Jumat, 14 Agustus 2026 | 20:25
NEWS

Presiden Prabowo Klaim Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 5,4 Persen

Presiden Prabowo Klaim Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 5,4 Persen
Presiden Prabowo Subianto saat pidato di DPR. (Dok)

ASKARA-Presiden Prabowo Subianto mengklaim perekonomian Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Bahkan menurutnta capaian tersebut menjadi pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir.

Demikian Prabowo saat menyampaikan pengantar atau keterangan pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

“Ekonomi kita pada semester pertama tahun ini tumbuh tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Inflasi masih tetap terkendali. Permintaan domestik tetap kuat,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sedangkan dari sisi produksi, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 11,83 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 18,62 persen.

Prabowo menegaskan capaian tersebut cukup penting mengingat perekonomian global masih menghadapi berbagai tekanan seperti kenaikan harga energi akibat konflik, tingginya suku bunga global, tekanan terhadap nilai tukar sejumlah negara, serta ketegangan geopolitik yang berdampak pada perdagangan internasional.

Dia melanjutkan, tengah situasi global tersebut, Prabowo APBN memiliki peran penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Hingga akhir Juli 2026, pendapatan negara tercatat tumbuh 21,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, belanja negara meningkat 18,2 persen.

Peningkatan belanja tersebut katanya lagi, diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat, memperkuat pelayanan publik, sekaligus memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi nasional.

Meski belanja negara meningkat, Prabowo menegaskan pengelolaan fiskal tetap berada dalam koridor yang terkendali. Hingga akhir Juli 2026, defisit APBN tercatat hanya 0,91 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Ini adalah bukti bahwa keberpihakan kepada rakyat dapat berjalan bersama disiplin fiskal,” klaim Prabowo.

Ditegaskannya pemerintah tidak melihat pertumbuhan ekonomi dan disiplin fiskal sebagai dua pilihan yang harus dipertentangkan.

“Kita memilih keduanya. Kita tidak memilih antara membantu rakyat dan menjaga APBN. Kita melakukan keduanya,” ujar Prabowo yang juga Ketua Umum Partai Gerindra ini.

Menurut Prabowo, kombinasi kebijakan tersebut akan terus dijaga agar pertumbuhan ekonomi tetap kuat sekaligus memastikan kondisi keuangan negara tetap sehat dan berkelanjutan.(dry)

Komentar