Senin, 17 Agustus 2026 | 15:21
COMMUNITY

Pengampunan Buya Hamka Melampaui Luka Kekuasaan

Pengampunan Buya Hamka Melampaui Luka Kekuasaan
Ilustrasi Buya Hamka

ASKARA - Ketika jenazah Soekarno terbujur, Hamka berdiri di hadapan orang yang pernah menahannya. Tidak ada pidato politik, tidak ada pembalasan, dan tidak ada penghukuman. Yang terdengar justru takbir dan doa. Beberapa tahun sebelumnya, Hamka menjalani penahanan dalam pusaran politik kekuasaan. Kini, ia memilih menjadi imam salat jenazah orang yang pernah memenjarakannya.

Ada peristiwa dalam sejarah yang kekuatannya bukan terletak pada kemegahan, melainkan pada kesunyian sebuah pilihan moral. Kisah Buya Hamka dan Soekarno termasuk di antaranya. Seorang ulama, sastrawan, intelektual, dan tokoh politik pernah mengalami penahanan pada masa Demokrasi Terpimpin. Namun ketika Soekarno meninggal dunia pada 1970, Hamka tidak memilih menjadikan kematian sebagai panggung pembalasan. Ia justru bersedia mengimami salat jenazahnya.

Di situlah kisah Hamka menjadi lebih besar daripada sekadar cerita tentang seorang tokoh yang pernah dipenjara. Ia berubah menjadi perenungan tentang prinsip, kekuasaan, luka batin, dan kemampuan manusia untuk tidak membiarkan pengalaman buruk menguasai seluruh hidupnya.

Hamka lahir di Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908. Ia tumbuh dalam lingkungan intelektual Islam yang kuat melalui ayahnya, Syekh Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul, salah seorang ulama pembaru terkemuka Minangkabau. Kementerian Agama mencatat Hamka sebagai sosok multitalenta: ulama, sastrawan, wartawan, pengajar, sekaligus tokoh politik yang aktif di Muhammadiyah dan Masyumi.

Menariknya, keluasan pengetahuan Hamka tidak semata-mata dibentuk oleh pendidikan formal. Ia banyak belajar secara mandiri. Filsafat, sastra, sejarah, sosiologi, politik, dan keislaman dibacanya dengan tekun. Karena itu, Hamka tumbuh bukan hanya sebagai penceramah, tetapi sebagai intelektual publik yang mampu berbicara mengenai agama sekaligus persoalan sosial dan kebangsaan.

Kementerian Agama juga mencatat bahwa Hamka pernah menjadi pegawai tinggi agama sejak 1951 sampai 1960. Posisi itu menunjukkan bahwa ia bukan sosok yang sejak awal berdiri di luar negara. Ia pernah menjadi bagian dari struktur pemerintahan. Namun perjalanan politik kemudian mempertemukannya dengan pilihan yang tidak sederhana.

Ketika aktivitas politiknya di Masyumi berhadapan dengan perubahan politik nasional, Hamka memilih mempertahankan jalan yang diyakininya. Pilihan tersebut akhirnya membawa konsekuensi berat. Pada masa Demokrasi Terpimpin, ketika pertarungan ideologi dan kekuasaan semakin tajam, Hamka ditangkap pada 27 Januari 1964.

Republika dalam tulisan yang terbit 26 Februari 2018 juga mencatat tanggal tersebut dan menggambarkan bagaimana Hamka menjalani hari-hari awal penahanan dalam kesunyian. Ia ditempatkan sebagai tahanan dalam situasi politik yang keras, terpisah dari keluarga dan lingkungan jamaah yang selama ini dekat dengannya.

Penahanan Hamka tidak berlangsung sebagai perkara kriminal biasa. Ia dituduh melakukan kegiatan yang dianggap membahayakan negara, termasuk tuduhan berkaitan dengan rencana pembunuhan Presiden Soekarno. Karena itu, istilah yang paling aman untuk menggambarkan peristiwa tersebut bukanlah bahwa Hamka “dipenjara tanpa bukti”, melainkan bahwa ia ditahan atas tuduhan politik dan subversi pada masa Demokrasi Terpimpin tanpa pernah menjalani proses peradilan yang berujung pada vonis pidana terhadap dirinya.

Pembedaan ini penting. Sejarah tidak boleh disederhanakan menjadi cerita hitam dan putih hanya demi menghasilkan kisah yang dramatis. Hamka memang mengalami penahanan. Tetapi memahami konteks politik yang melatarinya akan membuat keteladanan Hamka justru terlihat lebih kuat, karena ia tidak memerlukan pembesaran fakta untuk menunjukkan kebesaran akhlaknya.

