Rabu, 26 Agustus 2026 | 12:18
Editorial

Muktamar 35 NU: Ketika Bakso Menjadi Bahasa Persaudaraan

Muktamar 35 NU: Ketika Bakso Menjadi Bahasa Persaudaraan
Ilustrasi

ASKARA - Sepuluh ribu mangkuk bakso, sepuluh ribu sajian kopi dan telur hangat, ambulans, tenaga medis, hingga personel pengamanan disiapkan menjelang Muktamar ke 35 Nahdlatul Ulama di Jombang. Namun, yang membuat persiapan itu menarik bukan semata jumlah pelayanan yang tersedia. Di balik semua itu, ada Muhammadiyah yang membuka tangan untuk membantu menyukseskan hajatan besar saudaranya, Nahdlatul Ulama.

Di Pasar Ngrawan, Kecamatan Tembelang, Jombang, Senin, 24 Agustus 2026, semangat itu menemukan bentuknya. Bupati Jombang Warsubi meresmikan Posko Ramah Muktamirin yang menjadi bagian dari persiapan menyambut Muktamar ke 35 NU. Sejumlah tokoh hadir dalam peluncuran tersebut, termasuk Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Prof Dr dr Sukadiono dan Ketua Panitia Lokal Muktamar KH Abdurrozaq Sholeh. Kehadiran berbagai unsur masyarakat di tempat yang sama menghadirkan sebuah pemandangan yang sederhana, tetapi menyimpan pesan besar tentang kebersamaan.

Muhammadiyah tidak datang sebagai penonton. Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jombang bahkan membentuk kepanitiaan khusus untuk ikut menyukseskan Muktamar yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas pada 27 sampai 31 Agustus 2026. Sejumlah titik pelayanan disiapkan agar peserta dan penggembira Muktamar yang datang dari berbagai daerah dapat beristirahat dan memperoleh bantuan. Salah satu posko yang disiapkan berada di Desa Mojokrapak, Tembelang, tidak jauh dari lokasi Muktamar.

Di sana, pelayanan dirancang dengan cara yang sangat membumi. Sepuluh ribu mangkuk bakso disiapkan secara gratis. Muhammadiyah juga menyiapkan sepuluh ribu sajian kopi dan telur hangat untuk para pengunjung. Bagi sebagian orang, bakso mungkin sekadar makanan yang akrab di lidah masyarakat Indonesia. Namun dalam peristiwa ini, semangkuk bakso berubah menjadi bahasa yang lebih luas, bahasa pelayanan, keramahan, dan kesediaan untuk berbagi kepada siapa pun yang datang.

Kekuatan sebuah persaudaraan memang sering kali justru terlihat dalam hal hal sederhana. Tidak selalu melalui pernyataan panjang atau seremoni besar. Kadang ia hadir ketika seseorang menyediakan tempat untuk beristirahat. Kadang tampak dalam segelas minuman hangat. Kadang pula muncul ketika sekelompok orang bersedia bekerja sejak pagi demi memastikan tamu yang tidak mereka kenal dapat merasa nyaman. Muktamar NU di Jombang menjelang akhir Agustus 2026 menghadirkan salah satu contoh tentang bagaimana nilai besar dapat diterjemahkan melalui tindakan yang sangat konkret.

Pelayanan yang disiapkan Muhammadiyah juga tidak berhenti pada urusan konsumsi. Dukungan kesehatan diperkuat melalui kesiapsiagaan ambulans dan tenaga medis. Sejumlah rumah sakit Muhammadiyah di Jombang turut mendukung layanan kesehatan di posko. Dalam sebuah kegiatan yang diperkirakan menghadirkan banyak peserta dan penggembira, kesiapan medis menjadi bagian penting dari pelayanan. Pertolongan pertama, penanganan keadaan darurat, hingga koordinasi dengan layanan kesehatan lain harus berjalan tanpa membedakan dari organisasi mana seseorang berasal.

Pada sektor keamanan, dukungan juga disiapkan. Sekitar 100 hingga 200 personel Kokam direncanakan membantu menjaga kelancaran kegiatan bersama Banser, Pagar Nusa, serta aparat TNI dan Polri. Mereka ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar bersama menjaga kondusivitas dan membantu kelancaran arus lalu lintas di kawasan Muktamar. Pemandangan ini menarik karena memperlihatkan bahwa keamanan sebuah kegiatan besar dapat menjadi ruang kolaborasi, bukan ruang untuk menonjolkan identitas masing masing.

