Praktisi Spiritual Arini Sanjaya Klarifikasi Sejarah Makam Raden Ngabehi Mertadiwangsa
ASKARA – Praktisi spiritual R.Ngt Arini Sanjaya menyampaikan klarifikasi terkait penulisan sejarah mengenai makam Raden Ngabehi Mertadiwangsa yang tercantum dalam Buku Sejarah Banyumas Edisi 1985 karya Roedjito, mantan Bupati Banyumas. Menurutnya, terdapat kekeliruan mendasar dalam buku tersebut yang perlu diluruskan demi menjaga akurasi sejarah dan silsilah keluarga.
Dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026), Arini yang mengaku sebagai keturunan langsung Raden Ngabehi Mertadiwangsa menyebut bahwa penyebutan nama makam sebagai Raden Ngabehi Winoto merupakan kesalahan penulisan yang fatal dan tidak memiliki dasar sejarah yang kuat.
"Sebagai keturunan langsung Raden Ngabehi Mertadiwangsa, saya menyatakan bahwa penjelasan dalam buku tersebut keliru. Dari tradisi keluarga yang diwariskan turun-temurun, makam yang berada di sebelah barat Makam Warga Hutama, Pesarean Warga Hutama, Dusun Kiringan, Desa Klampok, adalah makam Raden Ngabehi Mertadiwangsa, bukan Raden Ngabehi Winoto," ujar Arini.
Ia menjelaskan, keluarganya secara rutin melakukan ziarah ke makam tersebut. Tradisi itu dilakukan sejak masa neneknya, R.Ngt Sugiasih Mertaatmaja, bersama ayahnya, R. Tejo Utomo bin Raden Joko Saputra, sehingga keberadaan dan identitas makam tersebut telah terpelihara melalui tradisi keluarga.
Arini juga meluruskan perbedaan periode sejarah antara Raden Ngabehi Mertadiwangsa dan Adipati Warga Hutama. Menurutnya, Adipati Warga Hutama atau Adipati Sedo Bener merupakan Adipati Wirasaba VI yang hidup pada masa Kerajaan Pajang sekitar abad ke-16, ketika terjadi peristiwa penyerahan putrinya kepada Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir. Sementara Raden Ngabehi Mertadiwangsa hidup sekitar tahun 1800-an, sehingga terdapat selisih waktu sekitar 300 tahun.
"Karena itu tidak tepat apabila keduanya diposisikan hidup pada masa yang sama. Hubungan Raden Ngabehi Mertadiwangsa dengan Adipati Warga Hutama memang masih memiliki garis keturunan, tetapi bukan keturunan langsung, melainkan tepas darah," jelasnya.
Ia juga membantah penulisan dalam buku yang menyebut Raden Ngabehi Mertadiwangsa sebagai keturunan Tionghoa. Menurut Arini, leluhurnya merupakan seorang Jawa dan putra Patih Danurejo I atau Yudonegoro III. Jika pada generasi berikutnya terdapat keturunan yang menikah dengan warga keturunan Tionghoa, hal itu terjadi pada generasi setelahnya dan tidak mengubah asal-usul Raden Ngabehi Mertadiwangsa.
Arini menambahkan, klarifikasi tersebut telah memperoleh persetujuan dari Drs. R. Djuhartanto, cucu R. Yudo Atmodjo, yang merupakan keturunan dari Raden Joko Saputra. Ia berharap pelurusan sejarah ini dapat menjadi referensi bagi masyarakat dan peneliti agar informasi mengenai silsilah keluarga serta tokoh-tokoh Banyumas disampaikan secara akurat berdasarkan data dan tradisi keluarga yang masih terjaga.

Komentar