ASKARA - Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 menjadi momentum bagi Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) untuk mengajak Orang Muda Katolik (OMK) menghidupi semangat persatuan, cinta tanah air, dan pengabdian melalui keteladanan empat Paus.
Ajakan tersebut disampaikan dalam seminar bertajuk Belajar dari Kepemimpinan 4 Paus yang melibatkan ratusan perwakilan OMK dari berbagai paroki, mahasiswa, serta Taruna Muda Katolik dari lingkungan TNI, Polri, STIK, Unhan, dan BIN. Kegiatan berlangsung di Pusat Pastoral Samadi, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Seminar ini merupakan kolaborasi Komisi Kepemudaan (Komkep) KAJ, Pusat Pastoral (PusPas) KAJ, Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI), serta jejaring gerakan Cultura di Vita, Kabar Baik, dan Forducat.
Dipandu jurnalis senior Rosiana Silalahi, diskusi menghadirkan empat narasumber, yakni Romo Yustinus Sulistiadi, Pr., Romo Ricky Maulana, Pr., Romo Yustinus Ardianto, Pr., dan Romo Ulun Ismoyo, Pr. Mereka mengajak kaum muda memahami bahwa kepemimpinan bukan semata-mata tentang jabatan, melainkan keberanian mengambil tanggung jawab dan melayani sesama.
Keteladanan Santo Paus Yohanes Paulus II diangkat melalui seruan non abbiate paura atau jangan takut. Pesan tersebut menjadi dorongan bagi generasi muda untuk berani menghadapi tantangan, terus belajar, serta teguh menjalankan tanggung jawab di tengah perubahan zaman.
Sementara itu, Paus Benediktus XVI memberikan inspirasi melalui komitmen terhadap dialog dan kerendahan hati intelektual. Paus Fransiskus mengajak kaum muda keluar dari zona nyaman, membuka diri terhadap sesama, dan membangun kepedulian tanpa sekat. Adapun kepemimpinan Paus Leo XIV menjadi refleksi tentang pentingnya menghubungkan nilai moral dan ajaran sosial Gereja dengan persoalan keadilan sosial serta keberlanjutan.
Keempat figur tersebut menjadi sumber pembelajaran bagi kaum muda untuk mengembangkan integritas, menghormati perbedaan, dan memperjuangkan kebaikan bersama. Nilai-nilai itu dinilai relevan untuk diterapkan, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun di tengah tantangan era digital.
Ketua Panitia, RD Yoseph Maria Marcelinus Bintoro, Pr., menegaskan bahwa peringatan Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Semangat kebangsaan harus diteruskan melalui gerakan nyata yang menumbuhkan kecintaan terhadap Indonesia.
"Kita siapkan gerakan-gerakan kita selanjutnya untuk semakin menghidupi cinta akan tanah air. Karena kita merawat sejarah kita, kita menghidupi tanggung jawab sejarah kita," tegas Romo Yos seusai Misa Syukur di Pusat Pastoral Samadi.
Romo Yos juga mengapresiasi perjumpaan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk institusi pendidikan TNI dan Polri, dengan orang muda Katolik dari berbagai paroki. Kehadiran para imam dari lingkungan kuria, lembaga pendidikan, paroki teritorial, dan pelayanan kategorial menunjukkan pentingnya sinergi dalam membangun karakter serta menyiapkan pemimpin masa depan.
Rangkaian kegiatan mencapai puncaknya melalui Perayaan Ekaristi konselebrasi yang dipimpin Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo. Perayaan tersebut menjadi momentum syukur sekaligus peneguhan agar kaum muda tidak hanya menjadi penonton dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi berani mengambil bagian dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.
Dimensi kebangsaan kegiatan ini turut diperkuat dengan kehadiran sejumlah perwira tinggi militer, antara lain Mayjen TNI Frega Wenas Inggiriwang, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, dan Marsda TNI (Purn) Herly.
Melalui kolaborasi antara komisi keuskupan, gerakan awam, komunitas media, dan kalangan akademisi, KAJ berharap semangat pelayanan dapat diwujudkan dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kehidupan sosial, hingga pengabdian kepada negara.
Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 ini sekaligus menegaskan bahwa persatuan bukan sekadar warisan sejarah yang dikenang setiap tahun. Persatuan harus terus dihidupi melalui keberanian mengambil tanggung jawab, menghargai perbedaan, dan bekerja bersama demi keutuhan serta kemajuan Indonesia.