Prof. Rokhmin Dahuri: Wakil Rakyat Jangan Jadi Kacang Lupa Kulitnya, Harus Selalu Hadir Bersama Rakyat
ASKARA - Pesan kuat itu disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., saat bersilaturahmi dengan masyarakat di Kabupaten Indramayu, Sabtu (25/7).
Prof. Rokhmin menegaskan, menjadi wakil rakyat bukan alasan untuk menjaga jarak. Justru amanah dari rakyat harus dibayar dengan kehadiran, mendengarkan, dan memperjuangkan kepentingan mereka di lapangan.
"Banyak masyarakat yang berpesan, kalau nanti sudah menjadi anggota Dewan, jangan menjadi kacang yang lupa kulitnya. Dan itu yang ingin saya buktikan," ujar Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini.
Menurutnya, tugas wakil rakyat adalah "belanja masalah" - turun langsung, mendengar aspirasi, memahami persoalan, dan hadir dalam suka maupun duka masyarakat.
"Saya bersama keluarga senang bersilaturahmi dan berdialog langsung. Ketika terjadi El Nino, kekeringan, gagal panen, saya ingin hadir dan ikut merasakan perjuangan petani. Begitu juga saat panen raya, kebahagiaan itu harus kita rasakan bersama," tambahnya.
Sebagai Anggota Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, kelautan dan perikanan, kehutanan, serta pangan, Prof. Rokhmin menyebut dirinya terus mengawal agar program pemerintah pusat benar-benar sampai ke petani.
Salah satu yang berhasil diperjuangkan adalah bantuan benih gratis dari Kementerian Pertanian RI untuk sekitar 30.000 hektare lahan sawah di Kabupaten Indramayu. Langkah ini dinilai penting, mengingat Indramayu adalah salah satu lumbung beras terbesar nasional dengan produksi hampir satu juta ton.
Namun di balik capaian produksi itu, Prof. Rokhmin menyoroti paradoks yang masih terjadi.
"Indramayu merupakan salah satu daerah penghasil beras terbesar di Indonesia. Tetapi tantangan kita adalah sebagian besar petaninya masih belum sejahtera," tegas Ketua Umum Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI).
Ia menekankan, pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengejar angka produksi. Pemerintah harus memastikan ekosistem pertanian berjalan lengkap: benih dan pupuk berkualitas, jaminan air irigasi, mekanisasi, akses permodalan, adopsi teknologi, hilirisasi industri pengolahan, hingga harga panen yang menguntungkan dan kepastian pasar.
Menurut Prof. Rokhmin, tolok ukur keberhasilan pertanian bukan hanya lumbung yang penuh, melainkan meningkatnya pendapatan, daya beli, dan kesejahteraan keluarga petani itu sendiri.
"Wakil rakyat harus hadir bersama rakyat, bekerja untuk rakyat, dan memastikan setiap kebijakan benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat," pungkasnya.

Komentar