Rabu, 29 Juli 2026 | 22:54
NEWS

Praktisi Spiritual: Perubahan Dunia Berawal dari Benih Kesadaran dalam Diri Manusia

Praktisi Spiritual: Perubahan Dunia Berawal dari Benih Kesadaran dalam Diri Manusia
Ilustrasi perubahan dunia berawal dari benih kesadaran dalam diri manusia (Dok Askara)

ASKARA - Praktisi spiritual R. Ngt Arini Sanjaya mengajak masyarakat melakukan refleksi mendalam terhadap kondisi dunia yang dinilainya tengah dipenuhi tipu daya, intrik, kesombongan, penindasan, serta hasrat kekuasaan yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, akar dari berbagai persoalan tersebut bukan berasal dari luar, melainkan tumbuh dari "benih" yang ada dalam diri setiap manusia.

Dalam refleksi yang dibagikannya, Arini menyebut bahwa benih-benih keserakahan, manipulasi, dan angkara murka hidup di dalam diri manusia. Jika terus dipelihara, benih tersebut akan berkembang menjadi perilaku yang menyakiti sesama dan merusak tatanan kehidupan.

"Semua itu bukan berasal dari luar manusia, tetapi dari dalam diri kita sendiri. Benih itu tumbuh dalam darah, sangat kecil dan nyaris tak terlihat, namun dapat memengaruhi cara berpikir dan bertindak," ujarnya.

Untuk menjelaskan pandangannya, Arini menggunakan analogi dari alam. Ia menggambarkan bahwa tanah yang selama ribuan tahun terendam air laut tidak akan menumbuhkan benih padi atau ilalang. Namun ketika kondisi tanah berubah dan tidak lagi digenangi air asin, berbagai benih yang selama ini tersembunyi akan mulai bertunas dan menghijaukan kembali kehidupan.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi cerminan kehidupan manusia. Ketika lingkungan batin dipenuhi kemarahan, keserakahan, dan ego, benih-benih kebaikan sulit berkembang. Sebaliknya, ketika hati dibersihkan, potensi kebaikan yang selama ini tersembunyi akan tumbuh dan menghasilkan kehidupan yang bermanfaat bagi banyak orang.

Arini juga mengingatkan masyarakat agar tidak membiarkan apa yang disebutnya sebagai "golongan kiri" berkembang dalam diri. Istilah tersebut, menurutnya, bukan merujuk pada kelompok atau identitas tertentu, melainkan simbol dari segala perilaku yang melahirkan kekejaman, kebencian, penindasan, dan tindakan yang menyakiti orang lain.

"Nama bisa berubah, wajah bisa berganti, tetapi setiap tindakan yang menyakitkan sesama merupakan benih yang harus diwaspadai. Karena itu, jangan biarkan benih angkara murka tumbuh subur dalam diri," katanya.

Sebaliknya, ia mengajak setiap orang menumbuhkan "benih golongan kanan", yakni nilai-nilai kasih, kebijaksanaan, kepedulian, dan kesadaran. Menurut Arini, kedua benih tersebut selalu ada dalam diri manusia, sehingga pilihan untuk memelihara salah satunya akan menentukan arah kehidupan pribadi maupun masa depan peradaban.

Menutup refleksinya, R. Ngt Arini Sanjaya menegaskan bahwa lahirnya tatanan dunia yang lebih baik tidak dimulai dari perubahan di luar diri, melainkan dari keberanian setiap manusia untuk mengenali, membersihkan, dan menumbuhkan benih-benih kebaikan dalam hati. Dengan kesadaran itulah, dunia baru yang lebih damai, adil, dan penuh kasih diyakini dapat terwujud.

 

Komentar