ASKARA - Tidak ada satu pun pemimpin di negeri ini yang merasakan beratnya pengkhianatan dan kekerasan politik seperti Megawati Soekarnoputri. Narasi itu yang menguat dalam sebuah video viral yang menggambarkan perjalanan politik Ketua Umum PDI Perjuangan tersebut.
Video itu mengingatkan kembali bahwa pengkhianatan bukan hal baru bagi Megawati. Ia disebut sebagai sosok yang banyak membuka jalan bagi lahirnya calon-calon pemimpin nasional. Namun setelah mereka berhasil, justru berbalik mengkhianatinya.
Tak hanya pengkhianatan, kekerasan politik yang dialami Megawati dinilai paling lengkap. Ia menyaksikan langsung ayahnya, Presiden pertama RI Bung Karno, digulingkan melalui Supersemar.
Penderitaannya berlanjut. Megawati dilarang melanjutkan kuliah hingga gagal meraih gelar sarjana dan terpaksa mengubur mimpinya menjadi seorang peneliti. Bahkan, seluruh keluarga besar Bung Karno ikut dikucilkan selama rezim Orde Baru hingga kesulitan mendapatkan pekerjaan.
"Jika ada sosok pemimpin yang berhak marah atas semua pengkhianatan dan kekerasan politik yang dialaminya, maka Megawati menjadi salah satu di antaranya," demikian narasi dalam video, dikutip akun tiktok moncongputihofficial, Selasa (27/10).
Namun yang menarik, Megawati digambarkan memilih jalan berbeda. Ia disebut ridha dan ikhlas atas takdir sejarah. Hatinya digambarkan seluas samudera dan tidak keruh. Ia tidak marah, tidak kecewa, apalagi membalas dendam atas ketidakadilan yang dialami bertahun-tahun.
Dalam filosofi hidupnya, Megawati disebut tidak pernah mengenal kata kalah.
"Megawati dalam hidup ini sejati-jatinya tidak pernah kalah, ia hanya berada di antara kemenangan atau ia sedang belajar," lanjut narasi itu.
Saat dikhianati, ia justru belajar memahami bahwa sifat, karakter, dan ambisi bisa mengubah seseorang. Sosok yang terlihat polos bisa berubah menjadi monster menakutkan demi mempertahankan kekuasaan.
Saat disakiti berkali-kali bersama keluarganya, ia memilih tidak mewariskan luka kepada generasi berikutnya.
Menjelang usianya yang akan menginjak 80 tahun pada 23 Januari 2027 mendatang, Megawati disebut tetap sehat, bugar, dan kuat. Pikiran dan hatinya tetap jernih, dan sikap teguhnya dinilai menjadi teladan pemimpin ideal.
Kini, ia masih teguh membimbing kader-kader PDI Perjuangan untuk terus berjuang demi kesejahteraan wong cilik.
Tacit Knowledge, Penjaga Pancasila, dan Ibu Persatuan
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS memiliki satu kesimpulan yang ia pegang teguh tentang sosok Megawati Soekarnoputri.
Selama lebih dari dua dekade mengenal dekat Megawati Soekarnoputri, dari kursi Menteri Kelautan dan Perikanan di Kabinet Gotong Royong 2001-2004 hingga kini sebagai Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Rokhmin menegaskan, Megawati itu pemimpin yang diam tapi dalam — tacit knowledge-nya kuat, tahan banting di krisis, penjaga ideologi, dan selalu menempatkan persaudaraan bangsa di atas kepentingan partai.
Ungkapan itu bukan sekadar pujian. Prof. Rokhmin menjelaskannya dengan argumentasi akademik saat Universitas Pertahanan (Unhan) menganugerahkan gelar Profesor Kehormatan Ilmu Pertahanan Bidang Kepemimpinan Strategis kepada Megawati.
