Senin, 24 Agustus 2026 | 21:57
Editorial

Rp80 Juta, Dua Jam, dan Kejujuran Tama

Rp80 Juta, Dua Jam, dan Kejujuran Tama
Ilustrasi

ASKARA - Tangan Tama gemetar ketika membuka kantong plastik hitam yang tertinggal di motornya. Ia baru menyadari barang itu milik penumpang yang diantarnya ke rumah sakit sekitar 30 menit sebelumnya. Di dalamnya bukan pakaian atau barang biasa, melainkan uang tunai Rp80 juta. Saat itu, Tama menghadapi pilihan sederhana, tetapi berat: membawa pulang uang itu atau mencari pemiliknya yang mungkin sedang panik.


Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 5 Agustus 2021. Hari tersebut bermula seperti hari kerja lainnya bagi Tama, pengemudi ojek online di Bandar Lampung. Ia menerima pesanan untuk mengantar seorang perempuan dari kawasan Panjang menuju RSUD Dr H Abdul Moeloek, Tanjung Karang. Penumpang itu tampak tergesa-gesa dan sebelum perjalanan meminta Tama menyimpan barang bawaannya di bagian penyimpanan motor.

Tama tidak bertanya lebih jauh tentang barang tersebut. Dalam wawancara dengan detikOto, ia mengatakan tidak ingin dianggap tidak sopan karena menanyakan isi barang milik penumpang. Perjalanan kemudian berlangsung biasa. Tidak banyak percakapan di antara keduanya sampai mereka tiba di rumah sakit.

Setelah sampai, penumpang turun, membayar ongkos, lalu masuk ke rumah sakit. Tama kemudian melanjutkan pekerjaannya. Ia kembali mencari penumpang lain, seperti yang biasa dilakukan pengemudi ojek online setelah menyelesaikan satu perjalanan.

Sekitar setengah jam kemudian, Tama hendak menyimpan helm ke bagian penyimpanan motornya. Saat itulah ia melihat kembali kantong plastik yang sebelumnya dititipkan penumpang. Ia baru menyadari bahwa barang tersebut masih berada di motornya.

Kantong itu kemudian dibuka.

Tama menemukan uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Enam bundel pecahan Rp100 ribu bernilai Rp60 juta dan empat bundel pecahan Rp50 ribu bernilai Rp20 juta. Totalnya Rp80 juta.

Dalam keterangannya kepada detikOto, Tama menggambarkan dirinya terkejut dan gemetar ketika mengetahui isi kantong tersebut. Ia tidak menyangka barang yang sejak tadi berada di motornya ternyata menyimpan uang sebanyak itu.

Pada titik itu, Tama belum mengetahui bagaimana cara menghubungi pemiliknya. Pesanan tersebut ternyata tidak dibuat menggunakan akun penumpang sendiri. Akun itu digunakan orang lain sehingga Tama tidak memperoleh nomor telepon yang dapat langsung digunakan untuk menghubunginya.

Pilihan yang tersedia sebenarnya sederhana. Tama dapat membawa uang tersebut pulang dan menunggu sampai ada yang mencarinya. Ia juga dapat menyerahkannya kepada pihak lain. Namun, ia memilih kembali ke tempat penumpang turun.

Tama kembali menuju rumah sakit.

Masalah baru muncul di sana. Ia tidak mengetahui nama perempuan tersebut. Ia hanya mengandalkan ingatan terhadap pakaian yang dikenakannya. Pada saat yang sama, situasi rumah sakit ketika itu masih berada dalam suasana pandemi sehingga Tama tidak leluasa keluar-masuk mencari seseorang.

Ia berkeliling hampir dua jam.

Waktu yang bagi seorang pengemudi ojek online bukan sekadar waktu luang. Dua jam adalah waktu untuk menerima pesanan, mengantar penumpang, memperoleh pendapatan, kemudian melanjutkan perjalanan berikutnya. Tetapi Tama memilih menggunakan waktu itu untuk mencari seseorang yang bahkan tidak dapat ia hubungi melalui telepon.

Pencarian tersebut akhirnya menemukan titik terang. Tama bertemu dengan perempuan yang sebelumnya ia antar. Menurut keterangan Tama kepada detikOto, perempuan itu berada dalam kondisi panik. Ia bahkan telah mendatangi sejumlah pangkalan ojek online untuk mencari informasi tentang pengemudi yang membawanya ke rumah sakit.

Pertemuan itu tidak langsung diakhiri dengan penyerahan uang. Tama terlebih dahulu memastikan bahwa perempuan tersebut memang pemilik barang. Ia menanyakan apa isi kantong yang tertinggal dan berapa jumlah uang di dalamnya.

Jawaban perempuan tersebut sesuai.

Barulah Tama menyerahkan kembali seluruh uang itu. Ia juga meminta uang tersebut dihitung kembali untuk memastikan tidak ada satu lembar pun yang berkurang.

Tidak ada foto bersama untuk mengabadikan pertemuan itu. Perempuan tersebut memilih tidak menyebutkan nama dan tidak bersedia difoto. Tama kemudian hanya memotret uang yang dikembalikannya sebagai bukti.

Adegan tersebut mungkin tidak spektakuler. Tidak ada kamera televisi yang merekam ketika uang berpindah tangan. Tidak ada kerumunan orang yang menyaksikan. Tidak ada panggung tempat Tama menerima penghargaan.

Yang ada hanya seorang pengemudi, seorang penumpang, dan uang Rp80 juta yang akhirnya kembali kepada pemiliknya.

Setelah uang dikembalikan, perempuan tersebut memberikan Rp500 ribu kepada Tama sebagai tanda terima kasih. Namun Tama tidak mengambil seluruhnya. Ia hanya menerima Rp50 ribu.