Ketua Panitia Lokal Muktamar ke 35 NU KH Abdurrozaq Sholeh menyambut dukungan tersebut sebagai bantuan yang berarti bagi persiapan Muktamar. Baginya, kehadiran posko dan dukungan berbagai unsur masyarakat dapat meringankan pekerjaan panitia. Pernyataan itu penting karena penyelenggaraan agenda nasional sebesar Muktamar memang tidak mungkin ditopang oleh satu kelompok saja. Keberhasilan sebuah perhelatan besar selalu bergantung pada kemampuan banyak pihak untuk berbagi peran dan saling mengisi.

Sukadiono memaknai dukungan Muhammadiyah itu sebagai bagian dari tanggung jawab persaudaraan. Sebagai Ketua PWM Jawa Timur, kehadirannya dalam peluncuran posko sekaligus menegaskan bahwa dukungan tersebut bukan sekadar inisiatif kecil yang berdiri sendiri. Ada semangat yang bergerak dari tingkat wilayah hingga daerah untuk ikut menjaga kelancaran Muktamar. Sejumlah daerah Muhammadiyah di sekitar Jombang juga disebut memberikan dukungan terhadap persiapan pelayanan.

Di titik inilah cerita Jombang menjadi lebih dari sekadar kisah tentang sebuah posko. Muhammadiyah dan NU memiliki sejarah, tradisi, serta karakter organisasi yang berbeda. Keduanya mempunyai cara masing masing dalam mengembangkan pendidikan, kesehatan, dakwah, dan pelayanan sosial. Perbedaan itu nyata dan menjadi bagian dari perjalanan panjang kehidupan Islam di Indonesia. Namun perbedaan tidak selalu harus berakhir sebagai jarak, apalagi permusuhan.

Dewasa ini, masyarakat sering lebih mudah menemukan perbedaan karena ruang publik memberi tempat luas bagi perdebatan. Perbedaan pendapat dapat menyebar dalam hitungan menit, kemudian berkembang menjadi kecurigaan yang kadang tidak perlu. Karena itu, tindakan nyata memiliki daya jawab yang lebih kuat daripada sekadar slogan. Ketika warga Muhammadiyah menyiapkan pelayanan bagi peserta Muktamar NU, pesan yang muncul tidak membutuhkan penjelasan terlalu panjang. Dua organisasi dapat tetap memiliki identitas masing masing dan pada saat yang sama memilih untuk saling membantu.

Itulah barangkali pelajaran paling menarik dari Jombang. Persatuan bukan berarti semua orang harus menjadi sama. Persatuan justru diuji ketika perbedaan tetap ada, tetapi orang orang di dalamnya mampu menentukan apa yang harus dikerjakan bersama. Muhammadiyah tidak perlu menjadi NU untuk membantu Muktamar NU. NU juga tidak harus kehilangan jati dirinya ketika menerima dukungan dari Muhammadiyah. Keduanya bertemu dalam wilayah yang lebih luas, yaitu pelayanan kepada umat dan kepentingan bangsa.

Muktamar ke 35 NU sendiri merupakan forum permusyawaratan tertinggi organisasi yang mempertemukan utusan dari berbagai wilayah. Selama lima hari di Tambakberas, Jombang, berbagai agenda organisasi akan dibahas untuk menentukan arah perjalanan NU ke depan. Besarnya skala kegiatan membuat kesiapan Jombang menjadi sangat penting. Jalan, penerangan, kebersihan, transportasi, kesehatan, keamanan, tempat singgah, hingga konsumsi menjadi bagian dari pekerjaan besar yang harus diselesaikan secara bersama sama.

Pemerintah Kabupaten Jombang juga telah menyiapkan berbagai dukungan bagi kelancaran penyelenggaraan Muktamar. Posko Ramah Muktamirin yang muncul di sejumlah titik menjadi bagian dari gotong royong masyarakat. Kesiapan pelayanan kesehatan melibatkan pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, panitia, dan berbagai unsur masyarakat. Dalam suasana seperti inilah kontribusi Muhammadiyah menemukan tempatnya, bukan sebagai pihak yang berdiri di luar kegiatan, melainkan sebagai bagian dari masyarakat Jombang yang ikut memastikan para tamu dapat dilayani dengan baik.

Dari sudut pandang jurnalistik, justru fakta faktanya yang membuat peristiwa ini kuat. Ada sepuluh ribu mangkuk bakso. Ada sepuluh ribu sajian kopi dan telur hangat. Ada ambulans dan tenaga medis. Ada puluhan hingga ratusan personel pengamanan dari berbagai unsur. Semua angka itu pada akhirnya bukan sekadar statistik logistik. Di belakang setiap porsi makanan ada orang yang memasak dan mengantarkan. Di belakang setiap ambulans ada tenaga yang bersiap menghadapi keadaan darurat. Di belakang setiap posko ada relawan yang bersedia menyediakan waktu dan tenaga.

