Paus Leo XIV: Bumi Tak Akan Selamat Tanpa Keadilan Sosial
ASKARA - Paus Leo XIV menegaskan bahwa krisis iklim tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan teknologi semata. Menurutnya, persoalan lingkungan merupakan bagian dari krisis sosial-ekonomi yang lebih luas, sehingga memerlukan perhatian terhadap martabat manusia, hak asasi manusia, keadilan sosial, serta solidaritas global.
Pesan tersebut disampaikan Paus Leo XIV melalui video yang dirilis Selasa (16/6), dalam rangka Konferensi Austrian World Summit ke-10 yang berlangsung di Wina, Austria. Forum tahunan tersebut diselenggarakan oleh Schwarzenegger Climate Initiative, lembaga yang didirikan aktor sekaligus mantan Gubernur California, Arnold Schwarzenegger.
Dalam pesannya, Paus mengutip ensiklik terbarunya, Magnifica Humanitas, yang diterbitkan pada Mei 2026. Ia menekankan bahwa krisis lingkungan bukanlah persoalan yang berdiri sendiri.
«"Krisis lingkungan bukanlah masalah yang terisolasi, melainkan aspek ekologis dari krisis sosial-ekonomi kontemporer," ujar Paus Leo XIV.»
Menurut Bapa Suci, martabat yang sama bagi seluruh umat manusia serta penghormatan terhadap hak-hak dasar manusia hanya dapat diwujudkan melalui penerapan prinsip-prinsip kesejahteraan bersama, solidaritas, subsidiaritas, keadilan sosial, dan distribusi sumber daya yang adil.
Perhatian bagi Kaum Miskin
Paus Leo XIV mengingatkan bahwa kelompok miskin dan masyarakat yang paling rentan terhadap kerusakan lingkungan harus menjadi perhatian utama dalam penyusunan kebijakan global menghadapi perubahan iklim.
Ia menilai berbagai solusi teknis untuk melindungi bumi tidak akan mencapai hasil yang diharapkan apabila akar persoalan sosial dan ekonomi tidak turut diselesaikan.
Iman Mendorong Manusia Menjaga Ciptaan
Paus Leo XIV juga menggarisbawahi bahwa iman menjadi landasan penting dalam menjaga alam semesta.
Menurutnya, mereka yang meyakini bahwa dunia diciptakan oleh Tuhan dan pada dasarnya baik, memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar untuk merawat ciptaan.
Mengutip ensiklik Laudato Si' yang diterbitkan Paus Fransiskus pada 2015, Paus Leo XIV menegaskan bahwa panggilan untuk menjadi penjaga karya Tuhan merupakan bagian penting dari kehidupan yang bermoral.
Ia menambahkan bahwa berbagai agama di dunia memandang alam semesta sebagai anugerah ilahi dan mengakui kesucian kehidupan, sehingga keyakinan agama dapat memperkuat komitmen bersama dalam melindungi kehidupan dan menjaga alam.
Harapan Mengalahkan Ketakutan
Paus Leo XIV mengakui bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai ketegangan yang memunculkan kekhawatiran dan rasa takut, termasuk dalam perundingan mengenai perubahan iklim.
Ketakutan akan kehilangan kekuasaan, perubahan arah pembangunan, serta ketidakpastian hasil sering kali menghambat langkah-langkah nyata untuk menyelamatkan bumi.
Karena itu, ia menyerukan kerja sama internasional yang lebih kuat melalui multilateralisme yang kohesif dan berpandangan jauh ke depan.
"Harapan dapat menjadi kekuatan pendorong yang sangat besar," kata Paus Leo XIV.
Ia optimistis hasil Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) dapat menjadi pijakan menuju transformasi yang adil, di mana kepentingan bersama ditempatkan di atas keuntungan semata, serta model ekonomi dibangun di atas solidaritas dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Bangun Peradaban Kasih
Pada bagian akhir pesannya, Paus Leo XIV mengajak dunia untuk membangun "peradaban kasih" melalui budaya kepedulian terhadap lingkungan dan sesama manusia.
Menurutnya, cinta dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya harus kembali menjadi nilai tertinggi yang menuntun seluruh aktivitas manusia.
Paus Leo XIV berharap para peserta Austrian World Summit dapat berkontribusi dalam membangun budaya kepedulian sekaligus memperkuat peradaban kasih yang lebih manusiawi.
"Bersama-sama, kita dipanggil untuk membangun masyarakat yang lebih layak bagi martabat manusia dan lebih peduli terhadap rumah bersama kita," demikian pesan Paus Leo XIV.

Komentar