Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:07
NEWS

KP3ALA: Perjuangan ALA Bukan Baru, Bener Meriah dan Bandara Rembele Bagian dari Strategi

KP3ALA: Perjuangan ALA Bukan Baru, Bener Meriah dan Bandara Rembele Bagian dari Strategi
Ivan Tamy, Wakil Ketua KP3ALA Pusat (Dok Barack)

ASKARA - Gagasan pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) kembali mengemuka di tengah masyarakat kawasan dataran tinggi Gayo, Singkil, Subulussalam dan pedalaman Aceh Tenggara.

Wakil Ketua Komite Persiapan Pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara (KP3ALA) Pusat, Ivan Tamy, menegaskan bahwa perjuangan pembentukan ALA bukan gerakan yang baru muncul. Menurut dia, gagasan tersebut telah melalui perjalanan panjang sejak era pascakemerdekaan.

Ivan yang merupakan putra almarhum Drs. Mustafa M. Tamy, MM, mantan Bupati Aceh Tengah yang disebut sebagai salah satu penggagas perjuangan ALA, mengatakan pembentukan provinsi baru tersebut dimaksudkan sebagai pemekaran administratif untuk mempercepat pembangunan dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.

“Perjuangan Provinsi ALA adalah perjuangan lama, bukan baru kemarin sore. Apa yang dirasakan Bupati Aceh Tengah masa itu, H. Mustafa M. Tamy, masih terus berlangsung hingga saat ini,” ujar Ivan kepada wartawan, Minggu (4/10/2026).

Ia menjelaskan, gagasan ALA telah mengalami berbagai perkembangan dan penyebutan, mulai dari Galaksi, Negeri Antara, GATS, Leuser Antara hingga Aceh Leuser Antara. Menurut Ivan, penggunaan nama Aceh tetap dipertahankan sebagai simbol persaudaraan dan bagian dari Aceh.

Ivan kemudian mengungkapkan bahwa pada Juli 2001, atas dorongan masyarakat pedalaman, Mustafa M. Tamy bersama Bupati Aceh Tenggara H. Syahbudin BP dan Bupati Aceh Singkil Makmur Syahputra melakukan pertemuan di Jakarta dengan pemerintah pusat, termasuk Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan serta Menteri Dalam Negeri saat itu.

Menurut Ivan, dari rangkaian pertemuan tersebut kemudian disusun strategi pemekaran secara bertahap.

“Pertama, Kabupaten Bener Meriah dilahirkan tahun 2003. Ini bukan kebetulan, tetapi bagian dari strategi besar agar syarat administratif pembentukan Provinsi ALA terpenuhi. Kedua, Bandara Rembele dibangun di Bener Meriah sebagai persiapan strategis konektivitas udara untuk Provinsi ALA,” katanya.

Ivan menilai sejumlah langkah pembangunan yang dahulu digagas Mustafa M. Tamy untuk membuka keterisolasian kawasan Gayo telah memberikan perubahan. Namun, ia menilai persoalan jarak dan akses pelayanan pemerintahan masih menjadi tantangan bagi masyarakat di kawasan yang selama ini disebut sebagai wilayah ALA.

Enam daerah yang dimaksud yakni Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Singkil dan Kota Subulussalam. Ivan menyebut jarak geografis menuju Banda Aceh menjadi salah satu kendala dalam memperoleh akses pelayanan pemerintahan, pendidikan dan kesehatan.

“Alokasi anggaran timpang, infrastruktur masih terbatas. Hampir 20 tahun masyarakat bersabar,” ujarnya.

Di tengah kembali menguatnya aspirasi tersebut, Ivan mengatakan KP3ALA Pusat terus melakukan konsolidasi, antara lain di Medan dan Jakarta. Ia juga menyebut pihaknya telah memperoleh dukungan dari Komite I DPD RI serta mengklaim dokumen persyaratan pembentukan ALA telah disiapkan secara administratif dan akademis.

Bagi Ivan, perjuangan pembentukan ALA tidak semata-mata berbicara tentang lahirnya sebuah provinsi baru, tetapi juga tentang upaya mendekatkan pusat pemerintahan dengan masyarakat di wilayah yang secara geografis berjauhan.

“Bener Meriah adalah anak kandung perjuangan ALA. Lahir dari rahim ALA, dibesarkan untuk ALA. Bandara sudah ada, kabupaten sudah ada, tinggal provinsinya kita lahirkan,” kata Ivan.

Ia pun menyerukan masyarakat Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Bener Meriah, Singkil dan Subulussalam untuk terus menyampaikan aspirasi pembentukan ALA melalui jalur konstitusional.

“Sudah saatnya warga ALA berada di barisan terdepan memperjuangkan aspirasi ini,” pungkasnya.

 

Editor: Caecilia Eersta

Berita Terkait