Adab Yang Luruh Di Ruang Komentar
ASKARA - Ketika ruang digital berubah menjadi arena pelampiasan amarah, kata-kata kehilangan hikmah dan manusia kehilangan cermin dirinya. Perbedaan pendapat terhadap kebijakan negara merupakan hak warga, tetapi penghinaan, cacian, dan fitnah bukanlah kebebasan. Fenomena komentar kasar terhadap pejabat publik menunjukkan gejala yang lebih dalam: krisis adab yang perlahan menggerus akhlak bangsa dari akar hingga ke pucuknya.
Perdebatan mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah sesuatu yang wajar dalam negara demokrasi. Sebagian masyarakat mendukung, sebagian mengkritik, sebagian lagi menolak. Semua itu merupakan bagian dari dinamika kehidupan berbangsa. Kritik adalah hak rakyat. Bahkan kritik yang tajam sekalipun dapat menjadi sarana koreksi bagi penguasa agar tidak terjebak dalam kesalahan dan kesewenang-wenangan.
Namun persoalan menjadi berbeda ketika kritik berubah menjadi makian, ketika perbedaan pendapat berubah menjadi penghinaan, dan ketika argumentasi digantikan oleh umpatan. Di titik itulah yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar sebuah program pemerintah, melainkan kualitas akhlak masyarakat itu sendiri.
Komentar-komentar yang beredar di media sosial terhadap Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menunjukkan gejala tersebut. Banyak yang tidak lagi membantah data dengan data, melainkan menyerang pribadi dengan kata-kata yang kasar dan merendahkan. Sebagian bahkan mendoakan keburukan, menuduh tanpa bukti, dan melontarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan kepada sesama manusia.
Ironisnya, sebagian pelaku komentar seperti itu adalah orang-orang yang dalam kehidupan nyata mungkin dikenal sebagai ayah, ibu, kakek, nenek, atau tokoh masyarakat. Mereka mungkin akan marah apabila diperlakukan dengan kata-kata yang sama. Namun ketika berada di balik layar ponsel, seakan-akan semua batas kesantunan menghilang.
Islam mengajarkan bahwa lisan adalah amanah. Bahkan sebelum seseorang dimintai pertanggungjawaban atas hartanya, jabatannya, atau kekuasaannya, ia terlebih dahulu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang keluar dari lisannya.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar."
(QS. Al-Ahzab: 70)
Ayat ini tidak mengatakan, "Berbicaralah jika sedang senang." Tidak pula mengatakan, "Berbicaralah jika mendukung pemerintah." Yang diperintahkan adalah mengatakan perkataan yang benar. Kebenaran dalam Islam tidak cukup hanya benar isinya, tetapi juga benar cara penyampaiannya.
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka."
(QS. Al-Isra': 53)
Perhatikan bahwa Allah tidak hanya memerintahkan perkataan yang baik, tetapi perkataan yang lebih baik. Artinya, ketika ada banyak pilihan kata untuk menyampaikan kritik, seorang mukmin memilih yang paling santun, paling bermartabat, dan paling mendekatkan kepada kebenaran.
Fenomena media sosial hari ini justru memperlihatkan hal yang sebaliknya. Banyak orang merasa bebas berkata apa saja karena tidak berhadapan langsung dengan orang yang dikritiknya. Mereka lupa bahwa Allah tetap mendengar, meskipun manusia lain tidak melihat.
Allah SWT mengingatkan:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat."
(QS. Qaf: 18)
Betapa menggetarkan ayat ini. Setiap komentar, setiap unggahan, setiap kalimat yang diketik dengan jari-jari kita sesungguhnya sedang dicatat. Mungkin status itu hanya bertahan beberapa menit sebelum dihapus. Namun di sisi Allah, catatannya tetap ada.
Rasulullah SAW juga memberikan peringatan yang sangat keras mengenai lisan.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sangat relevan dengan budaya komentar saat ini. Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua kemarahan harus diumumkan. Tidak semua prasangka harus dituliskan. Terkadang diam jauh lebih mulia daripada berbicara tanpa ilmu.
Lebih jauh lagi, Rasulullah SAW menjelaskan karakter seorang mukmin sejati.
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ
"Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, berkata keji, dan berkata kotor."
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini seakan menjadi cermin bagi budaya digital masa kini. Jika seseorang begitu mudah mencaci, melaknat, menghina, dan merendahkan orang lain, maka yang perlu dipertanyakan bukanlah siapa yang ia hina, melainkan kondisi iman dan akhlaknya sendiri.
Tentu saja ini bukan berarti pejabat publik tidak boleh dikritik. Justru Islam mengajarkan amar ma'ruf nahi munkar. Para ulama sepanjang sejarah tidak sedikit yang mengoreksi penguasa. Namun mereka melakukannya dengan ilmu, adab, dan tanggung jawab.
Imam Syafi'i pernah berkata bahwa nasihat yang disampaikan di depan umum sering kali berubah menjadi penghinaan, sedangkan nasihat yang disampaikan dengan hikmah akan lebih mudah diterima. Prinsip ini menunjukkan bahwa tujuan kritik adalah perbaikan, bukan pelampiasan kebencian.
Masalah terbesar media sosial adalah hilangnya rasa malu. Banyak orang berani menulis sesuatu yang tidak akan pernah berani mereka ucapkan secara langsung. Padahal malu adalah bagian dari iman.
Rasulullah SAW bersabda:
الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
"Rasa malu adalah salah satu cabang iman."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika rasa malu hilang, kata-kata kasar menjadi biasa. Ketika rasa malu hilang, fitnah dianggap hiburan. Ketika rasa malu hilang, penghinaan dianggap keberanian.
Padahal kekuatan seseorang tidak diukur dari kerasnya suara atau tajamnya makian. Rasulullah SAW mengajarkan ukuran yang berbeda.
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
"Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Mungkin sebagian orang memang kecewa terhadap keadaan negara. Mungkin ada yang tidak percaya kepada data pemerintah. Mungkin ada yang merasa kehidupan semakin sulit. Semua perasaan itu dapat dipahami. Akan tetapi kekecewaan tidak pernah menjadi alasan untuk kehilangan akhlak.
Jika sebuah kebijakan dianggap salah, bantahlah dengan data. Jika sebuah pernyataan dianggap tidak benar, sanggahlah dengan fakta. Jika seorang pejabat dianggap keliru, koreksilah dengan argumentasi. Namun jangan biarkan kritik berubah menjadi kebencian yang menghanguskan adab.
Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukan hanya apa yang kita perjuangkan, tetapi juga bagaimana cara kita memperjuangkannya.
Bangsa ini tidak akan menjadi lebih baik hanya karena pergantian pemimpin. Bangsa ini juga tidak akan menjadi lebih baik hanya karena lahirnya kebijakan baru. Perbaikan sejati dimulai ketika masyarakat kembali menghormati nilai-nilai adab, ketika kritik disampaikan dengan ilmu, ketika perbedaan pendapat tidak berubah menjadi permusuhan, dan ketika lisan kembali dikendalikan oleh hati yang bertakwa.
Di ruang komentar media sosial, setiap orang memang memiliki hak untuk berbicara. Namun seorang mukmin selalu ingat bahwa di atas hak berbicara terdapat kewajiban menjaga adab. Sebab kelak yang ditimbang bukan seberapa banyak komentar yang kita tulis, melainkan seberapa besar pertanggungjawaban yang mampu kita berikan di hadapan Allah SWT atas setiap kata yang pernah kita ucapkan.

Komentar