Dalam keterangannya kepada detikOto, Tama mengatakan uang yang tersisa Rp450 ribu lebih dibutuhkan oleh pemiliknya dan keluarga untuk biaya pengobatan di rumah sakit. Sementara Rp50 ribu yang ia ambil dianggap sebagai pengganti sebagian kesempatan memperoleh order yang hilang selama hampir dua jam pencarian.

Kontras itu mungkin menjadi bagian paling menarik dari kisah Tama.

Di satu sisi terdapat Rp80 juta yang secara fisik berada dalam penguasaannya. Di sisi lain, setelah uang tersebut dikembalikan, ia hanya menerima Rp50 ribu dari imbalan Rp500 ribu yang diberikan pemilik.

Namun, angka-angka itu sebenarnya bukan inti persoalannya.

Yang lebih penting adalah keputusan yang dibuat Tama sebelum ada orang lain mengetahui apa yang berada di dalam kantong plastik tersebut.

Ia tidak tahu bahwa ceritanya akan menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Ia tidak tahu bahwa namanya akan diberitakan sejumlah media. Ia juga tidak tahu bahwa perusahaan tempatnya bekerja kelak akan memanggil dan memberikan penghargaan.

Pada saat mengambil keputusan, semua itu belum terjadi.

Yang ada hanya sebuah kantong plastik tertinggal dan uang Rp80 juta di dalamnya.

Beberapa hari kemudian, cerita tersebut menyebar luas setelah Tama membagikan pengalamannya melalui akun Twitter miliknya. Unggahannya mendapat ribuan respons, retweet, dan tanda suka. Media kemudian menghubungi Tama untuk mendapatkan keterangan mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Perhatian publik akhirnya membawa kisah itu ke tempat yang lebih luas. Banyak orang memberikan apresiasi karena Tama memilih mengembalikan uang tersebut. Namun, menariknya, Tama sendiri tidak menjadikan pemberitaan sebagai alasan utama tindakannya.

Dalam wawancara dengan detikOto, ia menjelaskan bahwa uang tersebut bukan haknya. Ia juga mengaku tidak ingin hidupnya kemudian dihantui kegelisahan apabila menggunakan uang milik orang lain.

Sikap tersebut membuat cerita Tama tidak berhenti pada persoalan menemukan barang yang tertinggal. Ada persoalan yang lebih mendasar tentang bagaimana seseorang menentukan batas antara kesempatan dan hak.

Kesempatan untuk memiliki sesuatu tidak selalu berarti seseorang berhak memilikinya.

Uang Rp80 juta yang tertinggal di motor Tama memang berada dalam jangkauannya. Tidak ada orang yang memegang tangannya ketika ia membuka kantong tersebut. Tidak ada pemilik yang berdiri di sampingnya ketika ia mengetahui jumlah uang itu. Tidak ada saksi yang memaksanya kembali ke rumah sakit.

Justru karena itu, keputusan untuk mencari pemiliknya menjadi penting.

Kejujuran sering kali mudah dibicarakan ketika tidak ada sesuatu yang dipertaruhkan. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, kejujuran diuji ketika seseorang memiliki kesempatan untuk melakukan sebaliknya.

Tama menghadapi kesempatan itu dalam bentuk uang tunai Rp80 juta.

Ia memilih mengembalikannya.

Penghargaan kemudian datang dari perusahaan ojek online tempatnya bekerja. Beberapa hari setelah kisah tersebut viral, Tama dipanggil ke kantor perusahaan di Bandar Lampung. Di sana ia mendapatkan sejumlah sembako sebagai bentuk apresiasi atas tindakannya.

Penghargaan tersebut mungkin tidak sebanding dengan nilai uang yang pernah berada di tangannya. Tetapi penghargaan bukanlah alasan mengapa uang itu dikembalikan.

Urutannya justru terbalik.

Tama lebih dahulu melakukan apa yang menurutnya benar. Setelah itu, orang lain mengetahui dan memberikan apresiasi.

Di situlah kekuatan kisah ini.

Ia tidak membutuhkan cerita besar tentang seorang pahlawan. Tama bukan tokoh yang sedang berdiri di atas panggung. Ia hanya seorang pengemudi ojek online yang sedang bekerja pada suatu hari di Bandar Lampung ketika seorang penumpang meninggalkan sesuatu di motornya.

Namun sebuah barang yang tertinggal mengubah perjalanan biasa itu menjadi ujian yang tidak biasa.

Selama hampir dua jam, ia kehilangan kesempatan mendapatkan order. Ia berkeliling rumah sakit dengan hanya mengandalkan ingatan terhadap pakaian seorang penumpang yang tidak dapat dihubunginya. Setelah bertemu, ia tidak langsung menyerahkan uang tanpa pemeriksaan. Ia memastikan isi dan jumlahnya terlebih dahulu.

Setelah semuanya jelas, Rp80 juta itu kembali kepada pemiliknya.

Dan ketika pemiliknya memberikan Rp500 ribu, Tama hanya membawa pulang Rp50 ribu.

Kisah ini akhirnya mengingatkan pada sesuatu yang sederhana: nilai sebuah tindakan tidak selalu ditentukan oleh besarnya penghargaan yang diterima setelahnya. Kadang-kadang, nilai sebuah keputusan justru terlihat dari apa yang seseorang lakukan ketika tidak ada seorang pun yang sedang melihat.

Tama mungkin kehilangan dua jam untuk mencari pemilik uang tersebut. Tetapi dua jam itu kemudian menjadi bagian paling berharga dari kisahnya.

Bukan karena ia menemukan Rp80 juta.

Melainkan karena ketika Rp80 juta itu berada di tangannya, ia tahu bahwa uang tersebut bukan miliknya.

Komentar