Tacit Knowledge yang Tidak Ada Dibuku
Ada tiga alasan utama mengapa para guru besar dari dalam dan luar negeri — dari IPB, UI, Jepang, Korea Selatan, hingga Perancis — merekomendasikan Megawati. Alasan pertama adalah penguasaan tacit knowledge.
"Megawati dianggap memiliki dan menguasai tacit knowledge (pemikiran mendalam dan spesifik) tentang Ilmu Pertahanan, khususnya bidang kepemimpinan strategis," ujar Rokhmin.
Pengetahuan itu, lanjutnya, bukan teori di atas kertas. Ia sudah diaplikasikan dalam berbagai peran publik, yakni saat Megawati menjabat tiga periode anggota DPR mulai 1984 hingga 1999, saat menjabat Wakil Presiden pada tahun 1999-2001, dan saat menjadi Presiden pada tahun 2001-2004.
"Plus saat menjadi Ketua Umum PDI Perjuangan sejak 1999 hingga saat ini. Tacit knowledge ini bila diajarkan dan dibukukan bisa menjadi explicit or empirical knowledge yang sangat berguna bagi peradaban manusia," kata Prof. Rokhmin.
Tahan Banting di Krisis Multidimensi
Alasan kedua yang membuat Prof. Rokhmin sangat hormat adalah ketahanan Megawati menghadapi krisis. Rektor Unhan Laksamana Madya TNI Amarulla Octavian mencatat, pada 2001-2004, Indonesia dihantam konflik multidimensi.
Di tangan Megawati, konflik Ambon dan Poso berhasil dituntaskan, pariwisata bangkit pasca Bom Bali, dan persoalan TKI di Malaysia tertangani. Bahkan sejak awal pemerintahannya Juli 2001, Megawati telah menetapkan kelautan dan perikanan sebagai prioritas pembangunan, yang kemudian melahirkan Gerbang Mina Bahari.
"Diamnya Megawati bukan pasif. Di dalam diam itu ada perhitungan strategis yang matang," ujar Prof. Rokhmin menggambarkan.
Penjaga Ideologi dan Ibu Bangsa
Alasan ketiga adalah peran Megawati sebagai role model dan penjaga Pancasila.
"Para guru besar menilai kiprah Megawati dapat menjadi motivasi bagi generasi muda penerus bangsa untuk senantiasa berprestasi. Generasi muda menyumbangkan kemampuan terbaiknya bagi kemajuan, kesejahteraan, dan kedaulatan bangsa," katanya.
Bagi Prof. Rokhmin, Megawati adalah sosok yang teguh memegang nilai-nilai Bung Karno, penggali Pancasila. Ia tidak mudah bergeser meski diterpa badai politik.
Persaudaraan di Atas Partai
Puncaknya terlihat pada 9 September 2026 lalu. Saat mewakili Megawati di HUT ke-25 Partai Demokrat di Indonesia Arena Senayan, Rokhmin membawa pesan khusus.
"PDI Perjuangan dan Partai Demokrat mungkin pernah berkompetisi secara ketat, tetapi kami adalah saudara sebangsa. Karena itu, Ibu Megawati menitipkan salam persaudaraan, salam kebangsaan," katanya.
Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Wapres Gibran Rakabuming Raka, SBY, dan AHY, Prof. Rokhmin menegaskan pesan Megawati yang paling dalam:
"Perbedaan pilihan politik adalah keniscayaan dalam demokrasi. Tetapi persatuan nasional, kepentingan rakyat, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus menjadi kepentingan bersama."
Bagi Prof. Rokhmin, itulah inti dari sosok Megawati yang ia kenal selama puluhan tahun: seorang pemimpin yang tidak banyak bicara, tapi ketika bicara, yang dijaga adalah rumah besar Indonesia.
"Yang kita butuhkan adalah politik yang tetap kompetitif, tetapi tidak kehilangan persaudaraan. Berbeda pilihan boleh, berbeda kepentingan politik boleh, tetapi Indonesia harus tetap menjadi rumah bersama," tegasnya.