Rabu, 17 Juni 2026 | 19:52
Editorial

Demonstrasi Mahasiswa dan Tanggung Jawab Negara

Demonstrasi Mahasiswa dan Tanggung Jawab Negara
Ilustrasi demonstrasi (Dok Freepik)

ASKARA - Gelombang aksi mahasiswa yang kembali mewarnai berbagai daerah sejatinya tidak perlu disikapi secara berlebihan. Demonstrasi adalah bagian dari kehidupan demokrasi yang sehat, terlebih ketika aspirasi tersebut lahir dari kesadaran mahasiswa sebagai kelompok intelektual yang memiliki kepedulian terhadap persoalan bangsa.

Jika aksi tersebut benar-benar murni digerakkan oleh mahasiswa, maka negara semestinya melihat mereka bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai anak-anak bangsa yang tengah menyampaikan pandangan dan kritiknya. Mereka adalah adik-adik, bahkan anak-anak sendiri, yang patut dijaga keselamatannya, diawasi agar tidak terprovokasi, dan didampingi agar aspirasi dapat tersampaikan dengan tertib.

Karena itu, pendekatan keamanan yang berlebihan seharusnya dihindari. Tidak perlu ada pengerahan alat-alat yang justru dapat menimbulkan kesan konfrontatif. Apalagi penggunaan kekuatan yang berpotensi memicu benturan. Demonstrasi mahasiswa tidak seharusnya dibalas dengan rasa curiga, melainkan dengan kesabaran, komunikasi, dan pendekatan yang lebih manusiawi.

Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa mahasiswa selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa. Mereka pernah menjadi kekuatan moral yang mengawal perubahan dan mengingatkan pemerintah ketika arah kebijakan dinilai menyimpang dari kepentingan rakyat. Oleh sebab itu, suara mahasiswa tidak seharusnya dipandang sebagai musuh negara.

Namun, di sisi lain, semua pihak juga harus memastikan agar aksi mahasiswa tidak ditunggangi kepentingan lain di luar tujuan awalnya. Keterlibatan kelompok-kelompok nonmahasiswa yang memiliki agenda berbeda justru berpotensi mengubah karakter aksi dan memperbesar risiko terjadinya gesekan.

Dalam konteks itu, koordinasi dan pengaturan titik konsentrasi massa menjadi penting. Apabila diperlukan, pengalihan peserta aksi menuju kawasan yang lebih terpusat, seperti sekitar Silang Monas, dapat menjadi pilihan agar tidak terjadi penumpukan massa di banyak lokasi sekaligus yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat maupun mempersulit pengamanan.

Pada akhirnya, menjaga demokrasi bukan hanya soal menjamin kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga memastikan seluruh proses berlangsung aman, tertib, dan tanpa korban. Negara harus hadir dengan kebijaksanaan, sementara mahasiswa tetap menjaga marwah gerakan intelektual yang santun dan bertanggung jawab.

Sebab, di dalam demokrasi, perbedaan pandangan bukanlah ancaman. Ia adalah bagian dari denyut kehidupan bangsa yang harus dirawat dengan kedewasaan. Dan kepada mahasiswa, bangsa ini sesungguhnya tidak membutuhkan benteng dan tameng, melainkan ruang dialog, perhatian, serta kasih sayang sebagai sesama anak bangsa.

 

Komentar