Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:55
NEWS

Miris! Indramayu Lumbung Padi Nasional Tapi Petaninya Miskin, Prof. Rokhmin Tantang Amarta Padi Buktikan Inovasi Agroekologi

Miris! Indramayu Lumbung Padi Nasional Tapi Petaninya Miskin, Prof. Rokhmin Tantang Amarta Padi Buktikan Inovasi Agroekologi
Prof Rokhmin Dahuri foto bersama Amarta Padi (dok.askara)

ASKARA - Sebuah paradoks aneh bin ajaib terjadi di Kabupaten Indramayu. Daerah yang dikenal sebagai lumbung padi terbesar di Indonesia dengan produksi lebih dari 1,0 juta ton per tahun, justru menjadi kabupaten dengan petani termiskin di Indonesia.

Fakta miris ini dibongkar langsung oleh Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., saat mengunjungi kegiatan Sekolah Lapangan (SL) yang digelar Amarta Padi (Asosiasi Masyarakat Tani Padi Indonesia) Indramayu, Minggu (25/10/2026). Kegiatan ini dilengkapi dengan Laboratorium Lapangan sebagai tempat praktik langsung selama satu musim tanam penuh.

Di hadapan para petani inovator, Prof. Rokhmin memberikan apresiasi tinggi terhadap terobosan AMARTA PADI yang tidak lagi bertani secara konvensional. Mereka mengembangkan ekosistem pertanian modern melalui sekolah lapangan, laboratorium lapangan, pemuliaan benih mandiri, hingga penerapan sistem pertanian berbasis agroekologi.

“Langkah AMARTA PADI ini sangat strategis. Ini jawaban untuk masalah akut pertanian kita: tanah yang sudah memadat, kesuburan yang hilang, mikroorganisme tanah yang mati, dan ketergantungan akut pada pupuk dan pestisida kimia dari luar,” tegas Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University tersebut.

Namun, ia memberikan catatan kritis. Menurutnya, inovasi agroekologi tidak boleh berhenti sebagai jargon. Harus ada pembuktian ilmiah yang terukur.

“Harus dibuktikan dengan data. Apakah produktivitasnya naik? Biaya produksinya turun? Lingkungan menjadi lebih sehat? Dan yang paling penting, apakah pendapatan petani benar-benar meningkat?” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001-2004 itu melontarkan pertanyaan reflektif yang menyentak kesadaran.

“Indramayu merupakan salah satu penghasil padi terbesar di Indonesia. Namun, mengapa petaninya masih menghadapi kemiskinan? Inilah paradoks yang harus kita selesaikan. Petani tidak boleh hanya menjadi penghasil pangan, tetapi juga harus menikmati kesejahteraan dari hasil kerja kerasnya,” tegasnya.

Ia pun berkomitmen akan mengawal inovasi agroekologi ini hingga ke tingkat nasional jika terbukti berhasil.

“Jika model Indramayu ini terbukti lebih produktif, lebih efisien, ramah lingkungan, dan menyejahterakan, saya siap mendorongnya menjadi model transformasi pertanian nasional,” janjinya.

Menurut Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) ini, sudah saatnya Indonesia melakukan lompatan besar. Transformasi pertanian tidak lagi sekadar mengejar tonase produksi, melainkan harus berorientasi pada pertanian yang produktif, efisien, berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, berkelanjutan, dan berkeadilan.

Sementara itu, perwakilan Amarta Padi, Kang Johar, menjelaskan para peserta diajarkan membuat benih sendiri dengan konsep agroekologi dan pemuliaan benih, mulai dari menyiapkan lahan hingga panen.

Prof. Rokhmin sangat mengapresiasi pendekatan tersebut. Menurutnya, penderitaan petani saat ini disebabkan tanah yang sudah sakit: terjadi soil compaction atau pemadatan tanah, mikroba dan bakteri berkurang, dan unsur hara menurun.

Ia mengakui, agroekologi itu bagus dan berkelanjutan, tapi sejak zaman kuliah masih jadi teori karena pada tahap awal hasilnya lebih rendah dibanding pupuk kimia.

Karena itu, Prof. Rokhmin memberikan tantangan nyata: buktikan 100 anggota Amarta Padi di Indramayu yang masing-masing menggarap 2 hektare bisa memiliki produktivitas lebih tinggi dan lebih makmur.

"Kalau terbukti lebih makmur, itu pahlawan," tegasnya. Ia berjanji akan menasionalkan model ini ke seluruh Indonesia jika berhasil.

Editor: Husnie

Berita Terkait