Senin, 27 Juli 2026 | 19:33
NEWS

Prof. Rokhmin Dahuri di TERA Batch 8: Jaga Mangrove Bukan Sekadar Tanam, Tapi Selamatkan Masa Depan

Prof. Rokhmin Dahuri di TERA Batch 8: Jaga Mangrove Bukan Sekadar Tanam, Tapi Selamatkan Masa Depan
Prof. Rokhmin Dahuri (cc tvri)

ASKARA – Peringatan Hari Mangrove Sedunia atau World Mangrove Day 2026 dirayakan dengan aksi nyata di pesisir Indramayu. Bertajuk “Aksi Kolaborasi Menjaga Bumi, Selamatkan Generasi”, TERA Batch 8 Mangrove for Earth Festival sukses digelar pada Minggu, 26 Juli 2026.

Hadir sebagai tokoh utama, Guru Besar Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan IPB yang juga Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh inisiator gerakan pemulihan ekosistem ini.

Apresiasi khusus diberikan kepada Cyintia Dian Astuti selaku Direktur PT. Arunika Bumi Lestari (ABL) sekaligus Founder TERA, serta kolaborator kunci seperti Direktur PT. Earthcore Indonesia Erdonis Erdwan, Direktur PT. HBB Pressolind Achmad Fauzi, jajaran pemerintah Kecamatan Pasekan dan Desa Pabean Ilir, Yayasan Mandiri Hijau Lestari, Earth Pledge Australia, Triputra Agro Persada, Kelompok Tani Jaya Mandiri, hingga Gen-Z Echopore Indonesia.

“TERA atau Take Environmental Regenerative Action adalah gerakan mulia untuk memulihkan ekosistem alam yang rusak, khususnya mangrove, agar tetap lestari dan produktif,” ujar Prof. Rokhmin di hadapan peserta festival.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Rokhmin menegaskan, tantangan Indonesia hari ini bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, pengangguran dan kemiskinan, tapi juga krisis lingkungan yang mengancam keberlanjutan hidup.

Menurutnya, mangrove memiliki fungsi yang tidak tergantikan.

“Mangrove adalah benteng alami pesisir. Akarnya menahan abrasi, gelombang, banjir rob, dan intrusi air laut. Ia menangkap lumpur, menstabilkan garis pantai, bahkan bisa memperluas daratan secara alami. Ini adalah nature-based solutions yang paling murah dan efektif,” tegasnya.

Lebih dari itu, mangrove adalah jantungnya produktivitas laut. Lebih dari 80% biota laut tropis seperti ikan, udang, kepiting dan kerang, menjadikan mangrove sebagai spawning ground (tempat memijah), nursery ground (tempat asuh), dan feeding ground (tempat cari makan).

“Kalau mangrovenya rusak, jangan heran stok ikan dan udang menipis, nelayan merugi, dan ketahanan pangan pesisir runtuh,” tambahnya.

Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini juga menyoroti peran vital mangrove dalam krisis iklim. Sebagai ekosistem blue carbon, kemampuan mangrove menyerap dan menyimpan karbon mencapai empat kali lebih besar dibandingkan hutan di daratan.

“Menanam mangrove bukan sekadar penghijauan. Ini adalah aksi mitigasi perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati, dan investasi ekonomi masa depan,” jelasnya.

Jangan Hanya Hitung Jumlah Bibit!

Di akhir sambutannya, Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001-2004 ini memberikan catatan kritis. Ia berharap gerakan mangrovisasi tidak terjebak pada seremonial.

“Keberhasilan mangrove jangan hanya diukur dari berapa ribu bibit yang ditanam. Tapi lihat berapa yang hidup, berapa luas ekosistem yang benar-benar pulih, apakah ikannya kembali, abrasinya berkurang, dan apakah ekonomi masyarakatnya naik,” pesan Prof. Rokhmin.

Ia menekankan pentingnya continuity and sustainability – pemeliharaan, pemantauan, evaluasi, serta penerapan ilmu pengetahuan. Pemilihan jenis mangrove harus sesuai pasang surut, salinitas, dan substrat, serta wajib melibatkan kearifan lokal dan partisipasi warga sejak awal.

“Ekonomi dan ekologi harus harmonis. Pembangunan tidak boleh hanya untuk hari ini, tapi harus menjamin keselamatan dan kesejahteraan generasi mendatang. Mangrove lestari, perikanan produktif, masyarakat pesisir sejahtera,” tutupnya.

Selamat untuk TERA Batch 8.

Komentar