitar 75 orang, topik yang dibahas adalah “Pemikiran EMAKA BAN untuk Karo Emas 2035: Peluang, Tantangan, dan Transformasi  Agritech Tanah Karo”. Didiskusikan tentang Strategi Pembangunan, Transformasi Pertanian Hulu-Hilir, dan Tata  Kelola Menuju Karo Emas 2035. Nara sumbernya dua alumni ITB yaitu Dr. Ir. P. Philips Kembaren, M.B.A., Praktisi Strategi, Inovasi & Strategic Foresight dan  Prof. Dr. Ir. Rosmawaty Peranginangin, M.S., profesor riset bioteknologi kelautan dan perikanan. Sedianya, Bupati Karo Antonius hadir sebagai keynote speaker. Namun karena ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan akhirnya Antonius mencul lewat zoom beberapa saat dan memohon maaf atas ketidakhadirannya di Jakarta.

Karo Raya

Menurut narsum Dr. Philips Kembaren, diskusi ini bertujuan untuk menyamakan persepsi, memperluas cakrawala berpikir, serta membayangkan berbagai kemungkinan masa depan Kabupaten Karo melalui kerangka jangka panjang menuju Karo Emas 2035 dan Karo 2045 ("Mejuah-juah, Maju dan Berkelanjutan"). 

Dia juga menjelaskan tiga ruang lingkup wilayah secara bijak: Kabupaten Karo (wilayah administratif resmi), Taneh Karo (ruang historis dan kultural), serta Karo Raya (gagasan jejaring komunitas dan diaspora).  Ahli strategi dan inovasi tsb menyoroti potensi aset utama Karo yang perlu dikembangkan, meliputi sumber daya manusia (SDM), pertanian dan pangan, industri kreatif, alam dan pariwisata, budaya dan jati diri, serta wirausaha dan jejaring. 

Ditekankannya pentingnya tata kelola yang sehat, integritas, pengawasan yang adil, serta pencegahan konflik kepentingan dan favoritisme dalam menjalankan roda pembangunan.

Sementara itu, Prof. Rosmawaty berbicara tentang Transformasi Agritech & Rantai Pasok Tanah Karo. Menurut Rosmawaty, Visi Pertanian Karo 2035: Mewujudkan petani yang sejahtera, produk bernilai tambah, serta kelestarian alam yang tetap terjaga melalui target arah pembangunan yang diusulkan. 

Mengenai Transformasi Hulu-Hilir, katanya, atasi masalah klasik seperti sistem ijon, kerugian pascapanen yang tinggi, kemacetan distribusi, dan standar mutu.

Sedangkan penerapan teknologi modern seperti Smart Farming (sensor Iot tanah dan cuaca, drone pemupukan, irigasi tetes otomatis, serta penggunaan teknologi Artificial Intelligence) untuk menekan risiko gagal panen di bawah 5%. 

Secara mendetail peneliti senior LIPI ini memaparkan antara lain tentang pembangunan fasilitas Pre-Cooling di ladang, Agro-Industrial Hub (Packhouse), serta penyimpanan jangka panjang berbasis Controlled Atmosphere Storage (CAS) menggunakan tenaga surya (PLTS).  Juga mengenai penggunaan truk pendingin (Reefers) dan rekayasa pengemasan yang memenuhi standar global guna memperpanjang masa simpan komoditas unggulan seperti cabai merah dan tomat. 

Termasuk kolaborasi Pentahelix: Melibatkan peran aktif Pemerintah (Pusat & Daerah), Swasta/Investor, Akademisi/Pakar, Komunitas Pertanian (Koperasi/BUMDes), serta Media Massa dalam mendukung pembiayaan campuran (Blended Finance) dan ekosistem terpadu. 

“Mewujudkan Karo Emas 2035 memerlukan keberanian dalam merombak tata kelola agraria dan logistik secara radikal melalui adopsi teknologi yang diiringi kepastian hukum”, jelas Prof. Rosmawaty. Katanya lagi, perlindungan lahan pertanian berkelanjutan (seperti melalui Perda LP2B) serta peningkatan literasi digital bagi generasi muda tani merupakan kunci utama untuk mencapai ekonomi inklusif dan kesejahteraan masyarakat Karo yang berdaulat. 

Pembahasan Curpik semakin menghangat namun waktunya sangat terbatas. Hadir juga dalam kesempatan tsb tokoh profesional Karo lainnya antara lain mantan Hakim Agung Yakub Ginting, MA, dosen dan pengamat hukum Dr. Sentosa Sembiring, serta Alexander Barus, tokoh bisnis dan eksekutif senior yang dikenal sebagai CEO PT. IMIP dan tentunya para tokoh EMAKA BAN. Conggo menjelaskan  hasil diskusi tetap akan diberikan kepada Bupati Karo. 

Editor: Dar Edi Yoga