Keadilan Allah
ASKARA - Tiada ladang gandum yang benar-benar bersih. Di antara bulir-bulir menguning, selalu ada lalang ikut bertumbuh.
Pemandangan itu sering membuat hati gelisah. Bukankah lalang seharusnya segera dicabut agar tidak merusak gandum?
Setali tiga wang dalam hidup. Di tengah manusia tulus, ada saja yang pilih jalan tak jujur. Aku pun pernah jatuh pada dosa macam itu.
Juga di tengah mereka yang berjuang untuk kebaikan, selalu ada yang menabur kebencian.
Tidak jarang muncul tanya di hati: Mengapa Allah seperti membiarkan semuanya itu terjadi?
Yesus tak jawab gelisah itu dengan hukuman yang segera. Sebaliknya, Ia justru ajarkan kesabaran.
Allah tak tergesa menghakimi, sebab kasih-Nya slalu beri ruang tobat bagi manusia.
Kesabaran Allah bukanlah tanda bahwa Ia biarkan kejahatan menang, melainkan bukti bahwa Ia tak pernah kehilangan harapan akan keselamatan manusia.
Kesabaran Allah bukan berarti keadilan-Nya lenyap. Akan tiba saat menuai. Akan datang waktu ketika seluruh hidup dipandang dalam terang kebenaran-Nya.
Saat itulah Allah sendiri pisahkan gandum dari lalang dengan kebijaksanaan yang tidak pernah keliru.
Keadilan-Nya selalu berjalan bersama belas kasih-Nya.
Selama musim pertumbuhan ini masih berlangsung, panggilan hidup bukanlah sibuk menghitung lalang dengan hakimi sesama.
Tugas manusia sesederhana, sekaligus menantang: tetap jadi gandum yang baik. Terus menabur kasih ketika dunia dipenuhi kebencian. Tetap memilih kejujuran ketika ketidakjujuran terasa lebih menguntungkan. Tetap setia ketika kesetiaan tampak tidak dihargai.
Air mata yang jatuh karena mempertahankan kebenaran tidak pernah sia-sia. Pengorbanan yang dilakukan dalam diam tidak pernah hilang dari ingatan-Nya. Barangkali dunia tidak selalu memberikan penghargaan, tetapi Allah tidak pernah lupa.
Janganlah kehilangan harapan, ketika melihat ketidakadilan masih tumbuh. Keadilan Allah mungkin tidak selalu datang secepat keinginan, tetapi selalu hadir tepat pada waktunya.
Sebab keadilan-Nya tidak lahir dari kemarahan, melainkan dari kasih yang sempurna; bukan untuk menghancurkan manusia, melainkan untuk menyatakan kebenaran dan menghadirkan keselamatan.
Pada akhirnya, bukan lalang yang akan menentukan masa depan ladang, melainkan gandum yang setia bertumbuh hingga musim panen tiba.
Salam Sehat, Limpah Berkat.
+ Rm Yos Bintoro, Pr.

Komentar