Rabu, 17 Juni 2026 | 17:08
NEWS

Cahaya Adi Wibowo dan Jejak Energi Tak Kasat Mata di Dalam Rumah

Cahaya Adi Wibowo dan Jejak Energi Tak Kasat Mata di Dalam Rumah
Ilustrasi pembersihan rumah (Dok Askara)

ASKARA - Bagi sebagian orang, rumah hanyalah bangunan yang terdiri atas tembok, pintu, dan atap. Namun bagi praktisi spiritual asal Bekasi, Cahaya Adi Wibowo, setiap rumah memiliki "napas" dan jejak energi yang terbentuk dari perjalanan panjang para penghuninya.

Selama bertahun-tahun mendalami dunia spiritual, Cahaya Adi Wibowo mengaku kerap diminta membantu membersihkan rumah-rumah yang diyakini menyimpan energi negatif atau keberadaan tak kasat mata yang membuat penghuninya merasa tidak nyaman.

Menurutnya, tanda-tanda rumah yang dipenuhi energi negatif tidak selalu berupa penampakan. Sering kali gejalanya justru muncul dalam bentuk yang lebih halus, seperti suasana rumah yang terasa berat, penghuni mudah marah tanpa sebab, sering mengalami mimpi buruk, anak-anak menangis pada jam-jam tertentu, hingga tanaman yang terus-menerus mati meski dirawat dengan baik.

"Kadang bukan sosok yang terlihat, tetapi energi yang tertinggal. Ada rumah yang secara kasat mata indah, tetapi ketika memasuki bagian tertentu terasa sangat dingin, pengap, atau menghadirkan perasaan tidak nyaman. Itu yang biasanya kami baca secara batin," ujar Cahaya Adi Wibowo, Senin (15/6/2026).

Ia meyakini bahwa setiap tempat memiliki memori energi yang tersimpan selama puluhan bahkan ratusan tahun. Ada energi yang bersifat baik, namun ada pula yang menurutnya dapat mengganggu keharmonisan para penghuni rumah.

Dalam beberapa pengalaman spiritualnya, Cahaya Adi Wibowo mengaku pernah menemukan rumah yang berdiri di atas bekas lokasi tua, tanah yang pernah mengalami peristiwa tertentu, atau bangunan yang lama ditinggalkan sehingga menyisakan getaran yang berbeda.

"Alam memiliki ingatan. Benda-benda kuno, pohon besar, bahkan sudut-sudut tertentu dalam rumah kadang menyimpan resonansi energi yang tidak dapat dijelaskan secara logika biasa. Tidak semua orang bisa merasakannya, tetapi orang yang peka biasanya langsung menangkap getaran tersebut," katanya.

Dalam melakukan pembersihan, Cahaya Adi Wibowo tidak menggunakan cara-cara yang menurutnya bertentangan dengan keyakinan agama. Ia lebih mengedepankan doa, pengheningan batin, meditasi, serta membangun energi positif melalui ketulusan dan ketenangan hati.

Menurutnya, energi negatif sangat menyukai tempat yang kotor, lembab, gelap, serta rumah yang dipenuhi pertengkaran dan kebencian.

"Makhluk tak kasat mata tidak selalu mengganggu manusia. Namun energi negatif akan mudah berkembang apabila penghuninya dipenuhi kemarahan, dendam, atau jauh dari doa. Karena itu, benteng paling kuat sesungguhnya adalah hati yang bersih dan hubungan yang harmonis dengan Tuhan," ujarnya.

Cahaya Adi Wibowo juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah diliputi rasa takut berlebihan. Ia menegaskan bahwa segala sesuatu tetap berada dalam kuasa Sang Pencipta.

"Yang perlu dibersihkan bukan hanya rumah, tetapi juga batin penghuninya. Sebab rumah yang dipenuhi kasih sayang, doa, dan rasa syukur akan memancarkan cahaya yang membuat energi negatif tidak betah berdiam di dalamnya," ungkapnya.

Ia menambahkan, kearifan leluhur Nusantara sejak dahulu mengenal konsep keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia yang tidak kasat mata. Karena itu, menjaga rumah bukan sekadar membersihkan debu dan halaman, tetapi juga menjaga ucapan, pikiran, serta hubungan antaranggota keluarga.

"Rumah yang damai akan memancarkan cahaya bagi penghuninya. Sebaliknya, rumah yang dipenuhi amarah dan kebencian akan menjadi tempat yang kehilangan keseimbangannya. Di situlah pentingnya menjaga keselarasan lahir dan batin," kata Cahaya Adi Wibowo.

Baginya, membersihkan energi negatif bukanlah perkara melawan sesuatu yang menyeramkan, melainkan mengembalikan rumah kepada hakikatnya sebagai tempat bersemayamnya kedamaian, cinta, dan keberkahan.

"Ketika rumah kembali selaras, maka yang hadir bukan rasa takut, melainkan ketenangan," pungkasnya.

 

Komentar