Manfaat dan Mudarat URI
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Bahasa Indonesia kaya singkatan. Kreatifitas terbaru di semesta pendidikan tinggi Indonesia adalah URI sebagai akronim UNIVERSITAS REPUBLIK INDONESA. Nama UNIVERSITAS REPUBLIK INDONESIA muncul sebagai jawaban atas 2 masalah klasik pendidikan tinggi: mahal dan tidak terjangkau. Dengan model biaya ringan dan pembelajaran daring-hibrida, URI menargetkan pekerja, masyarakat 3T, dan lulusan yang tertahan biaya. Tapi apakah kehadiran kampus baru ini benar-benar solusi, atau justru menambah kerumitan?
MANFAAT URI
1. Memperluas akses secara masif
URI memakai sistem online + kelas mandiri. Ini memotong biaya kos, transportasi, dan waktu. Bagi buruh pabrik di Cikarang, guru honorer di Papua, atau TKI yang pulang kampung, kuliah jadi mungkin dilakukan.
2. Biaya yang masuk akal
Tidak seperti PTN badan hukum dengan UKT belasan juta, URI memposisikan diri sebagai "kampus rakyat". Tujuannya jelas: memutus stigma bahwa kuliah S1 hanya untuk orang mampu.
3. Kurikulum link and match
Fokus ke prodi terapan: Bisnis Digital, Kewirausahaan, Teknologi Informasi. Lulusan diharapkan langsung diserap industri, bukan menunggu lowongan PNS.
MUDARAT URI
1. Risiko duplikasi dan pemborosan
Indonesia sudah punya Universitas Terbuka - UT sejak 1984. UT adalah PTN, akreditasi jelas, jaringan 39 UPBJJ di seluruh Indonesia, dan biaya paling murah.
Jika URI = modelnya juga mayoritas daring dan terjangkau, maka pertanyaannya: untuk apa bikin lembaga baru yang tumpang tindih dengan yang lama ?”
Lebih bijak jika energi, anggaran, dan regulasi dipakai untuk mengembangkan UT yang sudah ada. Tambah prodi baru, kuatkan lab mitra, perbaiki LMS, dan hapus stigma. Daripada membangun sistem baru dari nol.
2. Tantangan mutu dan kepercayaan
Kampus baru harus membuktikan akreditasi, kualitas dosen, dan serapan lulusan. Tanpa jejak rekam panjang seperti UT, lulusan URI rawan dipandang sebelah mata oleh HRD dan instansi pemerintah.
3. Melemahkan ekosistem belajar
Model full online tanpa ekosistem kampus fisik bisa membuat mahasiswa kehilangan diskusi, riset, dan soft skill. Kalau pendampingan lemah, angka DO akan tinggi.
KESIMPULAN
URI lahir dari niat baik ; demokratisasi pendidikan. Itu manfaat utamanya. Tapi mudarat terbesarnya adalah *duplikasi*. Negara ini tidak kekurangan platform kuliah jarak jauh. Yang kita kekurangan adalah penguatan platform yang sudah terbukti. Jika model URI adalah Universitas Terbuka, maka langkah paling efisien adalah: perkuat UT. Berikan UT dana riset, izin buka prodi vokasi, kerja sama industri, dan kampanye nasional agar ijazahnya dihargai setara.
Mendirikan universitas baru itu mudah. Menjaga mutu dan kepercayaan publik itu yang sulit. Masalah utama pendidikan tinggi bukan soal berapa banyak nama kampus. Tapi berapa banyak anak bangsa yang benar-benar lulus, kompeten, dan sejahtera karena kampusnya.

Komentar