Feature tentang peristiwa ini karena itu tidak perlu terlalu banyak mengajarkan pembaca mengenai arti persaudaraan. Fakta di lapangan sudah cukup kuat untuk berbicara. Ketika sebuah organisasi yang tidak menjadi penyelenggara utama justru membentuk panitia khusus dan menyiapkan pelayanan besar bagi acara organisasi lain, pembaca dapat melihat sendiri maknanya. Persaudaraan memperoleh bentuk yang paling meyakinkan ketika ia diwujudkan dalam tindakan.

Ada nilai lain yang juga patut dicatat. Kerja sama seperti ini menunjukkan kedewasaan organisasi masyarakat. Organisasi yang besar tidak harus sibuk membuktikan dirinya paling besar. Ia dapat menunjukkan kekuatannya melalui kemampuan melayani. Identitas yang kokoh tidak merasa terancam ketika membantu pihak lain. Sebaliknya, kepercayaan diri yang sehat memungkinkan sebuah organisasi membuka ruang kerja sama tanpa kehilangan prinsip dan jati dirinya.

Bagi masyarakat luas, peristiwa di Jombang dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan bersama selalu membutuhkan lebih banyak jembatan daripada pagar. Perbedaan pandangan dan tradisi akan terus ada karena memang itulah kenyataan masyarakat yang majemuk. Yang menentukan masa depan bukan ada atau tidaknya perbedaan, melainkan bagaimana perbedaan itu dikelola. Jombang memperlihatkan satu kemungkinan, bahwa perbedaan dapat tetap hidup tanpa harus mematikan kepedulian.

Tentu, satu posko tidak serta merta menyelesaikan seluruh persoalan hubungan sosial. Namun tindakan sederhana yang dilakukan dengan sungguh sungguh dapat meninggalkan pengaruh yang panjang. Seorang muktamirin yang singgah, menikmati makanan, menerima bantuan kesehatan, atau memperoleh pertolongan saat membutuhkan mungkin tidak sedang memikirkan teori tentang hubungan antarorganisasi. Yang ia rasakan pertama kali adalah pelayanan. Dari pengalaman konkret seperti itulah kepercayaan sosial sering tumbuh.

Menjelang Muktamar ke 35 NU, Jombang pun sedang mempersiapkan lebih dari sebuah acara organisasi. Kabupaten itu sedang menerima banyak tamu dan menghadapi mobilitas masyarakat yang besar. Kesiapan seluruh unsur menjadi penentu agar kegiatan berlangsung tertib, aman, dan nyaman. Dalam kerja besar tersebut, setiap kontribusi mempunyai arti. Ada yang menyiapkan tempat, ada yang mengatur lalu lintas, ada yang menjaga keamanan, ada yang menyediakan layanan kesehatan, dan ada pula yang memasak bakso untuk ribuan orang.

Di antara semua kesibukan itu, mungkin yang paling mudah diingat adalah gambaran sederhana tentang semangkuk bakso. Makanan yang biasa dijumpai di warung pinggir jalan itu menjadi simbol yang tidak direncanakan untuk terdengar megah. Justru kesederhanaannya yang membuat pesan peristiwa ini terasa kuat. Ketika perbedaan organisasi berpotensi dibaca sebagai garis pemisah, Jombang memilih menghadirkan meja pelayanan. Ketika identitas dapat diperdebatkan tanpa akhir, para relawan memilih bekerja.

Pada akhirnya, Muktamar tentu akan melahirkan keputusan, memilih kepemimpinan, dan menentukan arah organisasi. Semua itu merupakan bagian penting dari perjalanan Nahdlatul Ulama. Namun menjelang forum tersebut, sudah ada cerita lain yang juga layak dikenang. Cerita tentang tangan yang saling membantu sebelum sidang dimulai. Cerita tentang pelayanan yang disiapkan tanpa harus menyeragamkan identitas. Cerita tentang Muhammadiyah yang ikut bekerja agar hajatan besar NU dapat berlangsung lancar.

Itulah kekuatan paling nyata dari peristiwa di Jombang. Persaudaraan tidak berhenti sebagai kata yang baik untuk diucapkan dalam pidato. Ia hadir dalam posko yang dibuka, makanan yang dibagikan, ambulans yang disiagakan, tenaga medis yang bersiap, dan relawan yang bekerja. Ketika semua itu dilakukan bersama, Jombang seolah mengirim pesan sederhana kepada Indonesia: perbedaan tidak selalu harus dipertentangkan. Kadang, ia justru menemukan makna terbaiknya ketika setiap orang tetap menjadi dirinya sendiri, lalu memilih berdiri berdampingan untuk melakukan kebaikan.

Komentar