Minggu, 25 Oktober 2026 | 23:14
NEWS

Yudhie Haryono: Di Mana Takdir Negeri Nusantara?

Yudhie Haryono: Di Mana Takdir Negeri Nusantara?
Karikatur Yudhie Haryono (Dok Askara)

ASKARA - Di tengah derasnya perubahan zaman dan semakin kuatnya pengaruh kapitalisme global, pertanyaan tentang arah masa depan Indonesia kembali mengemuka. Presidium Forum Negarawan Yudhie Haryono mengajak masyarakat menengok kembali jati diri Nusantara dan menemukan “arus balik” untuk mengukuhkan kedaulatan Indonesia.

Gagasan itu dituangkan Yudhie dalam tulisan bertajuk “Di Mana Takdir Negeri Nusantara”. Ia mengawali refleksinya dengan fenomena munculnya kembali kisah, cerpen, dan novel tentang Nusantara, termasuk imajinasi mengenai kejayaan peradaban masa lalu.

Namun, di balik romantisme tentang masa lalu tersebut, Yudhie mengajukan pertanyaan sederhana sekaligus mendasar: apakah anak-anak Indonesia hari ini benar-benar mengenal Nusantara?

Menurutnya, istilah Nusantara berasal dari bahasa Kawi, yakni nusa yang berarti pulau dan antara yang bermakna terpisahkan. Dalam pengertian sederhana, Nusantara menggambarkan negeri kepulauan yang terdiri atas ribuan pulau yang dipersatukan oleh lautan.

Dalam sejarah Indonesia, istilah Nusantara tercatat dalam Negarakertagama untuk menggambarkan wilayah dan konsep kenegaraan pada masa Majapahit. Bagi Yudhie, warisan tersebut menunjukkan adanya gagasan besar tentang sebuah peradaban yang pernah tumbuh di kawasan kepulauan Indonesia.

Namun, ia melihat kondisi Nusantara hari ini menghadapi tantangan yang tidak ringan.

“Kini, ia tak baik-baik saja. Karenanya, mari perbaiki lewat pertempuran dengan sederhana. Dengan kalimat dan buku yang tak sempat dibaca dan dicetak karena mantra dan mukjizat tak lagi ada,” tulis Yudhie, Minggu (25/10/2026).

Bagi Yudhie, perjuangan menjaga masa depan Indonesia tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar. Gagasan, tulisan, buku, dan keberanian berbagi kegelisahan tentang kondisi bangsa juga dapat menjadi bagian dari perjuangan kebangsaan.

Ia mengaitkan refleksi tersebut dengan persoalan kemanusiaan yang terjadi di tengah masyarakat. Menurutnya, krisis yang berkepanjangan telah meninggalkan kesepian dan tekanan yang tidak sedikit.

“Ketika banyak kawan mati bunuh diri dalam kesepian dan kekejaman krisis tiada henti, mari berbagi resah dan kejeniusan semesta yang luput diketik para nabi di kitab suci,” tulisnya.

Yudhie kemudian menggambarkan Indonesia sebagai sebuah kitab yang sangat tebal, asing, penuh teka-teki dan tidak mudah dipahami hanya dalam waktu singkat.

“Negeri kita bagai kitab suci. Tebal, asing, enigmatis dan tak mudah dibaca selesai dalam satu hari sampai mengerti makna semuanya,” katanya.

Kritik terhadap Kapitalisme Global

Dari refleksi mengenai Nusantara, Yudhie kemudian mengarahkan kritiknya pada kapitalisme global yang menurutnya semakin kuat seiring perkembangan teknologi informasi dan media sosial.

Ia menyebut kapitalisme global sebagai “kitab suci terbaru” yang memiliki teologi neoliberal.

Menurut Yudhie, perkembangan teknologi informasi dan media sosial telah membuat gagasan-gagasan tersebut semakin mudah menyebar dan memengaruhi kehidupan masyarakat.

Persoalannya, kata dia, ketika perkembangan tersebut bergerak tanpa pijakan moral, etika, kemanusiaan dan kesadaran terhadap semesta, masyarakat berpotensi kehilangan orientasi nilai.

Yudhie menggambarkan isi dari apa yang ia sebut sebagai “kitab” kapitalisme global tersebut melalui lima kata: keserakahan, ketamakan, kerakusan, ketidakterbatasan dan ketidakadilan.

Ia menilai semakin banyak warga negara yang tanpa sadar membaca dan menjalankan logika tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Yudhie, kondisi itu berhadapan dengan nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa Indonesia.

“Dan, itu semua melawan kodrat Nusantara, mengkhianati Indonesia, melupakan nilai-nilai Pancasila,” tulisnya.

Menemukan Kembali “Arus Balik Nusantara”

Di tengah situasi tersebut, Yudhie mengajak masyarakat untuk tidak kehilangan arah. Ia menyerukan perlunya menemukan kembali apa yang disebutnya sebagai “arus balik Nusantara”.

Ajakan tersebut sekaligus diarahkan kepada pemerintahan baru agar menjadikan kedaulatan bangsa dan penguatan nilai Pancasila sebagai bagian penting dalam perjalanan Indonesia ke depan.

“Bersama pemerintahan baru ini, mari temukan arus balik Nusantara. Kukuhkan daulat Indonesia. Cetak jutaan patriot Pancasila. Semaikan milyaran kurikulum Atlantik. Indonesia akan jaya,” tulisnya.

Refleksi Yudhie pada akhirnya bukan sekadar romantisme terhadap kejayaan masa lalu. Ia mengajak masyarakat membaca kembali Indonesia dari akar sejarah, kebudayaan dan nilai yang diyakininya menjadi kekuatan bangsa.

Di tengah derasnya arus globalisasi, pertanyaan tentang masa depan Nusantara menjadi semakin relevan: akankah Indonesia sekadar menjadi penonton dari perubahan dunia, atau mampu menentukan sendiri arah perjalanan bangsanya?

Bagi Yudhie, jawabannya terletak pada keberanian untuk kembali membaca Indonesia, bukan hanya sebagai wilayah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, tetapi sebagai sebuah peradaban yang memiliki nilai, sejarah dan cita-cita sendiri.

 

Editor: Dar Edi Yoga

Berita Terkait