Kamis, 18 Juni 2026 | 21:44
NEWS

Pemerintah Harus Perkuat Struktur Ekonomi dan Diversifikasi Perdagangan agar Rupiah Tak Bergantung pada Dolar

Pemerintah Harus Perkuat Struktur Ekonomi dan Diversifikasi Perdagangan agar Rupiah Tak Bergantung pada Dolar
Anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad (dok KWP)

ASKARA-Penguatan nilai tukar rupiah tidak bisa dilakukan hanya melalui kebijakan moneter jangka pendek.

Untuk itu, pemerintah perlu memperbaiki struktur ekonomi nasional, memperkuat sektor manufaktur, memperluas diversifikasi perdagangan internasional agar ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat semakin berkurang.

Pernyataan tersebut disampaikan anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad, dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema “Sinergi dan Kolaborasi Bersama Menguatkan Rupiah, RI Tak Lagi Bergantung Pada Dolar” yang diselenggarakan Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bekerja sama dengan Biro Pemberitaan DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (8/6/2026).

Menurutnya dominasi dolar AS sebagai mata uang global tidak terlepas dari sejarah panjang pembentukan Amerika Serikat. Dikisahkannya pada masa awal berdirinya negara Paman Sam tersebut, pemilihan mata uang nasional sempat menjadi perdebatan sebelum akhirnya dolar dipilih melalui proses pemungutan suara yang sangat ketat.

Namun, perkembangan geopolitik dunia selama ratusan tahun, lanjutnya telah melahirkan berbagai blok dan kerja sama ekonomi baru yang membuka peluang bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk mengurangi ketergantungan pada satu mata uang dalam transaksi perdagangan internasional.

“Indonesia telah memilih rupiah sebagai mata uang nasional. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menjaga stabilitas dan memperkuat nilai tukarnya di tengah dinamika ekonomi global,” kata Kamrussamad.

Pada bagian lain, pihaknya menyoroti tren depresiasi rupiah terhadap dolar AS yang terjadi dalam dua dekade terakhir. Berdasarkan data yang dipaparkannya, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp8.000 per dolar AS pada 2004 dan melemah menjadi sekitar Rp12.000 per dolar AS pada 2014.

Pada periode berikutnya, rupiah kembali mengalami pelemahan hingga berada di kisaran Rp15.000 per dolar AS pada akhir masa pemerintahan selanjutnya.

Dari fenomena tersebut, menurutnya, tidak semata-mata disebabkan oleh faktor eksternal, melainkan juga mencerminkan perlunya pembenahan struktur ekonomi nasional.

Dijelaskannya selama sekitar 25 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga. Karena itu, kontribusi sektor industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) perlu terus ditingkatkan agar ekonomi memiliki fondasi yang lebih kuat.

“Kalau industri manufaktur berkembang, maka penciptaan lapangan kerja formal juga akan meningkat secara signifikan. Ini yang akan memperkuat daya tahan ekonomi nasional,” ujarnya.

Pihaknya menilai kebijakan hilirisasi sumber daya alam, penguatan sektor energi, ketahanan pangan, pertanian, dan perikanan merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan nilai tambah komoditas ekspor Indonesia.

Dengan demikian, Indonesia, ujarnya tidak hanya mengandalkan konsumsi domestik, tetapi juga memperoleh kontribusi lebih besar dari sektor produksi dan ekspor.

Selain itu, ia mengapresiasi berbagai kebijakan yang mendorong tumbuhnya kawasan ekonomi khusus (KEK) dalam satu dekade terakhir. Menurutnya, berbagai insentif yang diberikan di kawasan tersebut telah membantu menarik investasi dan memperkuat industri manufaktur nasional.

Dalam menghadapi ketidakpastian global, Kamrussamad juga mendorong pemerintah memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional melalui berbagai skema kerja sama bilateral maupun regional.

Dia mencontohkan kerja sama perdagangan dengan Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan yang dapat menjadi peluang untuk mengurangi dominasi dolar AS dalam transaksi ekspor-impor.

“Secara bertahap kita harus memperbesar penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada satu mata uang saja,” katanya.

Menurut Kamrussamad, kombinasi antara penguatan struktur ekonomi domestik, hilirisasi industri, peningkatan daya saing manufaktur, dan diversifikasi transaksi perdagangan internasional menjadi kunci agar rupiah lebih kuat dan Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang lebih baik di tengah gejolak global.(dry)

Komentar