Praktisi Spiritual R.Ngt Arini Sanjaya: Keserakahan Modern Adalah 'Buto' Masa Kini
ASKARA - Praktisi spiritual R.Ngt Arini Sanjaya mengajak masyarakat melakukan refleksi terhadap berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia. Menurutnya, keserakahan terhadap kekuasaan dan materi merupakan gambaran nyata dari "buto" atau raksasa dalam kisah pewayangan yang kini hadir dalam wujud berbeda.
Dalam pernyataannya, Arini menilai negeri yang kaya sumber daya alam semestinya mampu menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Namun, ia mempertanyakan mengapa masih banyak persoalan yang muncul di tengah melimpahnya potensi tersebut.
"Ada apa dengan negeri ini? Negeri yang katanya subur, kayu ditancapkan pun tumbuh berbuah," ujarnya.
Ia menjelaskan, tokoh buto dalam cerita wayang bukan sekadar dongeng, melainkan simbol sifat rakus yang tetap relevan hingga saat ini. Bedanya, menurut Arini, sosok tersebut kini tidak lagi berwujud raksasa, melainkan manusia yang dikuasai ambisi terhadap kekayaan dan kepentingan kelompoknya.
"Dulu buto digambarkan memakan banyak, bahkan memakan manusia. Sekarang bentuknya berbeda. Yang terlihat adalah kerakusan terhadap proyek, kekayaan, dan segala sesuatu yang bersifat materi," katanya.
Arini juga menyinggung tokoh Rahwana dalam pewayangan sebagai simbol yang mengandung makna filosofis. Menurutnya, ukuran fisik bukanlah inti cerita, melainkan pesan moral tentang pengendalian diri dan tidak dikuasai oleh kerakusan.
Lebih lanjut, ia mengaitkan berbagai kasus besar yang mencuat di dunia dengan simbol "manusia memakan manusia", yakni ketika kepentingan pribadi mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.
Di akhir pernyataannya, Arini mengajak masyarakat untuk membangun kesadaran diri sebagai langkah awal memperbaiki keadaan.
"Perubahan harus dimulai dari kesadaran diri. Ketika manusia mampu mengendalikan keserakahan, maka kehidupan yang lebih adil dan bermartabat akan lebih mudah diwujudkan," pungkasnya, Sabtu (27/6).

Komentar