Selama berada dalam tahanan, kehidupan Hamka berubah drastis. Ia kehilangan kebebasan, terpisah dari keluarga, dan tidak dapat menjalankan aktivitas dakwah sebagaimana sebelumnya. Namun ada sesuatu yang tidak berhasil dirampas oleh kekuasaan: kebiasaan membaca, berpikir, dan menulis.

Di ruang tahanan itulah salah satu karya terbesar Hamka berkembang menjadi lebih lengkap. Tafsir Al-Azhar yang sebelumnya telah ia mulai melalui kajian dan kuliah subuh di Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru terus ia kerjakan. Kementerian Agama mencatat bahwa materi tafsir tersebut sudah mulai diperkenalkan sejak akhir 1950-an dan dipublikasikan melalui majalah Gema Islam sejak 1962.

Penjara, dengan demikian, memiliki paradoks tersendiri dalam kehidupan Hamka. Tempat yang dimaksudkan untuk membatasi geraknya justru memberinya ruang waktu untuk memperdalam karya. Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM menyebut masa penahanan tersebut menjadi kesempatan bagi Hamka untuk menyelesaikan tafsir Al-Qur'an. Karya yang lahir dari masa getir itu kemudian menjadi salah satu warisan intelektual Islam Indonesia yang sangat berpengaruh.

Di sinilah makna keteguhan Hamka dapat dibaca secara lebih dalam. Ia tidak mengubah penderitaan menjadi alasan untuk berhenti. Ia mengubah keterbatasan menjadi kesempatan untuk berkarya.

Bagi manusia biasa, penjara adalah ruang yang mempersempit dunia. Bagi Hamka, ruang itu justru menjadi tempat memperluas perenungan. Ia tidak dapat bepergian, tetapi pikirannya terus bergerak. Ia tidak bebas berbicara di depan jamaah, tetapi ia terus berbicara melalui tulisan. Tubuhnya dibatasi, tetapi gagasannya tidak ikut dibelenggu.

Itulah salah satu alasan mengapa Tafsir Al-Azhar memiliki dimensi historis yang kuat. Kementerian Agama mencatat bahwa karya tersebut bukan hanya tafsir dalam pengertian keagamaan, tetapi juga merekam kehidupan sosial dan politik masyarakat Indonesia pada zamannya. Di dalamnya, pengalaman hidup penafsir dan realitas masyarakat berkelindan dengan penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur'an.

Namun ujian Hamka tidak berhenti ketika pintu tahanan terbuka. Ujian yang lebih tinggi justru datang ketika ia berhadapan dengan masa lalu.

Soekarno meninggal pada 21 Juni 1970. Sosok yang pernah menjadi pusat kekuasaan dan pernah menjadi bagian dari episode pahit kehidupan Hamka itu telah meninggalkan panggung dunia. Pada saat itulah muncul kisah yang terus dikenang hingga sekarang: Hamka bersedia mengimami salat jenazah Soekarno.

Sejumlah sumber sekunder menyebut bahwa sebelum wafat, Soekarno pernah menyampaikan keinginan agar Hamka bersedia mengimami salat jenazahnya. Ketika kabar wafat itu datang, Hamka memenuhi permintaan tersebut. Ia tidak menggunakan kesempatan itu untuk membuka kembali pertengkaran politik. Ia menjalankan apa yang diyakininya sebagai kewajiban seorang Muslim terhadap orang yang telah meninggal.

Di sinilah pengampunan Hamka seharusnya dipahami secara lebih matang. Memaafkan bukan berarti menyatakan bahwa seluruh keputusan masa lalu adalah benar. Memaafkan juga tidak berarti menghapus sejarah atau menghilangkan penderitaan yang pernah dialami. Pengampunan adalah keputusan untuk tidak membiarkan luka menentukan seluruh arah kehidupan seseorang.

Hamka dapat tetap memegang prinsip tanpa harus mempertahankan kebencian. Ia dapat mengingat masa lalu tanpa hidup di dalam dendam masa lalu. Ia dapat berbeda secara politik tanpa menolak kemanusiaan orang yang pernah berseberangan dengannya.

Sikap seperti itu jauh lebih sulit daripada membalas. Membalas membutuhkan kemarahan; memaafkan membutuhkan pengendalian diri. Membalas membuat seseorang merasa menang sesaat; memaafkan membutuhkan keberanian untuk melepaskan hak emosional atas dendam.

Karena itu, pengampunan Hamka bukanlah tanda kelemahan. Justru di sanalah terlihat kekuatan moralnya. Ia tidak memerlukan kematian lawannya untuk membuktikan bahwa dirinya pernah menjadi korban. Ia juga tidak membutuhkan penghinaan terhadap Soekarno untuk mempertahankan kebenaran yang diyakininya.

