Dari Albany Shellfish Hatchery Australia untuk Indonesia Emas: Prof. Rokhmin Dahuri Temukan Pelajaran Blue Food Kelas Dunia
ASKARA – Di sebuah fasilitas modern di pesisir selatan Western Australia, masa depan pangan dunia sedang dibenihkan. Itulah yang disaksikan langsung Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., saat mengunjungi Albany Shellfish Hatchery.
Kunjungan ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ini adalah pembuktian nyata bagaimana sains, teknologi, dan manajemen modern mengubah laut menjadi mesin kesejahteraan.
Beroperasi sejak 2017, Albany Shellfish Hatchery telah menjadi tulang punggung industri budidaya kerang di Australia Barat. Dari sinilah benih-benih unggul oyster, scallop, dan mussel - kerang hijau - diproduksi dengan kualitas terbaik untuk memasok seluruh usaha pembesaran di Australia, dengan keuntungan besar yang berkelanjutan.
Yang membuat Prof. Rokhmin terpukau bukanlah skala bangunannya, melainkan presisi ilmunya. "Semua terukur dan berbasis sains. Mulai dari pengelolaan kualitas air, kultur mikroalga sebagai pakan alami, pembenihan, biosecurity yang sangat ketat, hingga monitoring digital dan standar produksi kelas dunia," ujar Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini, dalam rilisnya, Rabu (26/8).
Baginya, inilah esensi yang selama puluhan tahun ia perjuangkan melalui paradigma Blue Economy.
"Keberhasilan akuakultur tidak ditentukan oleh seberapa besar potensi sumber daya alam kita. Australia membuktikan, penentunya adalah kemampuan mengubah potensi menjadi produktivitas, nilai tambah, lapangan kerja, dan kesejahteraan. Kuncinya adalah penguasaan IPTEK, SDM unggul, inovasi, investasi, dan tata kelola," tegasnya.

Pelajaran Mahal untuk Raksasa yang Tertidur
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan biodiversitas laut terkaya. Modal alam kita jauh di atas Australia. Namun, menurut Prof. Rokhmin, modal itu tidak akan pernah otomatis menjadi kemakmuran.
Indonesia masih terjebak dalam resource-based economy. Sementara Albany sudah melompat jauh ke innovation and knowledge-based economy.
Untuk menjadi raksasa Blue Food dunia, Indonesia harus membangun sistem industri yang utuh dari hulu ke hilir: hatchery benih berkualitas, teknologi budidaya yang produktif dan ramah lingkungan, pakan yang efisien, pengendalian penyakit, digitalisasi, hilirisasi produk, cold chain yang kuat, hingga akses pasar global.
"Blue Economy bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi dari laut. Blue Economy adalah memastikan setiap aktivitas ekonomi dari laut menghasilkan kesejahteraan manusia sekaligus menjaga kesehatan dan keberlanjutan ekosistemnya," tambah tokoh yang dijuluki Bapak Blue Economy Indonesia itu.

Bukan Menyalin, Tapi Mengadaptasi
Prof. Rokhmin menekankan, kunjungan seperti ini membuka jalan kolaborasi internasional. Indonesia tidak perlu menyalin mentah-mentah sistem Australia.
"Tugas kita adalah mengambil best practices, teknologi, kultur inovasi, dan sistem manajemen yang terbukti berhasil, lalu kita kembangkan sesuai dengan karakteristik ekologis, sosial, dan ekonomi Indonesia yang unik," jelas Menteri Kelautan dan Perikanan 2001 - 2004 itu.
Dengan transformasi tersebut, akuakultur bukan lagi sekadar budidaya ikan. Ia akan menjadi instrumen strategis untuk ketahanan pangan dan gizi nasional, pengentasan kemiskinan pesisir, pencipta lapangan kerja baru, penambah devisa ekspor, dan motor pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa.
Pesan terakhirnya sangat jelas: "Dengan potensi kelautan yang kita miliki, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar atau pemasok bahan mentah dunia. Indonesia harus tampil sebagai kekuatan utama industri perikanan, akuakultur, Blue Food, dan Blue Economy dunia. Laut yang sehat, industri yang maju, dan masyarakat pesisir yang sejahtera adalah fondasi menuju Indonesia Emas 2045."

Komentar