Kisah tersebut sekaligus mengingatkan bahwa perjuangan melawan ketidakadilan dan pengampunan merupakan dua hal yang tidak harus dipertentangkan. Seseorang dapat menolak keputusan politik yang dianggap salah, memperjuangkan prinsip, dan tetap menjaga akhlak terhadap manusia yang menjadi lawannya.

Dalam masyarakat yang mudah terpolarisasi, pelajaran itu terasa semakin relevan. Perbedaan pilihan politik sering berubah menjadi permusuhan pribadi. Kritik terhadap kebijakan berubah menjadi penghinaan terhadap manusia. Perselisihan yang semestinya selesai dalam ruang gagasan justru dibawa menjadi kebencian yang diwariskan dari satu percakapan ke percakapan berikutnya.

Hamka menawarkan jalan yang berbeda. Ia menunjukkan bahwa keteguhan prinsip tidak harus menghasilkan hati yang keras. Sebaliknya, semakin kuat seseorang memegang prinsip, semakin besar pula tuntutan untuk mengendalikan dirinya sendiri.

Kebesaran seorang manusia tidak hanya diuji ketika ia memiliki kekuasaan. Kebesaran justru tampak ketika ia berada dalam keadaan tidak berkuasa. Hamka pernah berada di balik jeruji. Ia mengalami keterbatasan dan tekanan. Tetapi ketika kesempatan untuk membalas secara moral terbuka, ia memilih tidak menjadikan dirinya tawanan kebencian.

Di sinilah sejarah memberi pelajaran yang sangat menarik. Kekuasaan mempunyai masa. Jabatan mempunyai akhir. Pemerintahan berubah. Konflik politik berganti generasi. Tetapi karya dan keteladanan dapat bertahan jauh lebih lama.

Soekarno meninggalkan sejarah besar sebagai proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia. Hamka meninggalkan warisan sebagai ulama, sastrawan, pemikir, dan penulis Tafsir Al-Azhar. Keduanya merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia, dengan seluruh kompleksitas dan perbedaan yang melekat pada perjalanan masing-masing.

Karena itu, kisah Hamka dan Soekarno tidak seharusnya dipakai untuk mempermalukan salah satu pihak atau mengagungkan pihak lainnya secara berlebihan. Nilai terpentingnya justru terletak pada bagaimana seorang manusia merespons luka yang pernah diterimanya.

Hamka tidak menghapus sejarah penahanannya. Ia tidak perlu mengatakan bahwa penderitaan itu tidak pernah terjadi. Ia hanya menolak membiarkan penderitaan tersebut mengubah dirinya menjadi manusia yang hidup dari kebencian.

Inilah akhlak mulia dalam bentuk yang paling sulit: tetap tegas tanpa menjadi kejam, tetap berprinsip tanpa menjadi pendendam, dan mampu memaafkan tanpa harus memalsukan sejarah.

Barangkali itulah sebabnya kisah Hamka tetap memiliki daya hidup setelah puluhan tahun berlalu. Dunia boleh berubah, teknologi boleh berkembang, dan pertarungan politik boleh berganti wajah. Tetapi manusia tetap menghadapi persoalan yang sama: bagaimana menjaga hati ketika diperlakukan tidak adil.

Hamka memberikan jawabannya melalui kehidupan, bukan sekadar kata-kata. Ketika kebebasannya dirampas, ia menulis. Ketika ruang geraknya dibatasi, ia memperdalam ilmu. Ketika berhadapan dengan masa lalu, ia memilih memaafkan.

Dan pada akhirnya, pengampunan itu bukan kemenangan atas Soekarno. Pengampunan itu adalah kemenangan Hamka atas dirinya sendiri.

Sebab orang yang terus memelihara dendam pada hakikatnya masih memberikan tempat bagi orang yang menyakitinya untuk menguasai kehidupan batinnya. Sebaliknya, orang yang mampu memaafkan mengambil kembali kemerdekaan itu.

Itulah warisan akhlak Buya Hamka yang paling relevan untuk zaman sekarang: perjuangkan kebenaran tanpa kehilangan kemanusiaan, pertahankan prinsip tanpa memelihara kebencian, dan ketika luka telah menjadi bagian dari sejarah, jangan biarkan luka itu menentukan siapa diri kita.

Hamka pernah kehilangan kebebasan tubuh. Tetapi ia tidak kehilangan kemerdekaan jiwanya. Dan mungkin, di situlah letak kemenangan terbesar seorang manusia.

Komentar